Tampilkan postingan dengan label Berita karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita karo. Tampilkan semua postingan

15 September 2018

Hotel di Berastagi, Kabupaten Karo



Mikie Holiday Resort
Jalan Letjen Jamin Ginting, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156


Sinabung Hills Berastagi
Jl. Kolam Renang, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156






Hotel sibayak berastagi
Alamat: Jl. Merdeka, Gundaling I, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara 22156






 
Hotel Grand Orri Berastagi
Jl Letjend Jamin Ginting Desa Lau Gumba Berastagi Sumatera Utara, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156
Rudang Hotel & Resort Berastagi
Jl. Jamin Ginting No. 16 Berastagi , Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156




Hotel Alloyna Country Cottage
Jl. Jamin Ginting, No. 007, Sempajaya Peceren, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22152




 

30 April 2012

Jalan Medan-Berastagi Kembali Lancar


KARO- Sempat lumpuh sekitar enam jam akibat longsor di kawasan  Desa Doulu, Kecamatan  Berastagi, Rabu (25/4) lalu, kini Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan-Berastagi, kembali normal.

Curah hujan yang beberapa pekan belakangan cukup tinggi, diprediksi merupakan faktor utama penyebab bencana alam, khususnya longsoran kecil di sejumlah tempat di  Kabupaten Karo.

“Namun demikian, kita menghimbau  turis agar tidak ragu untuk melakukan kunjungan wisata.  Karena di Daerah Tujuan Wisata (DTW), tidak ada yang terkena bencana,” ujar Kadis Parsenbud Karo Dinasti Sitepu, SSos, Jumat (27/4) di ruang kerjanya kepada Sumut Pos.

Longsoran kecil di sejumlah titik di jalan lintas Medan-Berastagi, diakui Dinasti memang kerap terjadi jika curah hujan tinggi. Hal itu terjadi sehubungan kondisi alam  di arael perbukitan. Dan lokasi itu bukan hanya di Karo, melainkan juga di perbatasan Deliserdang, Dairi, Langkat dan Aceh (NAD).
“Dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan, longsoran dari bukit ke bagian Jalinsum, di Desa Doulu kemarinlah, yang terparah di wilayah Karo. Kedepannya, kami telah melakukan koordinasi dengan pihak PU, Kesbang dan berbagai pihak terkait,  untuk  antisipasi, serta penanggulangan” ungkap Dinasti.

Sementara itu, sejumlah pelaku wisata jasa penginapan dan  pedagang, mengaku mengalami   sedikit penurunan omset.  Tetapi jika jalan telah normal kembali, mereka yakin, tingkat kunjungan akan  segera pulih. (wan) sumber disini

Desa Doulu


TEPAT empat hari lalu bumi merayakan ‘’Hari Bumi’’. Aktivis lingkungan di belahan manapun merayakan perayaaan ini dengan penuh tema. Dua hari lalu saya merekam ucapan budayawan Sudjiwo Tedjo di talkshow stasiun televisi. ‘’Jangan sesekali katakan bencana, itu gejala alam mencari keseimbangan.” Di Jakarta muncul tema ‘’Bersihkan Sampah, Tegakkan Kedaulatan Pangan, Air dan Energi’, lain di Yogyakarta yang memahami keseimbangan bumi lewat tema ‘’Ekspresikan Kreasimu untuk Bumi’’ Longsor yang terjadi di Desa Doulu yang terjadi kemarin menyentak kesadaran siapapun: tema lingkungan yang kita usung sudah terlampau progresif.

Banjir bandang yang menghancurkan sejumlah desa di Tanah Karo mengingatkan masalah lingkungan di negeri ini belum menyentuh substansinya. Jika kerusakan ini bagian dari alam mencari keseimbangan, ingatlah longsor di Desa Doulu ini bukan yang pertama. Ini kedua kali alam mencari keseimbangannya setelah kejadian serupa pada tahun 2008 silam.

