Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Karo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Karo. Tampilkan semua postingan

06 April 2012

MISTERI GUNUNG SIBAYAK(BAG 2)

GUNUNG SIBAYAK, BERASTAGI, SUKU KARO, KARO, CERITA RAKYAT, LIMA MARGA
Gunung sibayak
Guru Pertawar Reme adalah seorang dukun terkenal di kawasan Tanah Karo. Dia mampu mengobati berbagai penyakit termasuk penyakit reme (cacar) yang mengerikan itu. Pada suatu ketika penyakit berkecamuk di daerah Alas (Aceh). Guru Pertawar Reme berangkat ke sana untuk mengobati penyakit tersebut.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Berbulan-bulan lamanya dia di daerah itu dan telah banyak uang diperolehnya sebagai hasil dari pengobatannya. Namun pada suatu hari datang seseorang laki-laki dari Tanah Karo memberitahukan kepadanya bahwa anaknya dalam keadaan sakit keras. Guru Pertawar Reme kurang peduli dan karena merasa bahwa dia memiliki ilmu yang begitu hebat, maka dia berkata : “Tak usah sangsi, asalkan masih ada tulangnya sebesar sisir, dia masih dapat ku sembuhkan.” Si pembawa beritapun pulanglah dengan hati yang kesal.

Setelah lebih kurang 6 bulan berada di daerah Alas, Guru Pertawar Reme pulang ke kampungnya. Namun setelah dia samapi dirumahnya dia tidak menemukan anaknya lagi. Kepadanya dibertahu orang bahwa ketiga anaknya telah meninggal dunia dan telah dikuburkan di kaki Gunung Sibayak.

Guru Pertawar Reme bersama beberapa orang kawanannya pergi ke tempat itu. Kuburan ketiga putrinya itu digalinya dan kerangkanya dikeluarkan. Mulailah Guru Pertawar Reme mengucapkan mantra dan menggunakan semua ilmunya. Namun sia-sia belaka, anaknya tidak dapat muncul, hanya tulang – belulang yang dihadapinya, dia sangat sedih dicobanyalagi, tetapi tetap tidak berhasil. Akhirnya terdengar suara :

“Sudahlah, tidak ada gunanya lagi kami diobati, rupanya nasib kami hanya begini. Kami telah menjadi penunggu dan kramat gunung ini.” Setelah itu hilanglah tulang-tulang terbeut menjelma menjadi batu. Ketiga putrinya itu dikenal dengan nama Beru Tandang Kumerlang, Beru Batu Ernala, dan Beru Baru Erlunglung.

Kuburannya Guru petawar reme sampai sekarang masih ada, yaitu di desa kandibata. Lokasinya persis lewat titi l.au biang desa kandibata. lit kari tekongan jalan ke kiri, ada suatu bukit kecil. di bukit kecil itu ada kuburan tua. Pusarannya bersih, dan tidak pernah ditumbuhi rerumputan. Daerah angker, itulah kuburan guru pertawar remai, yang konon karena saktinya guru mbelin itu bisa menghidupkan dua putrinya yakni tandang suasa dan tandang kumerlap, walau pun nanti tulang belulangnya hanya tersisa sebesar sisir.

Mendengar keangkuhan dan kesombongan guru petawar remai ini, keramat lau biang, melaporkan hal tersebut ke keramat deleng sibayak. e me i kataken nini kertah.ernala Lalu dicurilah tulang belulang dua puteri ini.singkat cerita, saat pulang guru petawar remai tadi dari kuta kalak, tulang belulang dua putrinya itu hilang dari kuburan. saat ayahnya mau menghidupkan kedua putrinya itu kembali. Sampai akhirnya guru mbelin itu melakukan upacara raleng tendi (memanggil roh). Disitulah nini kertah memberi kesempatan terakhir kepada guru petawar remai itu, untuk bicara dengan dua putrinya melalui kain dagangen (kain kafan). Dengan percakapan terakhir anaknya berkata: "regan akapndu emas perak asangkan suasa bapa. Regan akapndu herta asangken anakndu bapa," begitulah penggalan katanya lalu guru pertawar remai itu, merigep alias menerkam kain dagangen ah ndai, i je me lausna tendi anaknya.merasa sia-sia semua kesaktiannya. yang konon jimatnya itu disimpan di dalam kendi kendi, maka dengan sumpahnya di sebuah bukit dekat kaki gunung sibayak, mengatakan, " gundari kuperpeltep ketangkan nge kandi enda ras aq i jenda. adi kune pepagi ersada ketang enda enca kutektek, e maka ersada mulihi aq ras anakku.

Dengan kecewa dan emosi, i tektekna me ketang ndai i je ras kendina. Ketang ndai pe retap, kendi-kendi si isina jimat entah pe adi isitlah guru mbelin pupuk ndai, pe pecah merap marpar la terpumahi. Ban i je ingan perpadanan entah pe sumpah guru mbelin pertawar remai, jenari me ikatakan gelarna deleng pertektekken. Je nari berangkat kita, ku gelar kuta kandi bata ingan guru pertawar remai ndai i kuburken. Kandi bata berasal dari kata kandi-kandi dibata. Yang artinya, karena begitu hebatnya jimat guru pertawar remai yang disimpannya di kendinya dan bisa menghidupkan orang mati, maka disebut kandi-kandi dibata. dan akhirnya desa itu pun bernama Kandibata sampai sekarang. (Sumber :sipesikapkutakemulihenta.blogspot.com)

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

MISTERI GUNUNG SIBAYAK


GUNUNG SIBAYAK, BERASTAGI, SUKU KARO, KARO, CERITA RAKYAT, LIMA MARGA
Gunung sibayak
Gunung Sibayak di Tanah Karo. Gunung terkenal kerana sudah banyak pendaki gunung luar dan dalam negeri yang hilang tak kembali, juga beberapa kecelakaan pesawat dan helikopter disana.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Ceritanya diawali dengan seorang pendaki bule yang hilang disana dan pencarian sudah dihentikan karena sudah beberapa hari, namun tiba tiba si bule sampai ke kaki gunung dengan selamat. Begitu sampai dia mulai berhalusinasi kalau dia selamat karena diantar seseorang bule juga yang ternyata adalah orang yang hilang beberapa waktu lalu di gunung sibayak ini. dan dia juga bilang dia mendengar suara suara orang berkumpul dan berteriak  serta menangis di atas gunung. Nah...suara suara itulah yang disebut dengan "Suara Neraka" oleh penduduk setempat. Lalu naiklah pemandu local dengan seorang peneliti jepang ke arah sumber suara itu. 

Mulailah dilakukan tes tes. untuk Halusinasi mungkin gara gara  gas sulfur yang tinggi..lalu dites kadarnya, ternyata hanya 7.4 ppm, considered ,nggak ngefek. Lalu mungkin ada gelombang elektromagnetik, yang mungkin pernah menyebabkan kecelakaan  peswat, tapi  ternyata nol juga, jadi nggak ngefek. Terakhir direkam lah "Suara Neraka"  yang menurut pendengaran secara seksama tidak lebih dari sekedar suara angin yang terperangkap di struktur  gunung.Nah..Rekaman suara itu akhirnya di bawa ke Jepang lalu dikasih ke lab yang biasa meneliti suara. Hasilnya itu memang suara angin, Namun... didalam suara angin itu banyak sekali suara berfrekuensi rendah yang tidak bisa kedengeran oleh telinga manusia, hanya 15 Hz. 

