Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

15 September 2018

Hotel di Berastagi, Kabupaten Karo



Mikie Holiday Resort
Jalan Letjen Jamin Ginting, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156


Sinabung Hills Berastagi
Jl. Kolam Renang, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156






Hotel sibayak berastagi
Alamat: Jl. Merdeka, Gundaling I, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara 22156






 
Hotel Grand Orri Berastagi
Jl Letjend Jamin Ginting Desa Lau Gumba Berastagi Sumatera Utara, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156
Rudang Hotel & Resort Berastagi
Jl. Jamin Ginting No. 16 Berastagi , Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22156




Hotel Alloyna Country Cottage
Jl. Jamin Ginting, No. 007, Sempajaya Peceren, Berastagi, Karo, Sumatera Utara, Indonesia, 22152




 

21 April 2012

Kota Berastagi

Kota Berastagi terletak di dataran tinggi Karo, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Karena terletak pada dataran tinggi maka suhu udara didaerah ini terkenal sejuk dan cenderung dingin.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366


kota berastagi









Kota Berastagi merupakan tempat peristirahatan yang ramai dikunjungi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya. Pengunjung umumnya datang dari luar Negeri dan Indonesia sendiri terutama dari kota Medan sekitarnya.

Seperti kota Jakarta yang memiliki tempat peristirahatan di daerah Puncak – Bogor, Bali memiliki Kintamani dan Bedugul, Jawa Timur memiliki Batu dan Malang, dan Sumatera Barat memiliki Bukit Tinggi, maka Sumatera Utara pun memiliki daerah kota Berastagi sebagai tempat rileks dan bersantai.

Gunung sibyak
Bila berkunjung ke kota Berastagi, jangan khawatir tentang akomodasi di daerah ini. Banyak penginapan kelas melati atau wisma dan bahkan hotel berbintang terdapat di kota ini. Hotel – hotel berbintang seperti Hotel International Sibayak, Hotel Sinabung, Hotel Mikie Holiday, Hotel Bukit Kubu, Hotel Mutiara Berastagi, dan lain-lain.

Sutra
Bila anda seorang backpacker yang memiliki budget terbatas maka dapat mencari wisma-wisma sebagai tempat menginap. Wisma yang terkenal bagi kalangan backpacker orang asing adalah wisma Sibayak.
Bila berkunjung ke kota Berastagi, tempat-tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi diantaranya; Pajak (Pasar) buah Berastagi ( orang Karo menamai "Pasar" dengan “Pajak”), Bukit Gundaling, Taman hutan raya Bukit Barisan, Pemandian air panas lau sidebuk-debuk, desa budaya Lingga, desa budaya Dokan, Penatapan Tongging dan air terjun sipiso-piso, mendaki gunung Sibayak, mengunjungi danau Lau Kawar dan mendaki gunung Sinabung, dan tempat wisata lainnya.

Tempat – tempat wisata tersebut terdapat di kota Berastagi dan sekitarnya, dan kota Berastagi merupakan tempat yang ideal dijadikan sebagai base (pangkalan) untuk menjangkau daerah-daerah wisata tersebut.

Bagaimana caranya mengunjungi kota Berastagi ? dari bandara kota anda dan mendarat di bandara Polonia Medan. Dari bandara Polonia Medan anda dapat menggunakan taksi bandara menuju ke daerah Padang Bulan, tempat bis Sinabung Jaya, Sutra , Aronta, Borneo dan Murni yang menuju kota Berastagi dan Kabanjahe berada.

Tarif taksi bandara lumayan murah atau kalau anda seorang budget traveler yang mencari alternative yang lebih murah, maka dari bandara Polonia anda dapat berjalan kaki sekitar 300 – 400 meter ke jalan raya didepan bandara Polonia, anda dapat naik angkutan umum menuju stasiun bis Sinabung Jaya, Sutra , Aronta, Borneo dan Murni di daerah Padang Bulan.

Ongkos angkutan dalam kota di Medan sekitar Rp. 2 – 5 Ribu. Ongkos Bis dari Medan ke Berastagi sekitar Rp. 10 – 13 Ribu dengan jarak tempuh sekitar 90 km dan waktu tempuh sekitar 70 – 90 menit melewati hutan dan pegunungan. 

Selamat berlibur dan kami tunggu kedatangan anda di kota Berastagi. Kami warga Tanah Karo Simalem mengucapkan selamat datang dan Mejuah-juah kita kerina. Bujur.

Notes; Tulisan Sebelumnya ada di http://sukatendel.blogspot.com, alasan saya untuk menghidupkan kembali tulisan ini karena sangat penting bagi anda yang mau wisata ke Tanah Karo Simalem.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

15 April 2012

OBJEK WISATA DELENG KUTU


   Anda mungkin pernah mendengar hewan kecil yang gatal bernama kutu. Nama binatang penghisap darah ini rupanya menjadi salah satu nama gunung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Persisnya di Desa Guru Singa, Kecamatan Berastagi, Gunung Kutu tidak kalah uniknya dengan sejumlah gunung populer lainnya yang berada di Tanah Karo.
Padahal gunung ini tidak setinggi Sibayak dan Sinabung, namun panorama alam yang dimilikinya cukup mempesona. Deleng Kutu, demikian masyarakat lokal menyebut gunung yang memiliki ketinggian sekitar 1.300 mpdl ini. Dilihat dari kejauhan, deleng (gunung dalam bahasa Karo) itu memang mirip kutu. Mungkin itulah sebabnya masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Kutu.