Walhi Sumut pernah mengingatkannya! Apa sebetulnya yang terjadi di tanah subur penghasil sayur-mayur dan buah-buahan ini? Setelah para petani tak berdaya dihantam kejamnya liberalisasi pertanian, alam juga semakin menjauh dari mereka. Alih-alih melimpah kekayaan dari hasil tanahnya, mencari keseimbangan ekonomi pun semakin sulit rasanya.

Lihatlah bagaimana petani ramai-ramai melemparkan jagung ke kantor Gubsu. Belum lagi kentang dan jeruk yang diserakkan karena tak ada harganya. Pemerintah tak punya konsep yang jelas melindungi petani. Belum pula bicara infrastruktur yang melemahkan posisi tawar dalam kompetisi pasar yang serba-cepat. Harga merosot dan alam terus mencari keseimbangannya. Dalam ketidakseimbangan ini muncullah kantong kemiskinan.

Kendati banyak pihak mengatakan kawasan perkotaan sebagai kantong kemiskinan, data BPS mempertegas pedesaan tetap kawasan terbanyak penduduk miskinnya. Saat banyak orang miskin hidup di pinggir hutan justru inilah yang mengkhawatirkan.

Tekanan terhadap kawasan hutan dan lingkungan hidup makin tinggi. Hal ini senada dengan kekhawatiran Komisi Dunia Untuk Lingkungan dan Pembangunan PBB (1988). Mereka yang miskin dan kelaparan acapkali menghancurkan lingkungan sekitarnya demi kelangsungan hidup. Mereka akan menebang hutan, ternaknya akan menggunduli padang-padang rumput, mereka akan menggunakan lahan marginal secara berlebihan.

Mereka terpaksa memanfaatkan secara berlebihan basis sumber daya yang ada demi kelangsungan hidup mereka. Sasaran paling dekat adalah hutan. Mereka belum sempat berpikir tentang lingkungan, tentang pelestarian, tentang konservasi atau tentang rehabilitasi lahan. Paling parah manakala pemerintah justru terlibat di dalamnya.

Atas nama investasi Pemkab Karo menyumbang besar atas kerusakan di hutan lindung Simpang Doulu. Ada enam hektar hutan yang dirambah. Data menyebutkan perambahan ini atas rekomendasi pimpinan DPRD Kabupaten Karo Nomor 174/168/2002 tanggal 28 Februari 2002. Ini pasti bukan soal bertahan hidup. Dan, saat ini juga alam mencari keseimbangan kembali. Entah sampai kapan berhenti. (*)

Bupati Karo Bisa Dipenjara

MEDAN- Kasus dugaan ijazah palsu Bupati Karo Kena Ukur Surbakti sepertinya akan menyeret-nyeret pihak lain.

Satu di antaranya adalah pihak Komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Karo. Selain itu, jika memang terbukti palsu, Bupati Karo pun bisa dihukum dua tahun.

Itu dikemukakan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Nuriyono saat dimintai tanggapannya terkait kasus tersebut oleh Sumut Pos, Kamis (26/4). “Jika ijazah palsu itu digunakan maka akan semakin kuat tindak pidananya. Nah harus dipertanyakan juga kepada pihak KPUD Karo, yang berwenang dalam proses verifikasi, kenapa ini bisa terjadi. Ini akan menyeret-nyeret pihak KPUD Karo. Karena ijazah itu menjadi salah satu syarat untuk maju menjadi kepala daerah,” tegas Nuriyono.

Dalam kasus dugaan ijazah palsu tersebut, sambungnya, yang diutamakan adalah harus ada laporan kasus tersebut kepada penegak hukum. Selain itu pula, yang harus digarisbawahi adalah kinerja dari penegak hukum itu sendiri yang menerima laporan kasus dugaan ijazah palsu tersebut. “Tapi tidak seketika menurunkan bupati, karena prosesnya panjang. Kalau ada laporan, kemudian diproses di kepolisian dan kemudian diselidiki baru bisa diberhentikan. Kalau tidak ada laporan, tidak bisa diproses,” katanya.