Ternyata menurut ahli di lab itu, suara berfrekuensi sangat rendah itu tak kedengeran namun bisa menghasilkan getaran yang lebih besar, dan satu lagi, bisa menstimulasi  pembentukan hormon (steroid) kalo ga salah, yang efeknya bisa menimbulkan stress  dan halusinasi pada seseorang. Nah akhirnya disimpulkan kalo suara berfrekuensi  rendah itulah yang bikin banyak orang kesasar dan berhalusinasi di gunung sibayak, termasuk beberapa kecelakaan pesawat dan helicopter di dareah gunung sibayak. Tambahan lagi..ketika ditanya penduduk lokal di sekitar kaki gunung sibayak, darimana asal  suara neraka itu?? Mereka  menjawab, dahulu kala ada seorang dukun sakti di gunung ini, namun ketika anak perempuannya sakit dia tidak bisa mengobati,  lalu  kemudia anaknya meninggal. Dukun itu sedih sekali..dan mengorbankan dirinya  kepada penunggu gunung tersebut. Sejak saat itu sering terdengar suara tangisan  (Suara Neraka) yang diasumsikan sebagai, suara tangisan dari Dukun tadi dan anak  gadisnya...
(Sumber :sipesikapkutakemulihenta.blogspot.com)
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

05 April 2012

KISAH MISTERI GUA KEMANG (GUA UMANG)


GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
Batu Kemang Si bolangit Juni. 1906.
Sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Ada yang istimewa dari batu ini, ada pintu dan ruangan di dalamnya. Masyarakat setempat meyakininya sebagai rumah Umang, orang Bunian di Tanah Karo. Dahulu kala, terdapatlah sebuah kampung kecil di salah satu daerah di Tanah Karo. Kampung Uruk Rambuten, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Hanya beberapa keluarga saja yang tinggal di sana. Rumah-rumah mereka mengelilingi sebuah pohon beringin besar. Kampung tersebut memang perkampungan kecil yang hanya dihuni marga Ketaren.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Alkisah, hiduplah seorang peladang di kampung tersebut. Dia biasa dipanggil Opung (kakek) Ketaren. Sebagai seorang peladang, Opung mau membuka hutan yang masih berada tidak jauh dari kawasan perkampungan untuk dijadikan lahan bercocok tanam.
Dalam perjalanan menuju lokasi tersebut, Opung bertemu dengan sesosok mahkluk bertubuh kecil dengan kakinya terbalik. Tumitnya menghadap ke depan dan jari kakinya ke belakang. Orang-orang menyebutnya Umang.

“Mau kemana?” Umang bertanya pada Opung. Opung menjelaskan bahwa dia mau membuka hutan untuk berladang padi. Umang pun menawarkan bantuan kepada Opung, dengan syarat Opung tidak boleh membawa perempuan dan anak kecil ke ladangnya. Opung menyanggupinya, walaupun dia sendiri punya seorang istri yang baru saja melahirkan.

Akhir kata, Umang dan kawan-kawannya membantu Opung membuka hutan. Dalam satu hari, lahan seluas tiga hektar selesai dibersihkan dan siap untuk ditanam. Sebelum senja, Opung kembali ke rumahnya. Di rumah, dia mengatakan kepada istrinya, bahwa lahan untuk ladang sudah selesai dibuka, dan besok dia akan mulai menanam padi. Dia juga meminta istrinya untuk menyiapkan benih padi yang akan ditanam besok.
Sang istri pun heran, bagaimana bisa lahan seluas tiga hektar dapat diselesaikan suaminya dalam waktu hanya satu hari. Dengan hati bertanya-tanya, dia tetap menyiapkan benih padi yang akan ditanam.

Keesokan harinya, Opung sudah berada kembali di ladangnya dengan membawa benih padi yang akan ditanam. Namun tak disangka, Umang marah padanya karena dia telah mengingkari janji. Opung sama sekali tidak mengerti kenapa Umang bisa menuduhnya seperti itu. Padahal dia tidak pernah membawa perempuan atau anak kecil ke ladangnya. Tiba-tiba saja, istri dan anak Opung sudah berada di belakangnya. Ternyata, istri Opung diam-diam mengikutinya karena rasa penasaran yang tak tertahankan. Perjanjian Opung dengan Umang pun batal. Semuanya berubah menjadi hutan kembali seperti sedia kala. Mendapati itu, Opung marah besar. Namun apa daya, nasi sudah jadi bubur.

Besoknya, Opung kembali membuka hutan tersebut untuk dijadikan ladang padi. Selama berhari-hari akhirnya Opung pun berhasil membersihkannya. Ketika itulah ditemukan batu besar yang disebut Gua Kemang. Hingga saat ini, batu besar tersebut diyakini oleh masyarakat setempat sebagai rumah Umang yang pernah membantu Opung.

Cerita Mistik Gua Kemang

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
Batu Kemang Si bolangit Juni. 1906.
   Umang” merupakan bahasa Karo yang berarti jin atau roh. Seperti diceritakan oleh Tolen Ketaren, fisik dari Umang seperti manusia, tapi lebih kecil. Bedanya lagi, kalau berjalan, kakinya terbalik, tumitnya menghadap ke depan sedangkan jari-jari kakinya ke arah belakang. “Itu kata orang yang sudah pernah melihatnya. Seperti orang bunian,” jelas Tolen setelah menceritakan kisah asal muasal Gua Kemang yang dipercayai masyarakat setempat. Sekitar tahun 1970-an, menurut Tolen, masyarakat masih sering bertemu dengan Umang. Bahkan ada juga masyarakat yang dibawa ke hutan oleh Umang. “Tapi kalau balik, ada kurang-kurangnya,” ujar pria yang pernah menjadi Kepala Desa Sembahe pada 2001-2007 ini. Dulunya, Gua Kemang yang diyakini sebagai rumah Umang ini dikenal juga dengan nama Gua Umang. Karena mistis, banyak orang yang bertapa dan membawa sesajen ke sana. Bahkan dulu, setiap orang yang lewat di daerah Sembahe, selalu singgah dan menyembah batu ini. “Makanya dibilang Sembahe. Asal kata dari ‘semba e’, sembah ini. Sembahe dulu di kampung itu,” jelas Tolen.

Dulu gua batu ini juga bisa tiba-tiba menghilang, raib entah kemana. Menurut keyakinan masyarakat di sana, hal itu berarti ada Umang yang menempatinya. “Kadang nampak batunya, kadang tidak. Kata orang, kalau umangnya sudah pergi, baru nampak batunya,” ujar Tolen. Seperti dikisahkan Tolen lagi, menurut cerita dari orang-orang tua di sana, terdapat jalan bawah tanah dari Gua Kemang menuju sebuah batu besar lainnya. “Secara magis, ada jalan bawah tanah dari gua batu itu ke Batu Penjemuren, tempat jemuran padi si Umang,” cerita bapak berusia 46 tahun tersebut. Batu Penjemuren sendiri merupakan batu besar dengan bagian atasnya yang datar. Batu ini berada di pinggir Sungai Sembahe, sekitar satu kilometer dari Gua Kemang. Namun jalan bawah tanah tersebut tidak pernah ditemui oleh Tolen.

Gua batu yang ditemukan oleh masyarakat setempat pada zaman penjajahan Belanda ini, pernah hendak diangkat untuk dipindahkan ke Belanda. Tetapi tidak bisa dipindahkan. Tolen sendiri pun tidak tahu kenapa gua batu ini tidak bisa diangkat. Mungkin ada kaitannya juga dengan kekuatan magisnya. Sebagian masyarakat meyakini bahwa hingga saat ini kadang-kadang masih ada yang menghuni gua batu tersebut. “Konon, sekarang masih ada penghuninya,” kata Hendri, pemuda setempat yang menemani saya menuju lokasi Gua Kemang. Kampung Uruk Rambuten yang dianggap sebagai awal Desa Sembahe, sampai saat ini masih dikenali. Namun tak ada lagi penduduk yang menghuni kampung tersebut. Kampung Uruk Rambuten berada di dekat lokasi jatuhnya pesawat Garuda Indonesia pada 26 September 1997 lalu. Menurut Tolen, ada kemungkinan pesawat tersebut jatuh karena tersangkut pohon beringin besar yang tumbuh di tengah-tengah kampung Uruk Rambuten.