Dalam pendakian gunung yang memiliki tantangan tersendiri ini, aku bersama Esra Surbakti, Rian Ginting dan Jhon Ginting mengawali perjalanan dari sebuah desa di sekitar kaki gunung, Desa Lingga Julu. Perjalanan yang dimulai sejak sore hari itu dibayang-bayangi mendung dan kabut. Setelah beberapa puluh menit berjalan selepas Desa Lingga Julu, kami sudah menyaksikan permukaan Gunung Kutu. “Memang mirip kutu ya?” celetuk Rian sambil menunjuk ke sebuah gundukan hijau kebiruan yang masih terlihat kerdil di hadapan kami.
   Sejenak kami berhenti memandangi gunung imut itu. Sembari mengabadikan gunung, beberapa teman melototi kerumunan sapi yang sedang melahap rumput. Mungkin mereka jarang menemukan suasana seperti ini di kota, pikirku. Perjalanan dilanjutkan ke Desa Guru Singa. Di jantung kampung ini, terdapat sebuah rumah adat Karo yang kondisinya cukup memprihatinkan. Kami berupaya masuk ke rumah siwaluh jabu (delapan keluarga) itu melalui jendela yang hampir ambruk. Kondisi dalam rumah adat yang dulu dihuni delapan keluarga ini kayak kapal pecah. Di sana-sini terlihat onggokan pakaian dan barang bekas yang sudah kumuh. Menurut salah seorang warga, sejak sepuluh tahun silam rumah peninggalan nenek moyang orang Karo tersebut memang sudah kosong lantaran keluarga yang dulu menghuninya sudah pindah.
Sejak itu, tidak ada upaya Pemkab Karo mengkonservasi bangunan tradisional ini sebagai salah satu situs pariwisata yang tidak ternilai harganya. Pintu Rimba. Puas menyaksikan kehancuran siwaluh jabu, perjalanan dilanjutkan ke pintu rimba. Tapi gerimis sudah mendahului kami sebelum sampai di pintu masuk itu. Di sinilah kami ditantang memanjat betis gunung setinggi 2,5 meter. Berhasil melewati tantangan ini dengan bantuan akar pohon, kami menemukan jalur yang cukup menantang pula. Jalur pendakian ke Gunung Kutu memiliki medan yang lumayan sulit.

Betul kata sesepuh pendaki gunung, semua gunung itu unik dan memiliki medan yang tantangannya berbeda. “Jadi jangan pernah menganggap remeh sebuah petualangan,” itu pesan yang kuterima. Teman-temanku rupanya terkecoh dan masing-masing mulai memberikan penilaian baru terhadap misi pendakian ini. Sebelumnya ada kesan sepele dari mereka. “Tadi kita kira gampang, rupanya jalurnya bikin sesak napas juga ya?” kata seorang teman dengan napas memburu. Hampir mencapai puncak, kami tertipu lagi. Rupanya sebuah ketinggian yang kami temukan adalah “puncak palsu”. Meski gunung ini terlihat kecil, tapi kecil-kecil cabai rawit juga.
   Di puncak tipuan itu, kami hampir tersesat. Untunglah seorang teman buru-buru menemukan jalur yang mengarah ke kanan dan menuju puncak yang sesungguhnya. Lima menit menyusuri jalan tersebut, kami menemukan sebuah pilar yang konon didirikan oleh Belanda. Berada di puncak Gunung Kutu seperti berada di taman. Terasa asyik karena puncaknya dilengkapi tempat duduk yang terbuat dari batu. Pilar dikelilingi tempat duduk batu dan terdapat lokasi untuk mendirikan tenda. Selain itu kami menemukan sisa-sisa ranting terbakar yang berserakan. Mungkin baru saja ada orang yang membuat api unggun, pikirku. Setelah puas beristirahat di puncak, kami menembus padang ilalang setinggi 2 meter.

   Dari sana terdapat satu tempat yang cozy untuk nongkrong. Dari ketinggian itu, Kota Kabanjahe tampak berkilat-kilat di bawah. Juga terlihat permukaan Gunung Sibayak dan Sinabung, dua ikon Tanah Karo yang sudah melegenda hingga mancanegara. Sempat Terpelanting Di puncak, senja menggairahkan alam. Burung-burung tidak berhenti berkicau. Angin senja terasa lembut menyapu kulit. Kami betah berada di sini. Alam akrab menyapa dan menjadi saksi bisu sebuah persahabatan. Di gunung inilah kami abadikan persahabatan itu.
   Damai di sana, sedamai alam bila hutan dan ekosistemnya dilestarikan. Sangat disayangkan, sebagian tubuh gunung mulai ditanami penduduk. Hampir satu jam di puncak, kami kembali menuruni lereng Gunung Kutu. Karena jalannya licin, beberapa kali kami jatuh terpelanting. Tapi berkat bantuan akar-akar pohon yang tersebar di sepanjang jalur, pendakian berhasil diakhiri sekitar pukul 19.00 WIB tanpa ada yang cedera. Dari pintu rimba, rombongan kecil ini menyusuri jalan pedesaan ke Simpang Korpri selama hampir 1 jam. Simpang ini berada di Jalan Jamin Ginting yang menghubungkan Kota Kabanjahe-Berastagi. Dari sana kami menuju Kota Berastagi dan menikmati jajanan malam di kota pariwisata itu. Bagiku, ini sebuah perjalanan penuh kenangan. Tidak akan bisa kami lupakan. (insidesumara)