Setelah ada laporan, kasus juga kadang belum tentu langsung tuntas. “Kalau polisi tidak bergerak, 10 tahun pun tidak turun-turun. Peran serta kepolisian harus benar-benar. Karena persoalan ini akan menyeret-nyeret pihak lain, termasuk unsur KPUD setempatnya. Dan bisa dipertanyakan, kenapa ijazah palsu itu bisa lulus atau dibiarkan begitu saja,” terangnya lagi.

Menurutnya, jika benar ada laporan dan kepolisian memprosesnya secara tegas hingga ke meja kejaksaan, hanya dibutuhkan waktu selama lebih kurang enam bulan saja, untuk mengetahui kepastian benar atau tidaknya kasus tersebut.

Ketika di persidangan nantinya, terbukti benar kasus dugaan ijazah palsu tersebut, secara hukum pidana maka sanksi penjara yang dijatuhkan sekurang-kurangnya dua tahun lebih.

“Jika proses pemeriksaan berjalan lancar, enam bulan sudah bisa selesai. Enam bulan bulan bisa jadi tersangka. Kemudian ada pemberhentian sementara. Itu dikenakan pasal pemalsuan dengan sanksi di atas dua tahun penjara,” urainya.

Sementara itu, Mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Medan Hasan Basri yang dikonfirmasi mengenai kebenaran kasus tersebut, hanya menjawab sepenggal atau seadanya. “Coba cek di kantor,” jawabnya.

Sementara itu, seorang komisioner KPUD Sumut, Turunan B Gulo menegaskan ijazah minimal SMA dan sederajat adalah mutalk untuk menjadi bupati. Diketahuinya, Kena Ukur Surbakti tidak memiliki ijazah tapi hanya menggunakan surat keterangan dari Kepala Sekolah STM Negeri 1 Medan sebagai persyaratan menjadi bupati. Dari data-data tersebut hanya menjelaskan, Kena Ukur Surbakti angkatan 1968 dan tidak dijelaskan tamat yang dilampiri nilai-nilai ijazah sebagaimana lazimnya.
Dinas Pendidikan Medan maupun Sumut tidak berani membuat ketegasan apakah Kena Ukur Surbakti benar-benar tamat sekolah. Justru Kena Ukur Surbakti membuat justifikasi (pembelaan/pembenaran) dengan mengumpulkan tandatangan teman-temannya semasa sekolah dulu, yang menyatakan Kena Ukur pernah sekolah di STM Negeri 1 Medan tetapi tidak disebut apakah tamat.

Selain itu Kadisdik Medan semasa Drs Hasan Basri MM dalam suratnya tertanggal 12 Januari 2011 tegas menyatakan sesuai data di Disdik Medan Kena Ukur Surbakti tidak tercantum pada akhir tahun 1968 dari STM Negeri 1 Medan. Karena tahun 1968 Kanwil Depdikbud Sumut yang meregister dan mengeluarkan Surat Tanda Tamat Belajar atau ijazah STM Negeri 1 Medan.

Di sisi lain, Aliansi Masyarakat Karo mendatangi Polres Karo. Kedatangan sejumlah perwakilan AMK yang terdiri dari unsur pimpinan gabungan sejumlah LSM, Selasa (24/4) lalu ke Mapolres Karo tidak lain untuk memberikan berkas permohonan pemberitahuan izin aksi unjuk rasa, tertanggal 1 Mei mendatang. “Jika tidak ada penekanan disertai gerakan massa, dikhawatirkan kasus ini akan terbenam,” ujar  Direktur LSM KPKP, Ikuten Sitepu didampingi Ketua LSM Panji Demokrasi Chici Ardy kepada sejumlah wartawan.

Menurut Ikuten,  rencananya pihak AMK akan mengerahkan 300 massa untuk mendesak percepatan pengungkapan dugaan ijazah palsu yang digunakan Kena Ukur Surbakti pada pencalonan diri sebagai peserta Pemilu Kada  Karo tahun 2010 lalu.