Situs Budaya yang Terbengkalai

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGA
   Gua Kemang berlokasi di Kampung Durintani, Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang. Tepatnya berada di lahan perkebunan seorang penduduk yang juga bermarga Ketaren. Untuk menuju lokasi gua batu ini, kita dapat berjalan kaki sejauh satu kilometer dari simpang Durintani, arah kanan dari Medan. Tidak susah menemukan simpang Durintani. Ada sebuah plang dari semen yang terdapat di simpang tersebut. “Situs Gua Kemang (Gua Batu), Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara, Proyek Pembinaan Kebudayaan APBD Tingkat I Sumatera Utara,” itulah yang tertulis di sana. Ternyata gua batu yang diyakini oleh para arkeolog sebagai peninggalan manusia pra sejarah ini sudah menjadi salah satu situs budaya milik pemerintah.
Jalan aspal mengawali perjalanan menuju gua batu. Namun separuh jalan setelahnya kita terpaksa melewati jalanan berbatu yang sedikit menanjak. Cukup menguras keringat juga. Apalagi mengingat kondisi tubuh saya yang sudah lama tak pernah berolahraga. Terasa cukup lama juga kami berjalan kaki, mungkin lebih setengah jam. Akhirnya pintu masuk menuju gua batu ini sudah berada di depan mata. Namun sebuah kondisi yang cukup mengiris hati akhirnya menyambut kami. Pagar dan tembok yang menjaga situs budaya ini sudah berlumut. Begitu pun tangga yang akan mengantar kami hingga ke atas, di mana gua batu berada. Ukiran yang tertulis di tembok pagar sudah hampir tak terbaca akibat lumut yang begitu tebal. “Pernah dibangun parkir dan jalannya oleh Kanwil Depdikbud tahun 75-an. Namun tidak berkembang,” ujar Tolen seakan-akan mengerti pertanyaan yang muncul di benak kami.

Kami pun melanjutkan sisa-sisa perjalanan, menempuh puluhan tangga hingga sampai ke lokasi Gua Kemang yang berada di bagian atas kebun. Kondisi gua ternyata tak jauh beda dengan apa yang kami jumpai sebelumnya. Lumut tebal menyelimuti dinding luarnya. Dua relief serupa manusia yang diyakini sebagai bentuk sosok Umang tersebut tak lagi terlihat jelas.“Dulu batu ini besar. Ada batu-batu lain juga di sekitar gua. Batu-batunya seperti meja, kursi, tapi dirusak Belanda. Ada yang dibuang, ada yang dimasuki ke kantong plastik. Tapi tidak tau yang mana yang diambil,” cerita Tolen menjelaskan lagi tentang Gua Kemang yang berada di bawah sebuah pohon rambe, sejenis pohon langsat.


GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGADi bagian depan gua, ada lobang kecil berukuran sekitar 50 x 50 cm dengan pahatan berbentuk segitiga di bagian atasnya. Semacam pintu bagi rumah Umang. Di dalam gua hanya terdapat satu chamber berukuran sekitar 3 x 2 meter dengan tinggi sekitar satu meter. Bagian atas dalam gua mirip dengan atap rumah biasa, mengerucut ke atasnya.

Di sisi kanan dan kiri dalam gua, ada dua undakan, seperti tempat tidur. Sedangkan di sebelah kanan ada ruangan kecil memanjang. “Mungkin dapurnya Umang,” ujar Hendri. Atau mungkin tempat tidurnya bayi Umang?

GUA KEMANG, CERITA RAKYAT, KARO, SUKU KARO, LIMA MARGASelain itu, terdapat juga ukiran-ukiran serupa tulisan Arab di dalam gua di bagian atas pintu. Menurut Tolen, mungkin saja itu tulisan Karo, karena jika dilihat dari bentuknya, tulisan Karo hampir mirip dengan bentuk tulisan Arab. Namun tidak jelas juga kepastiannya karena di beberapa bagian dinding dalam gua juga banyak coretan-coretan manusia yang iseng mengukir namanya di sana. Rusaklah sudah!
Namun yang paling perlu diperhatikan di sini adalah kondisi Gua Kemang. Cukup memprihatinkan, mengingat gua ini pernah dijadikan sebagai salah satu situs budaya di Sumatera Utara. Jika pemerintah sekarang tak mengindahkan ini, bisa saja Gua Kemang benar-benar akan hilang untuk selamanya.
(Sumber : Insidesumatera,stmik neuman,friantonaibaho.blogspot.com)
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Cerita terkait:
·        Asal Usul Nama Gunung Sibayak 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Beru Ginting Sope Mbelin
·        Misteri Gunung Sibayak 

MENGUAK MISTERI BEGU GANJANG

cerita rakyat,karo, suku karo, lima marga, begu ganjang, begu.
Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di tanah karo, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut. 
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366


Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku karo sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Karo (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang karo jaman dulu, telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang karo sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.

Selanjutnya, masyarakat karo percaya, disamping para Dibata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tendi dan begu.

Tendi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tendi. Tendii memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang karo jaman dulu mengenal dua jenis tendi, yaitu: tendi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tendi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tendi nya.

Kehadiran tendi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tendi, atau kepergian tendi dari tubuh manusia. Bila kepergian tendi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tendi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian.

Demikian ulasan singkat mengenai paham orang karo tentang begu dalam konteks ‘pneumatologi’ Batak karo tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di tanah karo sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.
(Si Pesikap Kuta Kemulihenta.blogspot.com)

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366
Cerita terkait:
·        Putri Hijau 
·        Cincin Pinta Pinta 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Misteri Gunung Sibayak 

SEJARAH SIBAYAK LINGGA

sibayak lingga
Ditanah Pak-Pak dahulu kala ada seorang raja yang terkenal bertempat tinggal di kampung Linggaraja, yang mempunyai beberapa orang putera dan seorang puteri. Pada suatu hari raja itu sakit keras, dan walaupun sudah beberapa orang dukun mencoba mengobatinya, penyakitnya tidak berkurang malahan semakin parah, sehingga kaum kerabat dan rakyatnya amatlah bersusah hati. Pada suatu ketika, singgahlah di kampung Linggaraja serombongan dukun (Guru Pakpak pitu sedalananen, namanya "Erciken tungkatna malaikat" dan "Erpustakaken pustaka najati"), kepada 7 orang dukun Pakpak ini dimintailah pertolongan untuk mengobati raja itu.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Sesudah dukun itu membaca-baca pustakanya dan melihat nujumnya, maka berkatalah ia kepada permaisuri (kemberahen), agar raja itu dapat sembuh, hendaklah dibuat "persilihi raja", persilihi bukan sembarang persilihi, tetapi dengan membuang harta yang paling disayangi oleh raja itu bersama permaisurinya. Sudah tentu permaisuri dan kaum kerabat sekalian sangat bersuka cita mendengar itu,dan sekejap itu juga terus memperlihatkan semua harta-harta yang disayanginya, tetapi tiap kali diperlihatkan satu macam harta, ke-7 orang dukun itu tetap saja menggelengkan kepalanya, tanda bukan itu yang dimaksudkannya. Sudah habis semua harta-harta diperlihatkannya, tetapi dukun tetap juga menggelengkan kepalanya, sehingga akhirnya sadarlah permaisuri bahwa yang dimaksud oleh dukun bukanlah harta duniawi, tetapi salah seorang puteranya, dukun tidak sampai hati menerangkan demikian.

istana sibayak karo
Permaisuri memanggil dan bermusyawarah dengan putera-puterinya tentang hal itu, dan putera-puterinya berkata bahwa mereka tidak berkecil hati dan tidak akan menolak kalau salah seorang diantara mereka dijadikan "persilihi" supaya ayahnya dapat sembuh. Sesudah itu maka ditetapkanlah oleh dukun hari yang baik untuk melangsungkan pekerjaan "persilihi",dan dipotonglah kerbau dan diundanglah seluruh kaum keluarga. Maka diterangkanlah oleh permaisuri dan raja bahwa anaknya yang paling disayanginya adalah puteranya yang bungsu, maka dijalankanlah acara persilihi, ia diberi makan diatas daun ujung pisang yang sudah dibubuhi makanan-makanan persilihi, yakni pisang, bunga-bunga, cimpa embun-embunen (sejenis kue-kue) dan sewaktu mau pergi meninggalkan kampung halaman, raja memberi petuah kepada anaknya yang bungsu itu agar membawa tanah dari daerah tersebut segenggam dan air setabu, apabila kelak hendak memilih tempat tinggal, hendaklah tanah dan air disitu dibandingkan dengan tanah dan air yang dibawa, moga-moga Tuhan akan memberkati, sampai keturunannya sebanyak bintang dilangit.