08 April 2012

Museum Pusaka Karo Di Berastagi



objek wisata, museum pusaka karo, museum indonesia, berastagi, tanah karo, suku karo, beriata karo, sumatera utara
   Sedikit menyesal saya karena pagi tak jadi melangkahkan kaki ke dalam Museum Pusaka Karo. Padahal jarak saya dengannya sudah sangat dekat, hanya puluhan meter saja. Tetapi karena memang waktu tidak memungkinkan lagi dan saya harus segera masuk ke mobil yang akan berangkat melanjutkan perjalanan setelah selesai jalan-jalan di Pasar buah dan bunga Berastagi, ya apa boleh buat.

Batal jadinya menengok apa isi Museum Pusaka Karo tersebut. Memang sih, setelah saya telusuri di mesin pencari, isi di dalamnya pun belum terlalu lengkap. Museum yang berada di Jalan Perwira No. 3, tepat di sebelah Tugu Perjuangan 45 Berastagi ini memiliki koleksi berbagai barang pusaka Karo. Ada beberapa foto di dalam pigura yang menggambarkan sejarah perkembangan Tanah Karo. Ada juga sebuah manuskrip berhurufkan kuno, buku-buku dan kamus Batak Toba, juga Kamus Indonesia – Karo.

   Dari tulisan Jusup Sukatendel, saya mengetahui jika Museum Pusaka Karo ini lahir dari kegelisahan seorang pastor bernama Leo van Joosten, di mana barang-barang warisan budaya Karo malah lebih banyak tersimpan di tangan para kolektor di Eropa, daripada diketahui dan dimiliki oleh generasi penerus suku Karo sendiri. Maka, sebuah Gereja Katholik tua di Berastagi, diserahkan oleh keuskupan Medan untuk difungsikan sebagai museum.
Waaahh, combo saya nyeselnya, ternyata museum ini masih sangat baru, dan mungkin saya bisa masuk dalam daftar orang-orang yang lebih dahulu bisa merasakan masuk ke dalamnya. Sayangnya saya melewatkan begitu saja kesempatan itu. (sumber : www.jalanjalanyuk.com)

Gundaling, Petik Jeruk Sendiri Dan Panorama Sibayak Dan Sinabung

berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga


Saya menginap satu malam di salah satu hotel di Berastagi. Sehabis sarapan, mobil yang mengantar saya untuk jalan-jalan sudah siap membawa ke Bukit Gundaling. Seorang teman berpesan, jangan sampai melewatkan Bukit Gundaling dari daftar wisata selama di Medan, katanya. Jadilah tujuan pertama saya ke sana.
berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga

Tak jauh dari hotel tempat saya menginap, tampak sepanjang jalan deretan petani sayur mayur sedang menggarap lahannya. Ada yang sedang memanen bawang merah, ada juga yang sedang membersihkan rumput di sela-sela tanaman bunga kolnya yang sebentar lagi siap panen.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Deretan kios penjaja souvenir dan beberapa rumah makan baik dengan label halal maupun tidak, menyambut pengunjung Taman Bukit Gundaling. Kuda-kuda yang dituntun pemiliknya terlihat lalu lalang, menawarkan jasanya kepada para pengujung dengan tarif Rp. 20.000,- sekali keliling. Saya ditawari untuk naik andong dengan tarif Rp. 100.000,- sekaligus boleh memetik jeruk sendiri. Tetapi berhubung waktu yang saya punya tak begitu banyak, saya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Saya hanya melihat keindahan kota Berastagi dan Gunung Sibayak serta Gunung Sinabung saja dari kejauhan. Udara bertiup semilir dan membuat saya merapatkan jaket untuk melindungi tubuh dari dinginnya Bukit Gundaling. Dari ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, suhu udara memang relatif dingin, apalagi jika dibandingkan dengan suhu di Jakarta.


berastagi, jalan-jalan, sibayak, pajak buah, bunga, tanah karo, berita karo, wisata, pariwisata, obkek wisata, lima marga
Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan ke Pasar Buah dan Bunga Berastgi.
Sumber : www.jalanjalanyuk.com

Pasar Berastagi, Buah Sayur dan Bunga, pokoknya Lengkap deh,,!

berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Pasar Berastagi tak sulit untuk kita temukan. Dari arah Medan, jika kita sampai di tugu Berastagi, tinggal melangkahkan kaki beberapa puluh meter saja untuk bisa sampai ke sana. Bahkan orang yang tak suka berbelanja di pasar tradisionalpun pasti akan menyukai jalan-jalan ke Pasar Berastagi


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


“Silahkan, Kak. Belanja jeruk madunya.” sapa penjual buah di pasar Berastagi dengan ramah. Saya hanya menyungingkan senyum sambil menggeleng perlahan. Selangkah demi selangkah saya menyusuri lorong dan mengambil satu dua gambar sambil melihat-lihat deretan buah, sayur dan bunga yang tertata rapi.