Namun, sambung Chici, sebelum terbitnya izin dari pihak kepolisian tentang rencana demo awal bulan depan, pihaknya telah dikabari akan ada pendemo tandingan. “Kita nantikan apakah benar adanya. Jika memang ada pendemo tandingan saat ketika unjuk rasa AMK tanggal 1 Mei mendatang, maka kita persilahkan secara hormat. Ini era kebebasan berdemokrasi, pihak mana saja boleh menyuarakan aspirasinya,” kata Chici. (ari/wan) (http://www.hariansumutpos.com)

15 April 2012

OBJEK WISATA DELENG KUTU


   Anda mungkin pernah mendengar hewan kecil yang gatal bernama kutu. Nama binatang penghisap darah ini rupanya menjadi salah satu nama gunung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Persisnya di Desa Guru Singa, Kecamatan Berastagi, Gunung Kutu tidak kalah uniknya dengan sejumlah gunung populer lainnya yang berada di Tanah Karo.
Padahal gunung ini tidak setinggi Sibayak dan Sinabung, namun panorama alam yang dimilikinya cukup mempesona. Deleng Kutu, demikian masyarakat lokal menyebut gunung yang memiliki ketinggian sekitar 1.300 mpdl ini. Dilihat dari kejauhan, deleng (gunung dalam bahasa Karo) itu memang mirip kutu. Mungkin itulah sebabnya masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Kutu.

Dalam pendakian gunung yang memiliki tantangan tersendiri ini, aku bersama Esra Surbakti, Rian Ginting dan Jhon Ginting mengawali perjalanan dari sebuah desa di sekitar kaki gunung, Desa Lingga Julu. Perjalanan yang dimulai sejak sore hari itu dibayang-bayangi mendung dan kabut. Setelah beberapa puluh menit berjalan selepas Desa Lingga Julu, kami sudah menyaksikan permukaan Gunung Kutu. “Memang mirip kutu ya?” celetuk Rian sambil menunjuk ke sebuah gundukan hijau kebiruan yang masih terlihat kerdil di hadapan kami.
   Sejenak kami berhenti memandangi gunung imut itu. Sembari mengabadikan gunung, beberapa teman melototi kerumunan sapi yang sedang melahap rumput. Mungkin mereka jarang menemukan suasana seperti ini di kota, pikirku. Perjalanan dilanjutkan ke Desa Guru Singa. Di jantung kampung ini, terdapat sebuah rumah adat Karo yang kondisinya cukup memprihatinkan. Kami berupaya masuk ke rumah siwaluh jabu (delapan keluarga) itu melalui jendela yang hampir ambruk. Kondisi dalam rumah adat yang dulu dihuni delapan keluarga ini kayak kapal pecah. Di sana-sini terlihat onggokan pakaian dan barang bekas yang sudah kumuh. Menurut salah seorang warga, sejak sepuluh tahun silam rumah peninggalan nenek moyang orang Karo tersebut memang sudah kosong lantaran keluarga yang dulu menghuninya sudah pindah.
Sejak itu, tidak ada upaya Pemkab Karo mengkonservasi bangunan tradisional ini sebagai salah satu situs pariwisata yang tidak ternilai harganya. Pintu Rimba. Puas menyaksikan kehancuran siwaluh jabu, perjalanan dilanjutkan ke pintu rimba. Tapi gerimis sudah mendahului kami sebelum sampai di pintu masuk itu. Di sinilah kami ditantang memanjat betis gunung setinggi 2,5 meter. Berhasil melewati tantangan ini dengan bantuan akar pohon, kami menemukan jalur yang cukup menantang pula. Jalur pendakian ke Gunung Kutu memiliki medan yang lumayan sulit.