   Maka berjalanlah si anak bungsu tadi dengan membawa air dan tanah sebagaimana yang dikatakan ayahnya dan mengambil jalan kearah "cibal tekang" (dari Selatan ke Utara). Benarlah apa yang dikatakan para nujum, sesudah anaknya pergi 3-4 hari lamanya, maka penyakit raja itupun berangsur-angsur hilang. Dalam pada itu puteri raja kembali mengingatkan saudaranya yang paling tua, supaya mencoba menyusul adiknya yang bungsu. Putera yang paling tua segera menyusul dengan menggunakan kuda milik ayahnya dan memacu kearah perginya sang adik bungsu. Setelah beberapa hari dalam perjalanan dia belum juga menjumpai adiknya, akhirnya disuruhnya kuda itu untuk bersuara sekuat-kuatnya berkali-kali supaya terdengar oleh adiknya seandainya dia berada disekitar itu. Kebetulan adik bungsunya tidak jauh dari tempat itu, dan ia mendengar suara kuda ayahnya. Iapun segera mendatangi tempat suara itu dan bertemu dengan saudaranya yang paling tua. Abangnya mengusulkan agar bersama-sama mengembara, tapi si bungsu menolak dengan alasan dia lebih suka mengembara seorang diri supaya ayahnya tetap sembuh.
   Akhirnya diputuskan bahwa mereka mengembara sendiri-sendiri karena saudaranya yang tertuapun sudah berjanji dalam hatinya tidak akan kembali kekampung halamannya.
Sesudah bersalaman, si bungsu melanjutkan perjalanan ke arah utara dan saudaranya ke arah barat. Akhirnya si bungsu tibalah disuatu tempat yang dinamai Kuta Suah dilembah Uruk Gungmbelin dekat kampung Lingga sekarang, disitu dia mendirikan rumah dan menikah, dan dikaruniai 3 anak laki-laki yang bernama Tembe, Cibu dan Serukati dan 1 anak perempuan yang bernama Tambar Malem. Suatu hari mereka menemukan tempat yang bagus dan airnya baik di tempat yang sekarang disebut kampung Lingga, akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ketempat yang bagus itu, namun Cibu dan Serukati memohon kepada orang tuanya untuk dapat tinggal di tempat yang mereka pilih sendiri, jadi yang tinggal di Lingga hanya kedua orangtuanya, Tembe dan Tambar Malem, dan menamai kampung itu "Lingga" sebagaimana kampung si anak bungsu yang pergi merantau yaitu "Lingga Raja". Adapun si Cibu pergi kearah Selatan dan menemukan tanah yang baik dan diberi nama kampung Kacaribu sedangkan Serukati ke arah Utara dan mendirikan kampung Surbakti. Akhirnya masing-masing kampung itu menjadi ramai karena keturunan masing-masing.


Kembali kepada kisah anak yang sulung, sesudah dia bersalaman dengan adiknya yang bungsu, diapun tidak kembali ke Linggaraja melainkan juga mengembara dengan menunggang kudanya mengambil jalan kearah sebelah barat dengan mengikuti barisan bukit (sekarang dinamai Uruk Tapak Kuda), karena bekas tapak kudanya. Sesudah beberapa hari perjalanan maka sampailah ia di Nodi (diperbatasan Tanah Karo dengan Tanah Alas) dan disana dia mendirikan rumah dan menikah. Dari perkawinannya lahir 3 orang putera.


Pada suatu hari kampung itu ditimpa oleh bencana banjir karena menurut kepercayaan ada seorang yang memotong binatang yang dianggap suci, karena musibah itu maka ia menyuruh ke tiga puteranya untuk mengungsi sedangkan ia dan istrinya tetap tinggal di kampung itu karena sudah merasa tua. Ketiga puteranya pergi kearah Barat dan tiba di tanah Gayo (Aceh).


Di tanah Gayo penduduk sudah beragama Islam dan ketiga orang itu kalau mau tinggal di situ harus masuk Islam dan disunat. Putera yang tua dan yang tengah akhirnya disunat dan masuk Islam, namun anak ketiga tidak dapat disunat karena dia memiliki kekebalan terhadap benda tajam, oleh karena itu si bungsu pergi meninggalkan kampung tersebut dan pergi kearah Timur dan tibalah di kampung Perbesi, disana dia bercerita bahwa dia adalah keturunan dari Linggaraja dan oleh orang-orang di kampung Perbesi di ceritakan bahwa ada kampung di dekat situ yang bernama Lingga dan kebanyakan adalah keturunan dari Linggaraja juga, akhirnya si bungsu berjalan ke desa Lingga dan menginap di rumah (kesain) Silebe Merdang di bagian rumah Ulujandi.


Si bungsu langsung menarik perhatian khalayak karena kepandaiannya untuk menyelesaikan perselisihan dikampung Lingga sehingga dia akhirnya diangkat sebagai bapak (perbapaan), dan diketahui oleh orang sekampung itu bahwa mereka memiliki asal-usul yang sama yaitu dari Linggaraja. Sebagai penghormatan kepadanya maka ia dikawinkan dengan seorang wanita dari kampung Surbakti, beru Ginting Suka rumah Page, juga dikawinkan dengan beru Sebayang dari kampung Perbesi serta juga beru Tarigan Girsang dari Si bungsu inilah yang memerintah dikesain rumah Jahe kampung Lingga, jadi perbapaan di kesain rumah Jahe dan Urung Telu Kuru. Namanya menjadi Raja.
   Pada suatu waktu datanglah Raja Aceh bersama beberapa orang pengiringnya dan berkemah di Lau Bahun (diantara kampung Lingga dan Surbakti). Raja Aceh memanggil semua Raja di tanah Karo dan akan menetapkan siapa yang jadi kepala ditiap-tiap daerah di Tanah Karo. Untuk menentukannya Raja Aceh memakai cara yang dianggap adil yaitu dengan cara para raja itu harus menunggangi seekor kerbau yang dinamai "kerbau sinangga lutu", barang siapa dapat menunggangi kerbau itu sampai kerbau itu merasa berat, sampai merendahkan badannya ataupun ngenat maka orang itulah yang diangkat menjadi raja. Akhirnya semua raja-raja dari Lingga, Surbakti, Kacaribu, Beganding, Berasitepu, Naman disuruh untuk menaiki kerbau sampai akhirnya si Raja dari Lingga (yang lahir di Nodi dan datang dari Gayolah) yang dapat membuat kerbau itu merasa berat, sehingga iapun ditetapkan menjadi Raja yang terbesar dan diberikan sebuah "Pisau Bawar", hal ini juga dilakukan Raja Aceh terhadap kerajaan Barus Jahe, Suka dan Sarinembah, dan ditambah kerajaan Lingga menjadi "Raja Berempat" dan Raja Lingga itu ketika meninggal dikuburkan di uruk "Gungmbelin" (sebuah bukit dekat Kampung Lingga).
Kerajaan lalu diperintah oleh 3 putera tertuanya dari masing-masing permaisuri yaitu:
NAMA
ANAK DARI
Ganci Raja
Beru Ginting Rumah page
Katasenina
Beru Sebayang Perbesi
Pa Timbang Raja
Br Tarigan Simalungun

Adapun pergantian pergantian selanjutnya sebagai berikut:

Ganci Raja
Katasenina
Pa Timbang Raja 
Keterangan
Mariam
Rajakin
Timbang Raja      
Tempas Raja
Gunung
Gunung anak dari Hat saudara Rajakin
Paras
LaksaAntukParas anak dari Betul, saudara tua Tempasraja
Rasingal
Pa TerangLabasRasingal, anak dari Tempasraja
Rasibngal
Pa Terang
Lambas berhenti tahun 1904

pa sendi sibayak lingga
Kira kira tahun 1905 Belanda masuk ke tanah Karo dan keduanya Rasingal dan Pa Terang diakui oleh Pemerintahan Hindia Belanda jadi raja dari Kerajaan Lingga dan daerah taklukannya. Keduanya mengikat perjanjian pendek dengan Belanda pada Desember 1907. Pada tahun 1921 pa Terang wafat sehingga Rasingal (Pa Sendi) ditetapkan sendirian menjadi Raja, dan Rajanta anak dari Pa Terang ditetapkan menjadi perbapaan Urung Telu Kuru 28 Juli 1934, Rasingal wafat dan digantikan oleh puteranya Raja Kelelong dan mengikat perjanjian pendek dengan Belanda pada tanggal 25 Juli 1935. Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi Republik maka semua Kerajaan lebur dan Raja Kelelong diangkat sebagai Bupati di Tanah Karo namun tidak memiliki kerajaan lagi, ia meninggal tanggal 21 Januari 1963 dan dimakamkan di "Uruk Nggungmbelin" tempat makam raja-raja Kerajaan Lingga, sisa kerajaan akhirnya dibakar oleh rakyat yang mengganggap bangunan kerajaan adalah sisa dari feodalisme Belanda ini terjadi pada Agresi Belanda II.


Keturunan dari Raja Kelelong sebagai berikut:
Kemberahen br Singarimbun Tiga Nderket
Kemberahen br Tarigan Bukum
Hadwing
Raja ngikut
Raja Nangih
Raja Nambah 
Anni
Rosenna 

Raja Ndemi
Raja Nangkih Sinulingga merupakan putera tertua Raja Kelelong yang lahir di Kabanjahe 10 November 1931, beliau ikut dalam pengungsian ke berbagai tempat semasa Agresi Belanda, ikut dengan bibinya (Lemet S br Sinulingga, istri dari T.Madja Purba) di Pematang Siantar lalu melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarata, pindah ke Universitas Indonesia Jakarta dan lulus menjadi Notaris, dan bekerja di Madiun 1969 - 1989, pindah ke Jakarta dan pensiun tanggal 10 November 1996, menikah tahun 1961 dengan Roffyana Tetap Sembiring dari Beganding dan dikaruniai 3 anak laki-laki dan seorang perempuan yaitu:Isfridus Josef Radja Nemani Sinulingga (author), Chrysologus Radja Nampeken Sinulingga, Francisca Carolyne Sinulingga dan Michael Raja Nehken Sinulingga.

   Roffyana Tetap Sembiring meninggal dunia di Jakarta tanggal 11 Desember 1998, karena sakit kanker, dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Raja Nangkih Sinulingga meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 23 Januari 2000, sesaat setelah menyerahkan buku pedoman silsilah keluarga SINULINGGA, kepada perkumpulan 'SINULINGGA MERGANA SI LIMA INDUNG RAS ANAK BERUNA SE JABOTABEK',yang telah disusunnya selama 6 tahun. Beliau dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.(sumber : sibayaklinga.com,KITLV,Tropenmuseum)
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

30 Maret 2012

ANAK KUCING MBIRING


   Kune nina moria, lit me nina sada turi-turin anak kucing; nandenan mbiring kal rupana. Anak kucing e rusur kurang mejile akapna nandena, perbahan nandena e mbiring kal rupana. E maka isambarina me atena nandena.
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Lawes me ia ndahi matawari nina: “O matawari, aku kam kal ateku kubahan jadi nandengku, sebab kam terang kal rupandu.” Reh nina matawri ngaloisa: “O anak kucing, kami matawari enda pe suah kal akap kami. Sebap adi reh embun, minter kal bene terang kami e, itutupina kami, gelap minter.”

Kenca bage lawes ka me anak kucing e ndahi embun nina mindo: “O embun, aku kam kal ateku kubahan jadi nandengku, sebap matawari pe banci italukendu.” Reh nina embun e ngaloisa: “Labo bage, o anak kucing! Kami pe gulut nge akap kami, sebap reh kenca angin, iembusna kami, minter mistak kami.”

Kenca bage lawes ka me anak kucing e ndahi angin, nina mindo: “O angin, aku kusambari ateku nandengku: kam kal ateku jadi nandengku.” Ngaloi ka angin, nina: “O anak kucing, labo bagi katandu e, kami angin enda pe mesui nge ate kami, sebap adi rembus kenca kami minter itombeng deleng.”

Lawes ka me anak kucing e ndahi deleng, nina: “O deleng, aku kam kal ateku kubahan jadi nandengku, sebap angin pe banci italuken kam.” Ngaloi deleng nina: “Labo bagi katandu e, o anak kucing. Kami deleng-deleng pe lit nge sinanggel kami, sebap keri meruhruh daging kami ikuruki menci.”

E maka lawes ka anak kucing e ndahi menci, nina: “O menci, kam kal ateku kubahan jadi nandengku, sebap deleng-deleng pe talu nge ibahan kam.” Ngaloi menci nina: “Labo bagi katandu ena, kami ras anak-anak kami itangkap kucing mbiring ah!”



Kenca bage maka lawes me anak kucing ndai ndahi kucing mbiring e
janahna kiam lanai tehna tumburen.





(eme nandena ndube) janah nina ibas ukurna: “Nande nge kepe maka nande.”
 
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366







Salah Aku  Nande.....

Sumber: Turikenlah NANDE NGE MAKA NANDE,
Nurliamin Ukur Muli br Pinem ras Pdt. Dr.E.P.Gintings (Penyunting).


Berita Terkait :

·        Asal Usul Masyarakat Karo
·        Putri Hijau 
·        Asal Usul Nama Gunung Sibayak 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Sejarah Sibayak Lingga 

SI BERU DAYANG (ASAL MULA PADI)



Si Beru Dayang adalah istilah masyarakat Tanah Karo, Sumatera Utara, untuk menyebut nama tanaman padi. Konon, padi atau beras yang kini menjadi makanan pokok masyarakat Tanah Karo merupakan penjelmaan seorang anak laki-laki yang bernama Si Beru Dayang. Bagaimana Si Beru Dayang dapat menjelma menjadi tanaman padi? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Beru Dayang berikut ini!


Alkisah, di Tanah Karo, Sumatera Utara, Indonesia, berdiri sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Saat itu, penduduk negeri itu belum mengenal tanaman padi. Makanan pokok mereka adalah buah kayu yang banyak terdapat di sekitar mereka. Meski hanya menggantungkan hidup pada buah kayu tersebut mereka dapat hidup makmur dan sejahtera.

Suatu ketika, kemarau panjang melanda negeri tersebut sehingga pepohonan yang baru saja mulai berbuah menjadi layu. Malapetaka itu pun menyebabkan seluruh penduduk negeri menderita kelaparan. Tubuh mereka tampak lemah dan kurus karena kekurangan makanan. Di antara penduduk tersebut tampak seorang anak laki-laki yang sudah yatim bernama si Beru Dayang sedang menangis di pangkuan ibunya. Tubuh bocah itu kurus kering dan wajahnya sangat pucat. Bocah itu kemudian merengek-rengek minta makan kepada ibunya.

“Ibu, aku lapar... Aku mau makan Bu,” rengek anak itu.

Tangisan si Beru Dayang benar-benar menyayat hati ibunya. Namun, sang ibu tak dapat menolongnya. Ia hanya bisa meneteskan air mata sambil merangkul anak semata wayangnya. Semakin lama tubuh si Beru Dayang semakin lemas hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di dalam pangkuan sang ibu. Melihat anaknya tidak bernyawa lagi, sang ibu seketika menangis histeris.

“Anakku, jangan tinggalkan Ibu nak!” tangis sang ibu sambil merangkul erat anaknya.

Para warga yang mengetahui hal itu segera mengubur si Beru Dayang di makam perkampungan. Sejak kepergian anaknya, kesedihan sang ibu semakin bertambah karena hidupnya semakin sepi. Orang-orang yang ia cintai dan sayangi semuanya telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

“Tidak ada lagi gunanya aku hidup di dunia ini. Semua yang aku miliki telah sirna,” kata ibu itu dengan putus asa.

Ibu si Beru Dayang pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dengan tubuh yang lemah, ia berjalan menuju ke sungai yang berada di ujung kampung. Setiba di tepi sungai, ia berdoa kepada Dewata agar segera merenggut nyawanya.

“Ya, Dewata Yang Maha Agung! Hilangkanlah kesedihan dan nestapa hamba untuk selamanya!” pinta ibu itu.

Usai berucap demikian, ibu si Beru Dayang langsung terjun ke dalam sungai yang dalam. Sungguh ajaib, begitu tubuhnya menyentuh air, tiba-tiba ia menjelma menjadi seekor ikan. Tak seorang pun warga yang menyaksikan peristiwa ajaib itu karena mereka semua hanya memperdulikan diri sendiri yaitu bergelut melawan rasa lapar.

Sudah beberapa bulan telah berlalu, namun musim kemarau belum juga berakhir. Semua tumbuh-tumbuhan telah mengering bagaikan habis terbakar. Korban pun semakin banyak yang berjatuhan. Hampir setiap hari terdengar isak tangis kematian yang memilukan di negeri itu.

Sementara itu, warga yang masih kuat bertahan berupaya mencari makanan untuk sekadar pangganjal perut. Di tengah padang yang kering kerontang tampak dua orang anak kecil sedang mengais-ngais tanah untuk mencari umbi-umbian. Setelah beberapa saat mengais tanah, salah seorang dari mereka menemukan buah berbentuk bulat sebesar buah labu.

“Hai, lihat! Buah apa yang aku temukan ini?” tanya salah seorang dari anak itu.

Anak yang satunya segera mendekati temannya. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah mengamati buat itu pertanda tidak tahu karena ia sendiri belum pernah melihat buah seperti itu.


 Akhirnya, kedua anak tersebut membawa pulang buah itu untuk ditunjukkan kepada orang tua mereka. Ternyata orang tua mereka juga tidak tahu mengenai buah itu karena baru kali itu melihatnya. Penemuan buah yang asing oleh kedua anak tersebut membuat gempar seluruh penduduk negeri. Sang Raja yang mendapat laporan dari salah seorang warga pun berkenan datang untuk melihatnya. Saat raja dan para penduduk berkumpul melihat buah itu, tiba-tiba terdengar suara dari angkasa.

“Wahai penduduk negeri! Buah yang ada di hadapan kalian adalah penjelmaan seorang anak laki-laki kecil yang bernama Si Beru Dayang. Potong-potonglah buah itu hingga halus dan kemudian tanamlah hingga tumbuh menjadi subur. Jika buah penjelmaan Si Beru Dayang itu kalian pelihara dengan baik, kelak akan berbuah dan menjadi makanan kalian. Anak itu sangat merindukan ibunya. Pertemukanlah ia dengan ibunya yang telah menjelma menjadi ikan di sungai! Niscaya kalian tidak akan kelaparan lagi,” ujar suara ajaib itu.

Tanpa berpikir panjang, sang raja segera memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan semua pesan yang disampaikan oleh suara itu. Para warga pun segera memotong-motong buah itu hingga halus, kemudian mereka tanam dan rawat dengan baik. Bersamaan dengan itu, kemarau pun berakhir. Hujan deras pun mulai turun sehingga potongan-potongan buah itu tumbuh dengan subur menjadi tanaman yang menyerupai rumput.

Dua bulan kemudian, tamanan itu berbunga dan berbuah. Buahnya berbulir atau bergerombol dalam setiap tangkai. Setelah genap tiga bulan, buah tanaman itu pun menguning dan siap untuk dipanen. Sang raja bersama seluruh rakyatnya pun segera memanen buah itu dengan suka ria. Setelah dipanen, buah itu kemudian mereka jemur dan tumbuk untuk memisahkan kulit dengan isinya. Isinya itulah kemudian mereka masak dan cicipi bersama-sama.

“Hmmm... rasanya enak dan gurih,” kata sang raja setelah mencicipi masakan itu.

Sejak itulah, penduduk Tanah Karo membibit dan memelihara tanaman yang kemudian mereka sebut Beru Dayang. Makanan pokok mereka yang semula dari buah kayu pun beralih ke Beru Dayang. Untuk mempertemukan Si Beru Dayang dengan ibunya, masyarakat Tanah Karo menyantap makanan itu bersama dengan ikan yang dipercaya sebagai penjelmaan dari ibu Beru Dayang.

Ternyata, buah tanaman yang sering mereka sebut Beru Dayang itu adalah padi. Meski demikian, masyarakat Tanah Karo tetap menyebut buah padi itu dengan istilah Beru Dayang. Bahkan, mereka memiliki beberapa nama untuk menyebut Beru Dayang tersebut seperti si Beru Dayang Merengget-engget yaitu ketika tanaman padi masih berumur enam hari, dan si Beru Dayang Meleduk yakni ketika tanaman padi sudah berumur satu bulan.

* * *
Demikian cerita Si Beru Dayang dari daerah Tanah Karo yang mengisahkan tentang asal mula padi. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. Salah satunya adalah pentingnya sikap saling kerjasama dalam mengatasi masalah. Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku sang raja dan para warganya bersama-sama untuk menanam dan merawat buah yang ditemukan oleh dua orang anak kecil itu. Berkat kerjasama tersebut, mereka pun terbebas dari bencana kelaparan

Bandingkan tulisan "the concept of female spirits and the movement of fertility in Karo Batak culture (Sumatra)"
Source: Asian Folklore Studies
Publication Date: 10/01/1997
Author: Goes, Beatriz van der
COPYRIGHT 1997 Asian Folklore Studies

Berita Terkait:

·        Asal Usul Masyarakat Karo
·        Putri Hijau 
·        Asal Usul Nama Gunung Sibayak 
·        Asal Mula Danau Lau Kawar 
·        Sejarah Sibayak Lingga 

BERU GINTING SOPE MBELIN


Di daerah Urung Galuh Simale ada sepasang suami istri, yaitu Ginting Mergana dan Beru Sembiring. Mereka hidup bertani dan dalam kesusahan. Anak mereka hanya seorang, anak wanita, yang bernama Beru Ginting Sope Mbelin.
Untuk memperbaiki kehidupan keluarga maka Ginting Mergana mendirikan perjudian yaitu “judi rampah” dan dia  mengutip cukai dari para penjudi untuk mendapatkan uang. Lama kelamaan upayanya ini memang berhasil.

   Keberhasilan Ginting Mergana ini menimbulkan cemburu adik kandungnya sendiri. Adik kandungnya ini justru  meracuni Ginting Mergana sehingga sakit keras. Akhirnya meninggal dunia. Melaratlah hidup Beru Ginting  Sope Mbelin bersama Beru Sembiring. Empat hari setelah kematian Ginting Mergana, menyusul pula beru Sembiring meninggal. Maka jadilah Beru Ginting  sope Mbelin benar-benar anak yatim piatu, tiada berayah tiada beribu. Beru Ginting Sope Mbelin pun tinggal dan hidup bersama pakcik dan makciknya. Anak ini diperlakukan dengan sangat kejam, selalu dicaci-maki walaupun sebenarnya pekerjaannya semua berres. Pakciknya berupaya memperoleh semua harta pusaka ayah Beru Ginting Sope Mbelin, tetapi ternyata tidak berhasil. Segala siasat dan tipu muslihat pakciknya bersama konco-konconya dapat ditangkis oleh Beru Ginting Sope Mbelin.

   Ada-ada saja upaya dibuat oleh makcik dan pakciknya untuk mencari kesalahan Beru Ginting Sope Mbelin, bisalnya menumbuk padi yang berbakul-bakul, mengambil kayu api berikat-ikat dengan parang yang majal, dll. Walau Beru Ginting Sope Mbelin dapat mengerjakannya dengan baik dan cepat – karena selalu dibantu oleh temannya Beru Sembiring Pandan toh dia tetap saja kena marah dan caci-maki oleh makcik dan pakciknya.
   Untuk mengambil hati makcik dan pakciknya, maka Beru Ginting Sope Mbelin membentuk “aron” atau “kerabat kerja tani gotong royong” yang beranggotakan empat orang, yaitu Beru Ginting Sope Mbelin, Beru Sembiring Pandan, Tarigan Mergana dan Karo Mergana. Niat jahat makcik dan pakciknya tidak padam-padamnya. Pakciknya menyuruh pamannya untuk menjual Beru Ginting Sope Mbelin ke tempat lain di luar tanah Urung Galuh Simale. Pamannya membawanya berjalan jauh untuk dijual kepada orang yang mau membelinya. Di tengah jalan Beru Ginting Sope Mbelin bertemu dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini memberi kain kepada Beru Ginting Sope Mbelin sebagai tanda mata dan berdoa agar selamat di perjalanan dan dapat bertemu lagi kelak.

   Kemudian sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di Tanah Alas di kampung Kejurun Batu Mbulan dan diterima serta diperlakukan dengan baik oleh Tengku Kejurun Batu Mbulan secara adat. Selanjutnya sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di tepi pantai. Di pelabuhan itu sedang  berlabuh sebuah kapal dari negeri jauh. Nakhoda kapal itu sudah setuju membeli Beru Ginting Sope Mbelin dengan  harga 250 uang logam perak. Beru Ginting Sope Mbelin disuruh naik ke kapal untuk dibawa berlayar. Mesin kapal dihidupkan tetapi tidak jalan. Berulang kali begitu. Kalau Beru Ginting Sope Mbelin turun dari kapal, kapal itu dapat berjalan, tetapi kalau dia naik, kapal tidak dapat berjalan. Nakhoda akhirnya tidak jadi membeli Beru Ginting Sope Mbelin dan uang yang 250 perak itu pun tidak dimintanya kembali.

   Perjalanan pun dilanjutkan. Ditengah jalan, paman Beru Ginting Sope Mbelin pun melarikan diri pulang kembali ke kampung. Dia mengatakan bahwa Beru Ginting Sope Mbelin telah dijual dengan harga 250 perak serta menyerahkan uang itu kepada pakciknya Beru Ginting. Pakciknya percaya bahwa Beru Ginting telah terjual. Beru Ginting Sope Mbelin meneruskan perjalanan seorang diri tidak tahu arah tujuan entah ke mana, naik gunung  turun lembah. Pada suatu ketika dia bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang mengajar anaknya. Anehnya harimau tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin, bahkan menolongnya menunjukkan jalan yang harus ditempuh.

Beru Ginting Sope Mbelin dalam petualangannya sampai pada sebuah gua yang dalam. Penghuni gua – yang bernama Nenek Uban – pun keluar menjumpainya. Nenek Uban ini pun tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin bahkan membantunya pula. Nenek tua ini mengetahui riwayat hidup keluarga dan pribadi Beru Ginting Sope Mbelin ini.

   Atas petunjuk Nenek Uban ini maka secara agak gaib Beru Ginting Sope Mbelin pun sampailah di tempat nenek Datuk Rubia Gande, yaitu seorang dukun besar atau “guru mbelin”. Sesampainya di sana, keluarlah nenek Datuk Rubia Gande serta berkata: “Mari cucu, mari, jangan menangis, jangan takut” dan Beru Ginting Sope Mbelin pun menceritakan segala riwayat hidupnya. Beru Ginting Sope Mbelin pun menjadi anak asuh nenek Datuk Rubia Gande. Beru Ginting pun sudah remaja dan rupa pun sungguh cantik pula. Konon kabarnya sudah ada jejaka yang ingin mempersuntingnya. 

Tetapi Beru Ginting Sope Mbelin tidak berani mengeluarkan isi hatinya karena yang memeliharanya adalah nenek Datuk Rubia Gande. Oleh karena itu kepada setiap jejaka yang datang dia berkata : “tanya saja pada nenek saya itu”. Dan neneknya pun berkata kepada setiap orang: “tanya saja pada cucu saya itu!”. Karena jawaban yang seperti itu jadinya orang bingung dan tak mau lagi datang melamar.Ternyata antara Beru Ginting Sope Mbelin dan nenek Datuk Gande terdapar rasa saling menghargai. Inilah sebabnya masing-masing memberi jawaban pada orang yang datang “tanya saja pada dia!” Akhirnya terdapat kata sepakat, bahwa Beru Ginting mau dikawinkan asal dengan pemuda/pria yang sependeritaan dengan dia. Neneknya pun setuju dengan hal itu.

    Akhirnya, nenek Datuk  Rubia Gande pun dapat memenuhi permintaan cucunya, dengan mempertemukan Beru Ginting Sope Mbelin dengan Karo Mergana penghulu Kacaribu, berkat bantuan burung Danggur Dawa-Dawa. Dan kedua insan ini pun dikawinkanlah oleh nenek Datuk Rubia Gande menjadi suami-istri.
Setelah beberapa hari, bermohonlah Karo Mergana kepada nenek Datuk Rubia Gande agar mereka diizinkan pulang ke tanah kelahiran Beru Ginting Sope Mbelin, karena begitulah keinginan cucunya Beru Ginting itu. Nenek Datuk Rubia Gande menyetujui usul itu serta merestui keberangkatan mereka. Berangkatlah Beru Ginting Sope Mbelin dengan suaminya Karo Mergana memulai perjalanan. Mereka berjalan beberapa lama mengikuti rute perjalanan Beru Ginting Sope Mbelin dulu waktu meninggalkan tanah urung Galuh Simale. Mereka singgah di kampung Kejurun Batu Mbulan, di pelabuhan di tepi pantai tempat berlabuh kapal nakhoda dulu, melalui simpang Perbesi dan Kuala bahkan berhenti sejenak di situ.

   Sampailah mereka di antara Perbesi dan Kuala. Anehnya, di sana mereka pun berjumpa pula dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini sangat bergembira karena dulu mereka pernah memberi kain masing-masing sehelai kepada Beru Ginting Sope Mbelin yang sangat menderita berhati sedih pada waktu itu, dan kini mereka dapat pula bertemu dengan Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana. Jadinya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana, bermalam pula beberapa lama di Kuala dan Perbesi atas undangan kedua sibayak tersebut. Dan disediakan pula pengiring yang mengantarkan Beru Ginting Sope Mbelin bersama Karo Mergana ke tanah Urung Galuh Simale. Semuanya telah diatur dengan baik: perangkat gendang yang lengkap, makanan yang cukup bahkan banyak sekali. Pendeknya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya diantar dengan upacara yang meriah atas anjuran dan prakarsa Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi yang bijaksana dan baik hati.

   Ternyata pakcik Beru Ginting Sope Mbelin dulu – yang juga seorang dukun – mempunyai firasat yang kurang baik terhdapa dirinya. Oleh karena itu pada saat tibanya Beru Ginting Sope Mbelin di kampungnya, pakciknya itu sekeluarga menyembunyikan diri di atas para-para rumah. Akan tetapi akhrinya diketahui juga oleh Beru Ginting Sope Mbelin. Pakcik dan makcik Beru Ginting Sope Mbelin dibawa turun ke halaman untuk dijamu makan dan diberi pakaian baru oleh Beru Ginting Sope Mbelin. Pakcik dan makciknya itu sangat malu dan tidak mengira bahwa Beru Ginting Sope Mbelin akan pulang kembali ke kampung apalagi bersama suaminya pula yaitu Karo Mergana.
Berbagai bunyi-bunyian pun dimainkan, terutama sekali “gendang tradisional” Karo serta diiringi dengan tarian, antaralain:
  1. gendang si ngarak-ngaraki
  2. gendang perang si perangen
  3. gendan perang musuh
  4. gendang mulih-mulih
  5. gendang ujung perang
  6. gendang rakut
  7. gendang jumpa malem
  8. gendang morah-morah
  9. gendang tungo-tungko.
   Dan sebagai hukuman atas kekejaman dan kebusukan hati pakcik dan makciknya itu maka tubuh mereka ditanam sampai bahu masing-masing di beranda barat dan beranda timur, hanya kepalanya saja yang nampak. Kepala mereka itulah yang merupakan anak tangga yang harus diinjak kalau orang mau masuk dan keluar rumah adat. Itulah hukuman bagi orang yang tidak berperikemanusiaan yang berhati jahat terhadap saudara dan kakak serta anaknya sendiri.

Sumber: Alm. DR. Henry Guntur Tarigan
Yayasan Merga Silima


Cerita terkait:
·        Sejarah Sibayak Lingga 
·        Gertak Lau Biang 
·        Anak Kucing Mbiring

CINCIN PINTA PINTA

Dalam bahasa karo
Lit mekap nina turi-turin si adi. Kuta si tergelar Juma Raja, tersinget me kap kerna Pengulu Juma Raja si sehkel jagona erjudi, melala enggo harta i pepulungna perban menang rusur erjudi. Gia Pengulu e mbue hartana tapi la lit anak i pupus kemberahenna. Enggo ndekah Pengulu e ersura-sura gelah lit min anak i tengah-tengah jabuna, tapi aminna enggo gia bage lenga bo ibere Dibata sura-surana. Bas sada berngi ernipi me kemberahen, lanai ndekah nari lit anak ipupusna. Tuhu senang kel ukur kemberahen, pepagi warina ikatakenna nipina e man Pengulu. Tuhu kai sinipiken kemberahen sebab lanai ndekahsa, menuli kula kemberahen janah ipupusna me sada anak diberu si mejile kel rupana bali ras nandena.

Wari tande ku wari, bulan tande ku bulan, anak diberu e reh galangna. Tersinget me kap kerna Pengulu, talu rusur erjudi enggo keri kerina harta bas jabuna, utangna pe mbue. Perban talu rusur erjudi perangaina pe lanai bagi si gelgel. Anakna si tonggal rusur me irawaina, tempa-tempa perban anak e nge ia rusur talu erjudi. Perban talu rusur erjudi janah utang si belang-belang terpaksa Pengulu ras kemberahenna bagepe anakna lawes i kuta e nari itadingkenna kesain si mbelang. Sedakkel nge pusuh peraten kemberahen perban ulah perbulangenna tapi uga ibahan ia labo kap pang ngolang-ngolangi kebiasaan Pengulu erjudi. Enggo ndauh kalak enda erdalan, piga-piga kuta enggo terlewati, seh me Pengulu ras kemberahen bage pe anak e i tengah-tengah kerangen rimbun raya si seh kel angkerna, sebab labo pernah pang jelma reh ku je. Ipajekken Pengulu me sada sapo si kitik-kitik inganna tading, nakanna ibuatna bulung-bulung bagepe gadung garang si lit i kerangen e.

Bas sada wari ersura-sura Pengulu nadingken kemberahen ras anak i kerangen, la ngasup ia natap kemberahenna rusur tangis ngandung, bagepe anakna si tonggal. Bas sada berngi lawes me Pengulu erbuni-buni itadingkenna ndeharana ras anakna si sangana tunduh. Enggo kenca terang wari, medak me kemberahen ras anakna "Nande !" nina anak e. "Kai nakku ?" "Ija Bapa nande ?" "Eh… mungkin Bapandu ndarami nakanta nakku nina nandena." Ndekah itimai nande ras anak Pengulu mulih ku sapo maba pangan tapi si man timanken labo reh. Wari tande ku wari bulan tande ku bulan Pengulu lalap la multak-multak, tading me kemberahen ras anakna dua-dua i tengah-tengah kerangen rimbun raya. Ceda kel ukurna perban itadingken Pengulu, tangis bas pusuhna natap-natap anakna lanai erbapa. Piga-piga kali icubakenna nadingeken anakna sisada, tapi la ia ngasup nadingkensa. "Kuja naring pepagi percibal anakku, adi kutadingken sisada i tengah kerangen enda, terjelpa-jelpa sisada," nina pusuh peratenna.

Bas sada berngi sangan anakna tunduh laweska me nande e nadingken anak si tonggal. "Anakku, tading me kam i jenda sisada," nina kemberahen janah tangis iemana ayo anak e iluhna mamburen ku ayo anakna si sangana tunduh. Erdalan me kemberahen nadingekan buah barana nadingken pusuh peratenna si getem. Ndauh enggo itadingkenna sapo ingan anakna tunduh, la ndekahsa jumpa me ia sada batang kayu si galang, ibuatna perembah, atena ndelis me ije. Terang kenca wari medak me anak si tonggal, i idahna lanai lit nandena i sampingna. "Nande! Nande," nina ngelebuh , idaramina ku kenjahe idaramina ka ku kenjulu, tapi nandena la iidahna, tangis ia iluhna nurcuren.

"O nandeku! Engkai kel aku itadingkenndu!" "Sisada kel aku i tengah kerangen enda, kuja kel pepagi percibal anak melumang enda nandengku!" La gejap enggo ertahun-tahun anak e ndarami nandena, bas sada wari jumpa me ia sada batang kayu si sehkel galangna idahna bas sada dahan lit perembah erjuntai-juntai i terpang angin si lumang, ideherina dahan e, janah itandaina perembah e bekas perembah nandena si sangana ia i didong doahken. Teruh batang kayu e ijumpaina lit tulan-tulan. "Nandengku bagenda kepe jadina, lawes kel kam nadingken anak melumang terjelpa-jelpa cibal geluhna." Janahna tangis i pepulungna tulan-tulan e ibungkusna mejile jenari lawes ia ngisari kerangen si mbelang. La ndekahsa ijumpaina sada gua si seh kel angkerna, kubas me ia. Isiarina gua e alu mbiar reh ndekahna reh kubasna ka ia. La gejapna arah lebena nganga babah nipe si seh kel galangna, banci sada anak kerbau siat kubas.

"Andiko nande! mate naring sekalenda anak melumang" nina nggirgir. "Oh.. nini i panndu saja anak melumang enda, nggeluh pe terjelpa-jelpa, adi ipanndu banci nge aku jumpa ras nandengku si enggo nadingeken aku." Idudurkenna tanna ku babah nipe e, tapi la pan nipe e ia, kenca itarikna tanna mulihi maka enggo teridah bas jari manisna sada cincin si mejile. "O… kempu!" nina nipe e. "Ula kam mbiar, cincin ena gelarna cincin pinta-pinta, kai kari ipindondu banci nge iberekenna," nina nipe e.

Bas sada wari reh me ku kerangen e sekalak pemburu, melala beras ras pangan si deban ibabana, ijumpaina me gua si galang. Itadingkenna me beras e ije, jenari lawes ia erburu ku tengah kerangen simbelang. Anak melumang e pe tading ibas gua e, tapi ia tading terdauhen ku bas, maka ipindona me man cincin e beras gelah banci ia man, rempet me lit i lebe-lebena beras, bagepe pemburu enda lit datna buruanna mulih ka ia ku gua, lanai lit idahna beras si tadingkenna ndube. Bagem rusur tiap-tiap wari, adi ipindona beras maka bene me beras pemburu e. mamang ukurna uga maka tiap itadingkenna beras ije bene rusur.

Bas sada wari ndarat me anak melumang e i gua nari atena ndarami lau man inemen, rempet lit idahna sekalak jelma ije. "Ise nge ndia jelma enda arih," nina pusuhna. Pang naring ia ku jenda, labo pernah lit jelma pang ku kerangen simbelang enda. Pemburu pe la tanggung senggetna ngidah singuda-nguda e salu gugup ras mbiar isungkunina me singuda-nguda e, ras ise ia tading i kerangen simbelang si dem binatang buasna. Ituriken anak meluman ise ia uga makana ia tading sekalak i tengah kerangen e. sengget pemburu megi-megi ranan anak melumang.

"Adina bage agi! mari sitadingken kerangen enda." Lawes me pemburu ras anak melumang, itadingkenna gua inganna jumpa. La ndekahsa seh me kalak enda ku sada kuta, ije me pemburu tading. Enggo ndekah anak melumang tading ije, bas sada wari ersura-sura pemburu muat ia jadi kemberahenna. Sehka me pesta perjabun pemburu ras anak melumang. Seh kel nge riahna ukur kalak si enterem ngidah pengantin duana. Lit deba atena ngidah pengantin si diberu si mejile rupana. Sengget tua-tua entah pe nande-nadne ngidah ayo anak melumang perban pernah nge idahna ayo sibage jilena. Erkusik-kusik ia sapih ia. La kin ia anak Pengulu mbarenda si talu erjudi ndube arih, balikel ayona ras kemberehen Pengulu ndube, bagem nina cakap nande si ngidah ayo pengantin si diberu. Megi-megi ranan si e kerina sedakkel pusuh anak melumang, la igejapna naktak iluhna ku ayona si mejile. Ngerana me ia salu iluhna mamburen ku ayona.

"Payo tuhu katandu kerina, aku kap anak Pengulu si talu erjudi, lawes kami mbarena i kuta Juma Raja perban melala utang bapa, ertahun-tahun kami tading i kerangen simbelang. Itadingken bapa aku ndube ras nande i tengah kerangen, bage pe nande la ndekahsa lawes nadingken aku sisada, nande enggo lawes nadingken doni, nadingken aku sisada rasa lalap. Enda ku baba tulan-tulan nande ndube, ibuatna bungkusen e janah itamakenna ku lebe-lebe si enterem. Tangis kerina jelma si megi-megi ranan anak melumang, wari kin pe ndai melas rempet reh udan, tempa-tempa megogo atena megi ranan anak melumang e. Bagem kedungenna anak melumang, nggeluh erbahagia ras perbulangenna. Kerina bentuk perjudin enggo ihapusken bas kuta e sebab judi nge erbahansa kegeluhen la senang. Perban judi nge anak rate mesui.Oleh: Pasu Repelita Bangun [Buletin TENAH] (Sumber : deparita.multiply.com)


Berita Tekait:

2.     Putri Hijau 
6.     Gertak Lau Biang