Memang agak sulit mengerem keinginan untuk membeli, apalagi buah, sayur dan bunga yang dijual di Pasar Berastagi sangatlah segar-segar. Tak terlihat satupun yang tampak layu atau luka bekas ulat dan hama. Benar-benar mulus dan tampak berwarna-warni menyenangkan mata.

berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Saya melihat labu dengan ukuran yang sangat besar. Di sampingnya, entah itu buah apa, karena saya sendiri tak pernah melihatnya di tanah Jawa. Ada juga berbagai macam ubi dijual di Pasar Berastagi ini. Dengan tampilan yang hampir mirip namun lebih mulus, ada juga sejenis ubi yang saya juga nggak tahu namanya apa.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Sayuran-sayuran umum yang juga banyak dijual di pasar-pasar di Jawa antara lain daun bawang, lobak, wortel, daun kol dan juga tomat. Ada juga yang saya sempat minum berupa jusnya, yaitu Terong Belanda. Di Pasar Berastagi ini juga dijual sirup Markisa dan Terong Belanda dalam bentuk botolan, sehingga jika ingin membeli oleh-oleh khas Medan, Anda bisa mencoba sirup Martabe ini.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,


Lelah mengelilingi deretan penjual sayur dan buah, kita bisa bergeser ke beberapa penjual bunga. Tampak beraneka warna bunga dari mulai yang merah merekah sampai yang berjenis kaktus. Teman saya sih pesimis bahwa beberapa kali dia membeli bunga dari Pasar Berastagi untuk dibawa ke Medan, akhirnya mati juga.


berita karo, objek wisata,berastagi, tanah karo,bunga, buah, pasar berastagi,
Mungkin memang bercocok tanam itu selain faktor ketelatenan penanamnya, pengaruh cuaca dan lingkungan juga sangat besar menentukan keberhasilan hidup tanaman kita. Kapan-kapan kalau jalan-jalan ke Medan, jangan lupa mampir ke Pasar Berastagi ya!
Sumber : www.jalanjalanyuk.com

05 April 2012

Obyek Wisata Kabupaten Deli Serdang Terutama Wilayah Masyarakat Karo

Retreat Center Suka Makmur
Lokasi ini juga berdekatan dengan Taman Pramuka. Pembangunan dan kegiatan yang ada disana secara umum adalah berupa kegiatan kerohanian antara lain seperti: panti asuhan, panti jompo serta taman dan sarana fasilitas yang ada seperti ruang pertemuan, penginapan, lapangan terbuka dengan berbagai macam taman yang dapat dilihat/dinikmati keindahannya disana.

Taman Hutan Wisata Sibolangit
Taman ini termasuk dalam kawasan Cagar Alam Sibolangit seluas 24,85 ha, berada + 37 km dari Medan kearah Berastagi dan + 57 km dari kota Lubuk Pakam. Terletak di Kabupaten Deli Serdang berdekatan dengan Kabupaten Karo dengan ketinggian 475-525 m di atas permukaan air laut.

Cagar alam ini ada sejak zaman Belanda. Dahulu Kebun Raya Sibolangit. Kebun ini dibuat pada tahun 1914 oleh JA. Lorzing atas prakarsa Dr. JC Koningsberger sebagai cabang Kebun Raya Bogor. Taman hutan wisata sebelumnya adalah kebun botani (tumbuh-tumbuhan) terletak di lereng pegunungan Bukit Barisan antara Sembahe dan lembah sekitarnya. Memiliki udara sejuk dan keistimewaan tersendiri yaitu perpaduan antara cuaca panas dan cuaca dingin. Jalan-jalan kecil antara jalan setapak merupakan lorong-lorong kecil antara pepohonan besar yang sangat menyenangkan di hutan hujan ini cocok untuk tempat pemberhentian sementara bagi turis sebelum melanjutkan perjalanan diantara pohon-pohon pakis raksasa dan pohon-pohon ditutupi lumut.

Para ahli Botani dengan mudah dapat menemukan berbagai hal yang menarik dari tumbuh-tumbuhan langka yang banyak tumbuh di taman ini selain adanya berbagai macam jenis bunga-bunga liar.

Pemandian Alam Sembahe
Jalan masuk ke pemandian alam ini mulanya adalah jalan negara Medan – Berastagi, kemudian setelah rusak jembatannya, Pemerintah Cq. Dinas PU Bina Marga meluruskan jalan ini ke hilir sungai. Setelah dipindahkan jalan dimaksud, kemudian ditatalah sungai ini menjadi tempat Pemandian Alam karena air sungai yang mengalir di sana sangat sejuk dan jernih serta panorama alamnya yang indah. Lokasi ini sangat diminati masyarakat umum dan hingga kini merupakan objek wisata alam yang paling ramai dikunjungi wisatawan.

Pemandian Alam Pulo Sari
Pemandian alam ini berada +16 km dari pusat kota Medan ke arah Berastagi. Tempat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal untuk menikmati suasana pemandian sungai yang sejuk airnya dan jarak serta waktu tempuh menuju objek relatif tidak lama serta mudah dijangkau. Selain objek pemandian alam banyak terdapat sarana penginapan/bungalow tempat peristirahatan serta lapangan golf juga tidak terlalu jauh dari lokasi pemandian alam ini. “Tuntungan Golf”, kawasan ini cukup indah karena hamparan rumput yang ditata rapi sehingga lapangan ini menarik untuk berolahraga golf sambil bersantai. Lapangan golf memiliki 18 holes yang dilengkapi dangan sarana dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan para pengunjung seperti : kamar ganti pakaian, kamar mandi, restoran, kamar istirahat dan musholla.