Betul kata sesepuh pendaki gunung, semua gunung itu unik dan memiliki medan yang tantangannya berbeda. “Jadi jangan pernah menganggap remeh sebuah petualangan,” itu pesan yang kuterima. Teman-temanku rupanya terkecoh dan masing-masing mulai memberikan penilaian baru terhadap misi pendakian ini. Sebelumnya ada kesan sepele dari mereka. “Tadi kita kira gampang, rupanya jalurnya bikin sesak napas juga ya?” kata seorang teman dengan napas memburu. Hampir mencapai puncak, kami tertipu lagi. Rupanya sebuah ketinggian yang kami temukan adalah “puncak palsu”. Meski gunung ini terlihat kecil, tapi kecil-kecil cabai rawit juga.
   Di puncak tipuan itu, kami hampir tersesat. Untunglah seorang teman buru-buru menemukan jalur yang mengarah ke kanan dan menuju puncak yang sesungguhnya. Lima menit menyusuri jalan tersebut, kami menemukan sebuah pilar yang konon didirikan oleh Belanda. Berada di puncak Gunung Kutu seperti berada di taman. Terasa asyik karena puncaknya dilengkapi tempat duduk yang terbuat dari batu. Pilar dikelilingi tempat duduk batu dan terdapat lokasi untuk mendirikan tenda. Selain itu kami menemukan sisa-sisa ranting terbakar yang berserakan. Mungkin baru saja ada orang yang membuat api unggun, pikirku. Setelah puas beristirahat di puncak, kami menembus padang ilalang setinggi 2 meter.

   Dari sana terdapat satu tempat yang cozy untuk nongkrong. Dari ketinggian itu, Kota Kabanjahe tampak berkilat-kilat di bawah. Juga terlihat permukaan Gunung Sibayak dan Sinabung, dua ikon Tanah Karo yang sudah melegenda hingga mancanegara. Sempat Terpelanting Di puncak, senja menggairahkan alam. Burung-burung tidak berhenti berkicau. Angin senja terasa lembut menyapu kulit. Kami betah berada di sini. Alam akrab menyapa dan menjadi saksi bisu sebuah persahabatan. Di gunung inilah kami abadikan persahabatan itu.
   Damai di sana, sedamai alam bila hutan dan ekosistemnya dilestarikan. Sangat disayangkan, sebagian tubuh gunung mulai ditanami penduduk. Hampir satu jam di puncak, kami kembali menuruni lereng Gunung Kutu. Karena jalannya licin, beberapa kali kami jatuh terpelanting. Tapi berkat bantuan akar-akar pohon yang tersebar di sepanjang jalur, pendakian berhasil diakhiri sekitar pukul 19.00 WIB tanpa ada yang cedera. Dari pintu rimba, rombongan kecil ini menyusuri jalan pedesaan ke Simpang Korpri selama hampir 1 jam. Simpang ini berada di Jalan Jamin Ginting yang menghubungkan Kota Kabanjahe-Berastagi. Dari sana kami menuju Kota Berastagi dan menikmati jajanan malam di kota pariwisata itu. Bagiku, ini sebuah perjalanan penuh kenangan. Tidak akan bisa kami lupakan. (insidesumara)

08 April 2012

Museum Pusaka Karo Di Berastagi



objek wisata, museum pusaka karo, museum indonesia, berastagi, tanah karo, suku karo, beriata karo, sumatera utara
   Sedikit menyesal saya karena pagi tak jadi melangkahkan kaki ke dalam Museum Pusaka Karo. Padahal jarak saya dengannya sudah sangat dekat, hanya puluhan meter saja. Tetapi karena memang waktu tidak memungkinkan lagi dan saya harus segera masuk ke mobil yang akan berangkat melanjutkan perjalanan setelah selesai jalan-jalan di Pasar buah dan bunga Berastagi, ya apa boleh buat.