Martabe Golf
Lapangan Golf berada 24 km dari Medan ke arah Berastagi. Kawasan ini cukup indah bagaikan sebuah lembah dengan udara sejuk, sehingga pengunjung olahraga golf merasakan suasana kawasan yang merupakan tempat menarik untuk berolahraga sambil bersantai. Di tengah-tengah lapangan ini tersedia restoran, kamar mandi dan ganti pakaian serta kantor dan musholla.

Bagaimana cara mendapatkan objek wisata. Secara umum objek wisata di Deli Serdang dapat dibagi 3 berdasarkan topografi yakni dataran tinggi/pegunungan, dataran rendah dan pantai. Oleh karena itu banyak wisata pegunungan yang berada di dataran tinggi ini kita dapat kunjungi melalui kota Medan tepatnya dari daerah Padang Bulan Medan dengan menggunakan kenderaan pribadi, bus umum, mini bus dan kenderaan lainnya.

Pada umumnya lokasi objek wisata di daerah pegunungan ini berada di sekitar kiri/kanan Jalan Negara dari kota Medan ke arah kota turis Berastagi, Tanah Karo. Transportasi cukup baik seperti : bus umum Sinabung Jaya, Sutra, Serasi Boerneo dan minibus yang sangat banyak jumlahnya.

Pemandian Alam Pantai Sari Laba Biru Indah
Pantai Sari Laba Biru Indah berada di Kecamatan Sibiru-biru, jaraknya + 45 km dari Kota Lubuk Pakam dan + 25 km dari pusat Kota Medan. Pemandian sungai dengan panorama alam yang cukup indah, dikelilingi pepohonan dan air sungai yang jernih mengalir deras dan bersih sehingga objek wisata ini cocok sekali untuk tempat mandi-mandi dan santai. Fasilitas yang tersedia seperti warung-warung kecil dan pondok-pondok serta makanan dan minuman ringan.
Pemandian Alam Lau Sigembur
Pemandian Alam ini berada di Desa Simada-mada Kecamatan STM Hilir, jaraknya + 31 km dari Kota Medan, + 28 km dari Kota Lubuk Pakam. Pemandian ini dengan aliran sungai Belumai yang masih alami, dikelilingi hutan yang rindang dan udara yang sejuk. Tempat ini sangat ideal untuk tempat berkemah, santai karena suasana objek ini sangat menyatu dengan alam lingkungan sekitarnya. Fasilitas yang ada relatif minim sekali.

Objek Wisata Gua dan Air Panas Penen
Di kawasan ini terdapat 4 (empat) gua alam yang berbentuk kerang dengan lebar mulutnya 10 s/d 25 m. Air panas Penen pada mulanya dipergunakan penduduk setempat sebagai irigasi persawahan di sekitarnya, kemudian penduduk membuat pancuran untuk mandi. Selanjutnya objek ini dikembangkan lebih permanen dengan penataan yang lebih baik dan peruntukan tempat mandi pria dan wanita yang secara terpisah.

Suhu air cukup panas 45o Celcius yang mengandung zat belerang, sehingga airnya cocok sekali buat mandi untuk kesehatan kulit. Jaraknya + 63 km dari Kota Lubuk Pakam sedangkan dari Kota Medan + 45 km.

Pemandian Bendungan Namurambe
Panorama alam yang indah menarik minat wisatawan berkunjung ke Bendungan Namorambe ini untuk bersenang-senang menikmati pemandangan yang indah, mandi-mandi di aliran sungai yang airnya jernih dan sejuk serta menikmati makanan dan minuman ringan yang tersedia disana. Pada awalnya objek ini adalah merupakan bangunan pemerintah untuk mengairi persawahan masyarakat sekitarnya. Kemudian secara perlahan banyak orang berkunjung kesana pada hari Minggu dan hari libur/besar, karena jaraknya relatif tidak terlalu jauh dari pusat keramaian seperti Kota Medan.

Pemandian Alam Lokna
Pemandian ini terletak tidak jauh di sekitar Camping Ground yang merupakan aliran sungai dengan air terjun yang tidak terlalu besar, sangat cocok sebagai tempat rekreasi di alam terbuka dan dapat menikmati fasilitas yang ada disana, duduk-duduk di pondok, mandi-mandi di sungai dan lain-lain bersama-sama dengan keluarga.

Taman Rekreasi Dewi Sibolangit
Taman ini mulai dibangun pada tanggal 7 Maret 1996 dikerjakan selama 1 tahun dan selanjutnya dibuka secara bertahap. Taman ini diresmikan dan beroperasi setelah pembangunan tahap pertama pada tanggal 7 Maret 1997. Taman ini dibangunoleh pemilik bernama Hasan Hasanuddin. Taman ini dikatakan unik karena bangunannya banyak diilhami oleh ide-ide/kreasi pemiliknya yang bersifat religi dan berpendidikan (education).

Ide/kreasi pembangunan taman tersebut diwujudkan dari pengalaman perjalanan wisata pemiliknya baik dalam negeri maupun luar negeri sehingga apa yang disajikan sangat menarik dan tidak membosankan. Taman rekreasi Sibolangit juga telah mendapat penghargaan ditingkat nasional sebagai objek wisata yang bernuansa lingkungan.

Taman Pramuka
Taman Pramuka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Camping Ground, jaraknya + 63 km dari kota Lubuk Pakam, sebagai Ibukota Kabupaten Deli Serdang sedangkan dari kota Medan + 45 km sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Taman Pramuka ini berada di daerah pegunungan di Kecamatan Sibolangit yang luasnya + 350 ha. Objek ini sangat ideal untuk tempat berekreasi selain camping untuk menghilangkan segala kepenatan jiwa dan pengaruh polusi di kota besar seperti kota Medan pada waktu hari-hari besar dan libur.

Fasilitas yang diperlukan pengunjung seperti penginapan, restoran/rumah makan dan tempat-tempat rekreasi lainnya juga ada disekitar taman ini seperti Bandar Baru, Taman Rekreasi Dewi, Pemandian Alam Loknya, Villa Impian Prima dan Retreat Centre.

NB: Di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang, masih banyak Objek Wisata yang belum tersentuh, Contohnya : Air Panas Alami dengan kandungan belerang di Desa Nageri Suah, Air Terjun (Sampuren) Putih, Lau (Sungei) Seruai yang dapat dijadikan tempat pemandian alami maupun arung jeram. Kalau mau ke tempat tersebut dapat masuk melalui Simpang Bukum Bandar Baru, Sibolangit, kira-kira 15 km dari jalan besar. Mudah-mudahan Pemkab Deli Serdang ataupun investor dapat mengelola objek wisata tersebut sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Desa Buluh Awar merupakan tempat wisata rohani, yaitu tempat berdirinya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) atau masuknya Injil Pertama sekali ke daerah karo, yaitu tahun 1884.(http://sumut2day.wordpress.com)

LIHAT JUGA:

04 April 2012

Interaksi Antara Wisatawan Dengan Masyarakat Lokal

Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata didorong oleh motivasi untuk mengenal, mengetahui atau mempelajari berbagai hal seperti kebudayaan, kehidupan masyarakat, keindahan alam, berbagai jenis kuliner, dan lain-lain. Apapun motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata maka bagi seorang/ kelompok wisatawan, perjalanan tersebut mempunyai berbagai manfaat dan akibat antara lain :

  • Perjalanan wisata memberikan stimulasi bagi penyegaran fisik dan mental serta merupakan kompensasi terhadap berbagai hal yang melelahkan seperti situasi yang sibuk, ketegangan, rutinitas yang menjemukan, sehingga melakukan perjalanan wisata merupakan kompensasi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut diatas.
  • Selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal sangat dipengaruhi oleh sistem sosial budaya kedua belah pihak. Hubungan wisatawan dengan masyarakat lokal bersifat sementara, ada kendala ruang dan waktu, hubungan yang terjadi banyak yang bersifat transaksi ekonomi yang tidak ada lain merupakan proses komersialisasi.
  • Pariwisata memberikan keuntungan sosial ekonomi pada satu sisi, tetapi disisi lain membawa ketergantungan dan ketimpangan sosial dan berbagai masalah sosial.
  • Pariwisata membawa berbagai peluang baru bagi masyarakat dan mendorong berbagai bentuk perubahan sosial.
  • Munculnya kondisi frustasi ditengah-tengah masyarakat yang merasa jadi obyek tetapi tidak merasa menikmati keuntungan dari pembangunan kepariwisataan.
Pengaruh pengembangan pariwisata terhadap masyarakat lokal

   Disamping berbagai dampak yang dinilai positif, hampir semua diskusi/ seminar tentang kepariwisataan juga banyak mengemukakan adanya berbagai dampak yang tidak diharapkan (dampak negatif). Menilai dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat lokal membutuhkan pengkajian secara mendalam ditengah-tengah masyarakat setempat dan berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, budaya, lingkungan. Aspek-aspek tersebut berpengaruh ditengah-tengah masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain atau dampak terhadap kelompok sosial yang satu belum tentu sama, bahkan bisa bertolak belakang dengan dampak terhadap kelompok sosial yang lain. Namun sebagai gambaran dalam upaya mengurangi dampak pariwisata terhadap masyarakat lokal dapat dikemukakan pendekatan sebagai berikut :
  • Berbagai perubahan sosial yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata-mata, mengingat pariwisata memiliki sifat kegiatan multidimensional dan terjalin erat dengan berbagai kegiatan lain yang mungkin pengaruhnya jauh sebelum pariwisata berkembang di satu Kota/ Kabupaten
  • Mengenai penilaian positif dan negatif tidak selalu sama bagi segenap kelompok masyarakat, perlu melihat segmen-segmen yang ada atau melihat berbagai interest group mengingat dinamika masyarakat berkembang dan berpengaruh kepada ritme kehidupan sosial masyarakat.
  • Setiap daerah tujuan wisata mempunyai citra tertentu yang mengandung keyakinan, kesan dan persepsi yang diterima wisatawan dan berbagai sumber dari pihak lain atau dari instansinya sendiri. Pariwisata adalah industri yang memiliki citra tersendiri dan berbasiskan citra, karena citra/ kesan membawa calon wisatawan ke dunia simbol dan makna. Citra juga akan memberikan kesan bahwa satu destinasi akan memberikan suatu aktrasi yang berbeda dengan destinasi lainnya.
  • Dari waktu ke waktu, aspek sosial dalam pembangunan pariwisata semakin mendapat perhatian karena semakin meningkatnya kesadaran bahwa pembangunan kepariwisataan tanpa pertimbangan yang matang dari aspek sosial akan membawa malapetaka bagi masyarakat.
  • Secara umum bahwa pengembangan kepariwisataan semakin mendapat perhatian, karena semakin meningkatnya kesadaran bahwa pembangunan kepariwisataan tanpa pertimbangan yang matang dari aspek sosial akan mempengaruhi kepariwisataan itu sendiri.
  • Secara umum bahwa pengembangan kepariwisataan selalu terkait dengan kreativitas dan inovasi dalam berbagai bentuk kegiatan, karya masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan pada saat berkunjung ke satu daerah wisata yang dapat menambah pengalaman perjalanan baru bagi wisatawan dan peningkatan berusaha bagi masyarakat.(Drs. H. Gumelar S Sastrayuda, CTM.)