Batal jadinya menengok apa isi Museum Pusaka Karo tersebut. Memang sih, setelah saya telusuri di mesin pencari, isi di dalamnya pun belum terlalu lengkap. Museum yang berada di Jalan Perwira No. 3, tepat di sebelah Tugu Perjuangan 45 Berastagi ini memiliki koleksi berbagai barang pusaka Karo. Ada beberapa foto di dalam pigura yang menggambarkan sejarah perkembangan Tanah Karo. Ada juga sebuah manuskrip berhurufkan kuno, buku-buku dan kamus Batak Toba, juga Kamus Indonesia – Karo.

   Dari tulisan Jusup Sukatendel, saya mengetahui jika Museum Pusaka Karo ini lahir dari kegelisahan seorang pastor bernama Leo van Joosten, di mana barang-barang warisan budaya Karo malah lebih banyak tersimpan di tangan para kolektor di Eropa, daripada diketahui dan dimiliki oleh generasi penerus suku Karo sendiri. Maka, sebuah Gereja Katholik tua di Berastagi, diserahkan oleh keuskupan Medan untuk difungsikan sebagai museum.
Waaahh, combo saya nyeselnya, ternyata museum ini masih sangat baru, dan mungkin saya bisa masuk dalam daftar orang-orang yang lebih dahulu bisa merasakan masuk ke dalamnya. Sayangnya saya melewatkan begitu saja kesempatan itu. (sumber : www.jalanjalanyuk.com)

Gundaling, Petik Jeruk Sendiri Dan Panorama Sibayak Dan Sinabung

berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga


Saya menginap satu malam di salah satu hotel di Berastagi. Sehabis sarapan, mobil yang mengantar saya untuk jalan-jalan sudah siap membawa ke Bukit Gundaling. Seorang teman berpesan, jangan sampai melewatkan Bukit Gundaling dari daftar wisata selama di Medan, katanya. Jadilah tujuan pertama saya ke sana.
berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga

Tak jauh dari hotel tempat saya menginap, tampak sepanjang jalan deretan petani sayur mayur sedang menggarap lahannya. Ada yang sedang memanen bawang merah, ada juga yang sedang membersihkan rumput di sela-sela tanaman bunga kolnya yang sebentar lagi siap panen.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Deretan kios penjaja souvenir dan beberapa rumah makan baik dengan label halal maupun tidak, menyambut pengunjung Taman Bukit Gundaling. Kuda-kuda yang dituntun pemiliknya terlihat lalu lalang, menawarkan jasanya kepada para pengujung dengan tarif Rp. 20.000,- sekali keliling. Saya ditawari untuk naik andong dengan tarif Rp. 100.000,- sekaligus boleh memetik jeruk sendiri. Tetapi berhubung waktu yang saya punya tak begitu banyak, saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Saya hanya melihat keindahan kota Berastagi dan Gunung Sibayak serta Gunung Sinabung saja dari kejauhan. Udara bertiup semilir dan membuat saya merapatkan jaket untuk melindungi tubuh dari dinginnya Bukit Gundaling. Dari ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, suhu udara memang relatif dingin, apalagi jika dibandingkan dengan suhu di Jakarta.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Buah dan Bunga Berastgi.
Sumber : www.jalanjalanyuk.com

Pasar Berastagi, Buah Sayur dan Bunga, pokoknya Lengkap deh,,!

berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Pasar Berastagi tak sulit untuk kita temukan. Dari arah Medan, jika kita sampai di tugu Berastagi, tinggal melangkahkan kaki beberapa puluh meter saja untuk bisa sampai ke sana. Bahkan orang yang tak suka berbelanja di pasar tradisionalpun pasti akan menyukai jalan-jalan ke Pasar Berastagi


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


“Silahkan, Kak. Belanja jeruk madunya.” sapa penjual buah di pasar Berastagi dengan ramah. Saya hanya menyungingkan senyum sambil menggeleng perlahan. Selangkah demi selangkah saya menyusuri lorong dan mengambil satu dua gambar sambil melihat-lihat deretan buah, sayur dan bunga yang tertata rapi.

Memang agak sulit mengerem keinginan untuk membeli, apalagi buah, sayur dan bunga yang dijual di Pasar Berastagi sangatlah segar-segar. Tak terlihat satupun yang tampak layu atau luka bekas ulat dan hama. Benar-benar mulus dan tampak berwarna-warni menyenangkan mata.

berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Saya melihat labu dengan ukuran yang sangat besar. Di sampingnya, entah itu buah apa, karena saya sendiri tak pernah melihatnya di tanah Jawa. Ada juga berbagai macam ubi dijual di Pasar Berastagi ini. Dengan tampilan yang hampir mirip namun lebih mulus, ada juga sejenis ubi yang saya juga nggak tahu namanya apa.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Sayuran-sayuran umum yang juga banyak dijual di pasar-pasar di Jawa antara lain daun bawang, lobak, wortel, daun kol dan juga tomat. Ada juga yang saya sempat minum berupa jusnya, yaitu Terong Belanda. Di Pasar Berastagi ini juga dijual sirup Markisa dan Terong Belanda dalam bentuk botolan, sehingga jika ingin membeli oleh-oleh khas Medan, Anda bisa mencoba sirup Martabe ini.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Lelah mengelilingi deretan penjual sayur dan buah, kita bisa bergeser ke beberapa penjual bunga. Tampak beraneka warna bunga dari mulai yang merah merekah sampai yang berjenis kaktus. Teman saya sih pesimis bahwa beberapa kali dia membeli bunga dari Pasar Berastagi untuk dibawa ke Medan, akhirnya mati juga.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,
Mungkin memang bercocok tanam itu selain faktor ketelatenan penanamnya, pengaruh cuaca dan lingkungan juga sangat besar menentukan keberhasilan hidup tanaman kita. Kapan-kapan kalau jalan-jalan ke Medan, jangan lupa mampir ke Pasar Berastagi ya!
Sumber : www.jalanjalanyuk.com

07 April 2012

Indahnya Tari Landek Tanah Karo Simalem


tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga
  Wah,... saya seneng banget waktu jalan-jalan ke Tanah Karo bulan Februari 2012 kemarin. Di salah satu acara yang saya datangi ketika melaksanakan tugas, ada acara penyambutan tamu dengan tarian khas Tanah Karo Simalem: Landek. Lengkapnya sih, Landek Piso Surit. Sebuah tarian khas yang baru pertama kali saya lihat secara langsung.

Ketika tamu datang, sebelum memasuki ruangan, penari berjejer di depan pintu masuk. Ada yang membawa keranjang buah-buahan. Ada yang membawa semacam bakul berukuran kecil, berisi beras. Lagu daerah khas Tanah Karopun mengiri para tamu yang masuk satu per satu sambil menarikan gerakan tangan manortor. Penari berjenis kelamin laki-laki yang membawa bakul berisi beraspun menaburkan beras secara perlahan kepada para tamu yang lewat di depannya. Konon, hal itu berarti si tuan rumah menganggap tamunya terhormat dan berjasa (diagungkan).
tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga
Nah, kalau gambar yang di samping ini, pada saat acara pembukaan sudah dimulai, tarian Landek  dibawakan di dalam ruangan. Enam orang penari yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan, menari berpasangan secara serasi. Tari tradisional Karo ini memiliki tiga unsur pembentuk utama, yaitu gerakan naik turun, gerakan goyang badan dan gerakan kelentikan jari. Harmonis deh, pokoknya

tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maragatari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga

















Di akhir tarian, saya lihat beberapa orang memberikan “saweran”. Entah apa namanya kalau di Karo. Yang pasti, lembaran uang seratus ribuan diberikan masing-masing kepada penari tersebut. Dan tidak hanya satu orang yang memberi, hampir semua yang berada di deretan kursi paling depan (tamu kehormatan) memberikan uang saweran.(www.jalanjalanyuk.com)


Cantik ya, penari dari Tanah Karo Simalem ini. Menurutmu?