Jenis-jenis Pariwisata


Menurut Pendit (1994), pariwisata dapat dibedakan menurut motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Jenis-jenis pariwisata tersebut adalah sebagai berikut.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

1. Wisata Budaya
Yaitu perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya.

2. Wisata Maritim atau Bahari
Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan didaerah–daerah atau negara–negara maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–pulau Seribu di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula wisata tirta.

3. Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)
Untuk jenis wisata ini biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha–usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di tempat–tempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya

4. Wisata Konvensi
Yang dekat dengan wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan–ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya memiliki Pusat Kongres Internasiona (International Convention Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International Convention Center) di Manila dan Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidang–sidang pertemuan besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik yang ada di Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha dengan keras untuk menarik organisasi atau badan–badan nasional maupun internasional untuk mengadakan persidangan mereka di pusat konvensi ini dengan menyediakan fasilitas akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi yang menarik serta menyajikan program–program atraksi yang menggiurkan.

5. Wisata Pertanian (Agrowisata)
Sebagai halnya wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi.

6. Wisata Buru
Jenis ini banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerah–daerah yang memang disediakan untuk berburu macan, badak dan sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan.

7. Wisata Ziarah
Jenis wisata ini sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat–tempat suci, ke makam–makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang–orang Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–orang Budha ke tempat–tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat–tempat suci atau keramat yang dikunjungi oleh umat-umat beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur, Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah, makam Wali Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya. Banyak agen atau biro perjalanan menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–waktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempat–tempat tersebut di atas.

Sesungguhnya daftar jenis–jenis wisata lain dapat saja ditambahkan di sini, tergantung kapada kondisi dan situasi perkembangan dunia kepariwisataan di suatu daerah atau negeri yang memang mendambakan industri pariwisatanya dapat meju berkembang. Pada hakekatnya semua ini tergantung kepada selera atau daya kreativitas para ahli profesional yang berkecimpung dalam bisnis industri pariwisata ini. Makin kreatif dan banyak gagasan–gagasan yang dimiliki oleh mereka yang mendedikasikan hidup mereka bagi perkembangan dunia kepariwisataan di dunia ini, makin bertambah pula bentuk dan jenis wisata yang dapat diciptakan bagi kemajuan industri ini, karena industri pariwisata pada hakikatnya kalau ditangani dengan kesungguhan hati mempunyai prospektif dan kemungkinan sangat luas, seluas cakrawala pemikiran manusia yang melahirkan gagasan–gagasan baru dari waktu–kewaktu. Termasuk gagasan–gagasan untuk menciptakan bentuk dan jenis wisata baru tentunya.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366


Jenis Wisata yang Dipilih Warga Negara di Dunia


Warga negara Indonesia lebih menyukai jenis wisata yang berorientasi keluarga dan anak-anak. Sementara jenis wisata “menyatu dengan kebudayaan” paling banyak disukai oleh warga negara Jepang.

Industri pariwisata boleh dibilang merupakan salah satu industri yang akan terus berkembang di masa mendatang, seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatnya kesejahteraan rakyat. Berkembangnya industri pariwisata ini karena kegiatan wisata sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang terutama masyarakat perkotaan lantaran kegiatan ini bisa menghibur sekaligus bisa melepas beban jiwa. Biasanya kegiatan wisata dilakukan sembari mengisi liburan. Maka dari itu, tak heran bila pada hari-hari libur tempat wisata disesaki oleh pengunjung.
wisata, tempat wisata, pariwisata, objek wisata, suku karo, lima marga

    Banyak jenis wisata yang bisa dinikmati oleh orang, seperti wisata alam, wisata laut, wisata budaya, wisata taman bermain, dan jenis wisata lain. Menariknya, masyarakat di setiap negara ternyata berbeda-beda dalam pemilihan jenis wisata. Mau tahu, jenis wisata apa saja yang banyak diminati oleh warga Indonesia dan warga negara lain? Untuk itu Anda bisa simak laporan hasil riset IPSOS lembaga riset global yang berpusat di Perancis tentang jenis wisata yang diminati oleh warga dunia.
Polling terbaru yang diselenggarakan oleh IPSOS yang melibatkan 19.000 responden di 24 negara mengindikasikan bahwa dalam urusan memilih jenis wisata untuk liburan, warga dunia kebanyakan memilih “bersantai dan melihat-lihat pemandangan” (35%), kemudian disusul oleh jenis wisata yang melibatkan “petualangan di luar ruang” (19%), “untuk anak-anak dan keluarga” (19%), serta “menyatu dengan kebudayaan” (17%), sementara “kosmopolitan” (5%), dan “mencari sensasi berpetualang” (5%) adalah dua pilihan paling sedikit jenis wisata yang dipilih warga dunia.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia, jenis wisata apa yang banyak diminati oleh warga Indonesia? Dan bagaimana pula dengan jenis wisata yang disukai oleh warga negara lain? Laporan IPSOS mengungkap bahwa warga Indonesia sebesar 39% yang paling banyak menyukai jenis wisata dengan acara-acara berorientasi keluarga dan anak-anak seperti mengunjungi taman bermain, perjalanan satu hari ke luar kota, berenang, penginapan yang mempunyai program untuk anak-anak supaya orangtua bisa jalan-jalan dan anak-anaknya bisa dihibur. Disusul Brasil sebesar 29%, dan sebaliknya, yang paling tidak menyukai jenis wisata ini adalah warga Cina dengan hanya 5% yang menyukai jenis wisata ini.

Jenis wisata kedua yang diminati warga Indonesia adalah santai dan melihat-lihat pemandangan seperti tur keliling kota dengan bis atau tur dengan kapal, mengunjungi restoran lokal, atau menyaksikan pertunjukan yang populer, sebesar 29%. Jenis wisata ini paling banyak diminati oleh warga Jerman, sebesar 45%, dan yang paling tidak menyukai jenis wisata ini adalah warga Saudi Arabia, sebesar 21%.
Petualangan di luar ruang seperti mendaki gunung (hiking), mendayung (canoeing), berkemah (camping), menjelajahi hutan rimba, memancing dan berburu, menginap di pondok kayu, naik boat, dan berlayar dipilih sebesar 16% dari warga Indonesia. Jenis ini paling banyak diminati oleh warga Afrika Selatan, sebesar 32%, dan yang  paling tidak menyukai jenis wisata ini adalah warga Korea Selatan, sebesar 9%.

wisata, tempat wisata, pariwisata, objek wisata, suku karo, lima margaSebaliknya, jenis wisata apa yang kurang diminati oleh warga Indonesia? Hasil survei mengungkap wisata “menyatu dengan kebudayaan” seperti mencoba makanan lokal dan merasakan pengalaman budaya setempat, mengunjungi situs-situs sejarah, museum dan galeri nasional, atau menjelajahi tempat- tempat tidak umum yang jarang dikunjungi, mengunjungi festival atau acara setempat, kurang diminati oleh warga Indonesia dengan persentase 9%, disusul Brasil sejumlah 10%. Sementara jenis wisata ini paling banyak diminati oleh warga Jepang, sebesar 24%.

Secara global, jenis wisata menyatu dengan kebudayaan merupakan pilihan keempat dari jenis wisata utama yang paling digemari warga dunia. Berikut ini adalah negara-negara yang warganya suka dan tidak suka dengan jenis wisata tersebut:

  • Warga dari Jepang (24%), Cina, Italia, Korea Selatan, dan Turki (masing-masing sebesar 23%), dan Spanyol (21%) adalah warga dunia yang menyukai jenis wisata ini.
  • Dari Indonesia (9%), Brasil (10%), Afrika Selatan (11%), dan Rusia (12%) paling tidak suka jenis wisata ini.
  • Kawasan Amerika Selatan dan negara G-8 (keduanya sebesar 19%) suka jenis wisata ini.

Dan berurutan jenis wisata kosmopolitan seperti belanja di tempat-tempat yang ternama, makan di restoran yang terkenal dan mengharapkan dapat berjumpa dengan selebriti serta mencari petualangan dan kegiatan memacu adrenalin seperti menjelajah di tempat tinggi, meluncur di lereng salju, naik helikopter atau petualangan di air merupakan jenis-jenis wisata yang paling  tidak diminati warga Indonesia, masing-masing sebesar 4% dan 3%.

Sementara, jenis wisata kosmopolitan paling banyak diminati oleh warga Saudi Arabia, sebesar 12%, dan yang paling tidak menyukai jenis wisata ini adalah warga Hongaria, Polandia, Rusia, dan Turki, masing-masing sebesar 1%.“Data yang kami keluarkan ini dapat membantu para pemasar dalam industri travel dan pariwisata menyesuaikan kampanye mereka untuk menarik turis dari  negara yang berbeda-beda,” jelas Iwan Murty, Managing Director IPSOS Indonesia.
“Misalnya pada tingkat nasional, pihak otoritas pariwisata Indonesia dapat memanfaatkan sisi ‘menyatu dengan kebudayaan’ untuk promosi Indonesia di  pasar Jepang. Sementara untuk berpromosi tentang Indonesia di pasar Australia dan Cina, daya tarik yang  bisa dimanfaatkan adalah ‘jalan-jalan melihat-lihat keindahan Indonesia’. Untuk pasar lokal sendiri, hotel-hotel dapat menawarkan  paket-paket khusus keluarga yang mengetengahkan program-program anak-anak, misalnya dalam merayakan tahun baru ataupun perayaan hari besar lainnya,” lanjut Iwan. (www.marketing.co.id)


LIHAT JUGA: