Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

07 April 2012

Indahnya Tari Landek Tanah Karo Simalem


tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga
  Wah,... saya seneng banget waktu jalan-jalan ke Tanah Karo bulan Februari 2012 kemarin. Di salah satu acara yang saya datangi ketika melaksanakan tugas, ada acara penyambutan tamu dengan tarian khas Tanah Karo Simalem: Landek. Lengkapnya sih, Landek Piso Surit. Sebuah tarian khas yang baru pertama kali saya lihat secara langsung.

Ketika tamu datang, sebelum memasuki ruangan, penari berjejer di depan pintu masuk. Ada yang membawa keranjang buah-buahan. Ada yang membawa semacam bakul berukuran kecil, berisi beras. Lagu daerah khas Tanah Karopun mengiri para tamu yang masuk satu per satu sambil menarikan gerakan tangan manortor. Penari berjenis kelamin laki-laki yang membawa bakul berisi beraspun menaburkan beras secara perlahan kepada para tamu yang lewat di depannya. Konon, hal itu berarti si tuan rumah menganggap tamunya terhormat dan berjasa (diagungkan).
tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga
Nah, kalau gambar yang di samping ini, pada saat acara pembukaan sudah dimulai, tarian Landek  dibawakan di dalam ruangan. Enam orang penari yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan tiga orang perempuan, menari berpasangan secara serasi. Tari tradisional Karo ini memiliki tiga unsur pembentuk utama, yaitu gerakan naik turun, gerakan goyang badan dan gerakan kelentikan jari. Harmonis deh, pokoknya

tari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maragatari, tari karo, tari lima serangkai, berita karo,kalak karo,suku karo, tanah karo,budaya,lima maraga

















Di akhir tarian, saya lihat beberapa orang memberikan “saweran”. Entah apa namanya kalau di Karo. Yang pasti, lembaran uang seratus ribuan diberikan masing-masing kepada penari tersebut. Dan tidak hanya satu orang yang memberi, hampir semua yang berada di deretan kursi paling depan (tamu kehormatan) memberikan uang saweran.(www.jalanjalanyuk.com)


Cantik ya, penari dari Tanah Karo Simalem ini. Menurutmu?

27 Maret 2012

SENI TENUN KARO (Mbayu)


seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
  Pakaian tradisional Karo tentunya merupakan salah satu hasil dari kebudayaan Karo, oleh karena itu, seiring berkembangnya kebudayaan, masyarakat Karo telah memiliki banyak ragam pakaian dengan fungsi-fungsi yang berbeda. Secara tradisional pakaian ini di tenun oleh para wanita Karo dengan menggunakan kembaya (semacam kapas) yang dijadikan benang dan dicelup dengan alat pewarna yang dibuat dari bahan kapur, abu dapur, kunyit, dan telep (sejenis tumbuhan).
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Secara umum pakaian tradisional Karo dapat dibagi atas tiga kelompok, yaitu: pakaian sehari hari, pakaian untuk pesta, dan pakaian kebesaran. Pakaian yang biasa digunakan pria adalah pakaian dengan model batu gunting cina lengan panjang, tutup kepala yang disebut tengkuluk atau bulang dan sarung, sedangkan untuk wanita terdiri dari baju kebaya leher bulat, sarung (abit), tutup kepala (tudung), dan kain adat bernama Uis Gara yang diselempangkan.
Pakaian pesta hampir sama dengan pakaian sehari-hari. Hanya saja, pakaian pesta lebih bersih atau baru dan dikenakan dengan baik, sehingga terlihat lebih sopan, dan pakaian kebesaran terdiri dari pakaian dengan aksesoris-aksesoris yang lengkap serta digunakan pada saat pesta saja, seperti pesta perkawinan, memasuki rumah baru, upacara kematian, dan pesta kesenian. Universitas Sumatera Utara
Di bawah ini akan dijabarkan beberapa ragam/jenis Uis yang ada pada masyarakat Karo, yaitu antara lain;

Uis Arinteneng

seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Uis Arinteneng terbuat dari kapas atau kembayat yang ditenun. Warnanya hitam pekat hasil pencelupan yang disebut ipelabuhken. Pakaian ini digunakan untuk alas pinggan pasu tempat emas kawin dan tempat makanan bagi pengantin sewaktu acara mukul (acara makan bersama) pada malam hari setelah selesai pesta adat, uis ini juga digunakan sebagai pembalut tiang pada peresmian atau acara adat memasuki rumah baru, dan membayar hutang adat kepada kalimbubu dalam upacara adat kematian.







Uis Julu
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Bahannya sama dengan bahan Uis Arinteneng. Warnanya hitam dengan corak garis-garis putih berbentuk liris-liris. Keteng-keteng-nya berwarna merah dan hitam dan disebut Keteng-ketang Bujur. Ada juga yang disebut keteng-keteng sirat denan diberi ragam corak ukiran serta di sisi ujungnnya terdapat rambut (jumbai). Pakaian ini diguanakan sebagai Gonje (sarung laki-laki), membayar hutang adat (maneh-maneh), nambari (mengganti) pakaian orang tua laki-laki, dan digunakan juga sebagai selimut (cabin).






Uis Teba
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Hampir sama dengan Uis Julu. Perbedaannya ialah garis-garis Uis Teba lebih jarang sedangkan Uis Julu lebih rapat. Warnanya hitam, di sisi ujungnya juga memiliki rambut (jumbai). Sama seperti uis Julu ,Uis ini juga digunakan untuk maneh-maneh atau membayar hutang adat bagi perempuan yang meninggal, tudung bagi perempuan, mengganti pakaian orang tua (bagi ibu), dan alas pinggan pasu
Universitas Sumatera Utara
tempat emas kawin sewaktu melaksanakan pembayaran kepada pihak mempelai perempuan dalam upacara adat Perkawinan.






Uis Gatip
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Uis Gatip ini berwarna hitam dan berbintik-bintik putih di tengah, tepian kain warnanya hitam pekat dan ujungnya terjalin dan berumbai. Jenis kainnya lebih tebal sehingga sering disebut dengan Uis kapal (kain tebal). Uis ini dipakai sebagai ose (pakaian) laki-laki pada upacara-upacara adat perkawinan, memasuki rumah baru, guro-guro aron (pesta muda-mudi) dsb.








Uis Jongkit
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima margaWarna dan bahan Uis ini sama dengan Uis Gatip, hanya saja Uis Jongkit memakai benang emas dengan motif melintang pada bagian tengah kain tersebut, hingga warna dan bentuknya lebih cerah. Penggunaan Uis ini juga sama seperti Uis Gatip, tapi kain ini sekarang lebih disenangi dan banyak dipakai pada upacara-upacara adat.










Uis Beka Buluh
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Warna dasar kain Uis Beka Buluh ini merah cerah, bagian tengah bergaris Kuning, Ungu, Putih dan pada tepian dan ujung kain terdapat motif-motif ukiran Karo yang dibuat dengan benang emas. Kain ini dipakai sebagai Bulang (penutup kepala/topi) pada laki-laki, dan juga dipakai sebagai cekok-cekok (penghias bahu) yang diletakan sedemikian rupa pada bahu laki-laki, selain itu kain ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita.









Uis Kelam-Kelam
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Warnanya hitam pekat, bahan kainnya lebih tipis dari Uis yang lain dan polos tanpa motif, sepintas seperti kain hitam biasa, hanya saja kain ini lebih keras
dibanding Uis yang lain. Uis ini biasa dipakai oleh wanita sebagai tudung pada upacara-upacara adat, tudung yang bahannya dari uis kelam-kelam ini disebut Tudung Teger Limpek dengan bentuknya yang khas dan unik. Memang proses pembuatan tudung ini sangat sulit dan unik, hingga saat ini tidak semua orang dapat membuat tudung ini.






Uis Jujung-jujungen
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Warnanya merah bersulamkan emas dan kedua ujungnya juga berumbai benang emas, kain ini tidak selebar kain yang lainnya, bentuknya hampir sama dengan selendang. Uis ini biasanya dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya diatas tudung dengan rumbainya terletak disebelah depan. Pada saat sekarang uis ini jarang digunakan, dan kebanyakan telah digantikan dengan uis Beka buluh.








Uis Nipes Ragi Barat
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Kain ini jenisnya lebih tipis dari kain-kain lainnya dan memiliki bermacam-macam motif dan warna (merah, coklat, hijau, ungu dan sebagainya), uis ini biasa digunakan sebagai selendang bagi wanita.

Selain beberapa jenis Uis yang telah dijelaskan secara singkat di atas, masih terdapat beberapa jenis Uis yang lain, diantaranya :Uis Batu Jala, Uis Gobar Dibata, Uis Pengalkal, dan lain-lain.








 Uis Nipes Padang Rusak
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada pesta maupun dalam sehari-hari













 Uis Nipes Benang Iring
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga


Kain ini dipakai untuk selendang wanita pada upacara yang bersifat duka cita.











• Perembah 

seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima margaUntuk menggendong bayi .















 Uis Pementing  
seni karo,suku karo,seni rupa,budaya karo,Kain,tanah karo,kalak karo,lima marga
Kain ini dipakai Pria Karo sebagai ikat pinggang (benting) pada saat berpakaian Adat lengkap dengan menggunakan Uis Julu sebagai kain sarung. 











Sumber:
repository.usu.ac.id
Takasima ( taneh karo simalem )

http://limamarga.blogspot.com

Terkain:

23 Maret 2012

TARI LIMA SERANGKAI

Sejarah Tari
Tari Lima Serangkai diperkirakan tercipta sekitar tahun 1960, menurut Sempa Sitepu,dkk dalam bukunya Pilar Budaya Karo (1996:200). 

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Menurut narasumber Bpk. Malem Ukur Ginting dalam wawancara manyatakan bahwa tari Lima Serangkai sudah ada sejak masyarakat suku Karo mengetahui tari kira-kira tahun 1956. Jadi dapat disimpulkan bahwa tari Lima Serangkai muncul sekitar tahun 1956-1960.

Tari Lima Serangkai merupakan salah satu tari yang berfungsi sebagai hiburan, seperti yang telah dikemukakan oleh salah satu pakar tari yaitu Soedarsono yang menyatakan bahwa fungsi tari terbagi atas tiga yaitu: tari sebagai upacara, tari sebagai pertunjukan, dan tari sebagai hiburan (Soedarsono, 1972:22). Ada beberapa tari taradisi yang berfungsi sebagai hiburan selain tari Lima Seranngkai dari etnis Karo, seperti: tari Piso Surit, tari Terang Bulan, tari Ndikkar, tari Gundala-gundala, tari Roti Manis, dan lain-lain (Sempa Sitepu,dkk,1996:200).





Tema Tari

Tema dalam tarian Lima Serangkai adalah unsur yang ada. Maksud unsur yang ada adalah merupakan kejadian atau pengalaman hidup yang sangat sederhana misalnya cerita rakyat, kepahlawanan, legenda, binatang dan lain-lain.
Namun demikian tema dalam tari Lima Serangkai merupakan sesuatu yang lazim, karena tujuan dari tari adalah komunikasi antara karya seni dengan masyarakat yang menikmatinya. Tari Lima Serangkai ini bertemakan pergaulan, pergaulan yang dimaksud adalah muda mudi Karo. Yakni pertemuan ramah tamah sepasang insan manusia yang berkenalan secara adat Karo (ertutur), kemudian secara tutur muda mudi ini dapat berteman dekat (berpacaran) dan akhirnya mereka menjalin hubungan kasih hingga sampai kejenjang pernikahan.


Struktur Pertunjukan Tari
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:246), pengertian struktur mempunyai arti pola hubungan komponen atau bagian satu organisasi. Struktur merupakan suatu sistem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasikan tugas orang dan kelompok orang agar tujuan tercapai. Sedangkan menurut Surayin (2001:574), dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menyatakan bahwa struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun yang sesuai dengan pola tertentu. Dari pengertian diatas maka yang dimaksudkan dengan struktur dalam penelitian ini adalah susunan atau unsur-unsur dalam tari Lima Serangkai pada masyarakat Karo.

Untuk melakukan pertunjukan tari Lima Serangkai yang dipersiapkan adalah 10 orang penari, yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Tari Lima Serangkai ditarikan oleh muda-mudi yang usia tidak dibatasi tetapi belum menikah. Biasanya penari dalam satu kelompok merupakan siswa-siswi yang tergabung dalam satu sanggar tari. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi penari Lima Serangkai, siapa saja bisa asalkan ada kemauan untuk belajar dan berusaha. Sebelum melakukan pertunjukan, para penari telah berlatih untuk melakukan keseragaman gerak tari.

Selain melakukan latihan tari, para penari juga harus mempersiapkan kostum tari. Kostum tari yang biasa digunakan para penari adalah kebaya, sarung, uis nipes dan tudung (beka buluh yang telah dibentuk menjadi penutup kepala) untuk penari perempuan. Baju kemeja,celana panjang, sarung, beka buluh 2 buah (1 diletakkan dipundak dan 1 dipegang ditangan). Pertunjukan tari Lima Serangkai sering ditampilkan dalam Gendang Guro-guro Aron dan acara Kerja Tahun. Gendang Guro-guro Aron dan acara Kerja Tahun biasanya dilakukan di sebuah balai terbuka (Jambur), dimana semua masyarakat kampung menonton penampilan tari. Dimasa sekarang ini tari Lima Serangkai juga sudah diperlombakan. Dibeberapa tempat di Tanah Karo sering dilakukan festival-festival tari Lima Serangkai. Festival tersebut diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah ataupun swasta, sekolah-sekolah, maupun gereja.


Tempat Penyajian Dan Waktu Pementasan
Untuk melakukan suatu kegiatan yang mengumpulkan banyak orang masyarakat Karo biasanya berkumpul di balai terbuka yang disebut Los/Jambur. Tari Lima Serangkai yang ditampilkan pada kegiatan Kerja Tahun (merdang merdem) dan Gendang Guro-guro Aron, ditampilkan di Jambur. Tari Lima Serangkai biasanya ditarikan diawal acara kegiatan, sebagai pembuka yang bersifat hiburan. Pelaksanaan Kerja Tahun (merdang merdem) dan Gendang Guro-guro Aron setiap tempat tidak selalu sama, hal ini disesuaikan dengan hasil kesepakatan masyarakat setempat.

Tari Lima Serangkai yang dibahas dalam tulisan ini adalah tari Lima Serangkai yang difestivalkan. Pelaksanan festival bisa dilakukan diluar ruangan (Outdoor) dan didalam ruangan (indoor). Hasil penelitian dari beberapa tempat, festival yang dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2009 bertempat di Open Stage, Berastagi merupakan pertunjukan outdoor dan pada tanggal 3 November 2010 di Hotel Sibayak, Berastagi merupakan pertunjukan indoor.


Pelaku
Dalam tari Lima Serangkai yang menjadi pelaku adalah penari. Penari merupakan bagian penting dalam pertunjukan tari Lima Serangkai karena penarilah yang mempertunjukkan tarian Lima Serangkai tersebut dan ia akan menjadi pusat perhatian dari penonton. Penari Lima Serangkai adalah muda mudi (umur tidak dibatasi), yang berpasangan. Biasanya jumlah penari 10 orang, dengan 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Dalam penentuan penari tidak ada cara khusus yang dilakukan, siapa saja bisa menjadi penari Lima Serangkai asalkan ada kesanggupan pemain untuk dapat menari dan waktu yang dimiliki para penari.

Para penari berlatih untuk mempelajari gerakan di sanggar-sanggar dimana mereka bergabung seperti sanggar PEMKAB Karo melakukan latihan di Pendopo Kantor Bupati Kabanjahe. Pelatih tari biasanya adalah orang-orang pemilik sanggar yang berpengalaman dalam tari Lima Serangkai, maksudnya pernah belajar tari Lima Serangkai, atau orang-orang yang bergerak dibidang seni tari (contoh guru tari, tokoh adat). Dalam masing-masing sanggar tari memiliki penari dan pelatih tari, yang berprofesi tidak hanya sebagai penari dan pelatih tari melainkan memiliki pekerjaan yang lain. Pada saat pertunjukan, penari akan saling berinteraksi dengan sesama penari diatas panggung dalam melakukan gerakan.

Tata Rias Dan Tata Busana Tari
Tata rias dan busana tari Lima Serangkai tidaklah terlalu istimewa, maksudnya tata rias dan tata busana masih menyerupai kebanyakan tari-tari tradisional Karo lainnya. Penggunaan tata rias dan busana disesuaikan dengan kondisi sehari-hari masyarakat setempat.Meskipun tari ini selalu dipersembahkan dihadapan banyak orang, namun tata riasnya hanya menggunakan rias cantik. Maksud dari rias cantik adalah tata rias yang digunakan tidak menggambarkan karakter atau tokoh tertentu. Busana tari Lima Serangkai yang digunakan dapat mendukung konsep dan tema tari.
Adapun kostum yang digunakan dalam pertunjukan tari Lima Serangkai yaitu:


1. Penari perempuan


  1. Kebaya, baju yang selalu dipakai oleh masyarakat Karo di setiap kegiatan adat dan pada saat menari.
  2. Sarung, merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh masyarakat Karo dalam kegiatan sehari-hari ataupun pada kegiatan-kegiatan adat.
  3. Tudung adalah beka buluh yang dibentuk menjadi penutup kepala penari perempuan.
  4. Uis nipes adalah kain adat berwarna merah yang merupakan ciri khas masyarakat Karo.





2. Penari laki-laki


  1. Baju kemeja, merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh pria Karo dalam kegiatan adat dan acara-acara resmi lainnya.
  2. Celana panjang, pakaian pria yang digunakan saat kegiatan adat dan acara resmi.
  3. Sarung, merupakan pakaian yang digunakan masyarakat Karo dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan-kegiatan adat.
  4. Beka buluh, ada 2 beka buluh yang digunakan oleh penari laki-laki. Beka buluh yang diletakkan dipundak dan beka buluh yang dipegang ditangan. Beka buluh yang dipegang ditangan nantinya akan digunakan pada saat menari, dibentuk untuk penutup kepala yang disebut bulang-bulang.



Fungsi Tari
   Dalam masyarakat Karo tarian memiliki nilai keindahan, menarikan suatu tarian dapat dilakukan sendirian dan dapat juga dilakukan secara beramai-ramai. Tari tradisional Karo dapat dilihat dari bentuk dan acara pemampilannya dapat dibedakan atas tiga jenis yakni:

  1. Tari yang berkaitan dengan adat
  2. Tari yang berkaitan dengan Religi
  3. Tari yang berkaitan dengan hiburan

Tari Lima Serangkai adalah tari yang bersifat hiburan, yang biasanya ditampilkan dalam Gendang Guro-guro Aron dan Kerja Tahun. Selain bersifat hiburan tari juga memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat Karo. Menurut Soedarsono (1972:22) tari dapat berfungsi sebagai:


  1. Sarana upacara keagamaan yang masih kuat dengan unsur kepercayaan kuno.
  2. Sarana untuk mengungkapkan perasaan emosional (kegembiraan) dan pergaulan.
  3. Sarana pertunjukan untuk memberikan hiburan atau kepuasan batin manusia.

Sejalan dengan pendapat Soedarsono bahwa Tari Lima Serangkai termasuk dalam fungsi mengungkapkan emosional dan pergaulan, serta memberikan hiburan atau kepuasan batin.(Sumber : repository.usu.ac.id)













Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Terkain:

WIilayah Masyarakat Karo


   Secara garis besar suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, dan beberapa tempat lain seperti Kabupaten Deliserdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo yang dipimpin Bupati Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian Adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Untuk lebih jelas penulis akan memaparkan tentang siapa, bagaimana dan dimana suku Karo berada.

Wilayah Umum Masyarakat Karo
Peta sumatra utara  
Karo juga merupakan sebutan untuk satu wilayah administratif kabupaten yaitu kabupaten Karo yang wilayahnya meliputi seluruh dataran tinggi Karo. Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang digambarkan oleh J.H. Neuman dalam buku lentera kehidupan orang Karo dalam berbudaya (Sarjani Tarigan, 2009 : 36), yaitu:

Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh sungai Biang (yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat), disebelah Barat dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai kedataran rendah Deli dan Serdang.”

Dari gambaran luas daerahnya diatas, domisili Masyarakat Karo ini memang tidak dapat dibantah, bahwa ada beberapa kelompok yang berdomisili di daerah pantai dan hidup berdampingan dengan penduduk Melayu, dan secara bertahap kedua suku tersebut saling berbaur dan berakulturasi antara sesamanya. Dengan demikian, orang-orang Karo yang tersebar dan berakulturasi dengan suku-suku lain tersebut, mengakibatkan adanya perbedaan julukan atas dasar wilayah komusitasnya seperti : Karo Kenjulu, Karo Teluh Dereng, Karo Singalor Lau, Karo Baluren, Karo Langkat, Karo Timur dan Karo Dusun.

Arti julukan atas dasar wilayah karo :
  • Karo Kenjulu adalah sebahagian besar wilayah Kabupaten Karo, yakni kecamatan Kabanjahe, Berastagi, Tiga Panah, Barusjahe, Simpang Empat, Payung.
  • Karo Teruh Deleng adalah kecamatan Kuta Buloh, Kec. Payung, kec. Lau Baleng dan kec. Mardinding. 
  • Singalor Lau meliputi kecamatan Tiga Binanga, kecamatan Juhar, dan kecamatan Munte.
  • Karo Baluren adalah kecamatan Tanah Pinem dan kecamatan Tigalingga. Kecamatan Tanah Pinem sudah merupakan bagian dari kabupaten Dairi.
  •  Karo Langkat adalah masyarakat Karo yang tinggal di kabupaten Langkat dan kabupaten Binjei yang meliputi kecamatan-kecamatan: Padang Tualang, Bahorok, Salapian, Kwala, Selesai, Sungai Bingei, Binjei dan Stabat.
  •  Karo Timur adalah yang tinggal di wilayah kecamatan Lubuk Pakam, kecamatan Bangun Purba, kecamatan Galang, kecamatan Gunung Meriah, kecamatan Dolok Silau dan kecamatan Silimakuta. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Simalungun.
  •  Karo Dusun adalah kecamatan Sibolangit, Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Namorambe, Kecamatan Sunggal, kecamatan Kutalimbaru, kecamatan STM-Hilir, Kecamatan STM-Hulu, Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Biru-biru. (ibid : 37).
   Selain wilayah-wilayah tempat tinggal yang telah dijelaskan di atas, masih ada wilayah yang cukup penting yang menjadi tempat tinggal atau domisili orang Karo, yaitu wilayah kota Medan (ibukota propinsi Sumatera Utara). Di sepanjang jalan dari Kabanjahe /Kabupaten Karo menuju kota Medan juga terdapat beberapa desa dan semi kota (sub-urban) yang juga menjadi domisili orang Karo seperti: kota Berastagi, desa Bandarbaru, desa Sibolangit, desa Sembahe, dan Pancurbatu (kecuali Berastagi, semua desa tersebut termasuk dalam wilayah kabupaten Deliserdang).
Memasuki wilayah kota Medan, terdapat lagi beberapa wilayah desa, seperti: desa Lau Cih, Kelurahan Simpang Selayang, Simpang Kuala dan Padang Bulan yang sebagian besar penduduknya adalah orang Karo. Penduduk di setiap wilayah tersebut, walaupun telah lama tinggal secara menetap, namun secara kekerabatan masih mempunyai hubungan dengan masyarakat Karo yang tinggal di wilayah kabupaten Karo.Sumber: medan.bpk.go.idrepository.usu.ac.id

22 Maret 2012

Asal Usul Masyarakat Karo

  Berbicara mengenai bagaimana dan dari mana sebenarnya asal mula terbentuknya suku Karo, hingga saat ini kelihatannya masih perlu dikaji lebih dalam. Banyak pendapat yang disampaikan oleh para ahli dan tokoh, tetapi masih dalam perkiraan menurut legenda dan silsilah cerita lisan.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Menurutnya, leluhur etnis Karo berasal dari India Selatan berbatasan dengan Mianmar. Seorang Maha Raja berangkat dengan rombongan yang terdiri dari anak, istri (dayang-dayang), pengawal, prajurit, beserta harta dan hewan peliharaannya. Ia bermaksud mencari tempat baru yang subur dan mendirikan kerajaan baru. Tidak disebutkan kapan peristiwa itu terjadi, namun dikatakan seorang pengawalnya yang sakti bernama si Karo, yang kemudian kawin dengan salah satu putri Maha Raja yang bernama Miansari. Didalam perjalanan mereka diterpa angin ribut dan rombongan ini menjadi terpencar dan akibatnya ada yang terdampar dipulau (Berhala). Dalam peristiwa itulah si Karo dan Miansari berpisah dari rombongan yang terdiri dari tujuh orang. Menggunakan rakit kemudian rombongann sampai disebuah pulau yang diberi nama “Perbulawanen” yang berarti “perjuangan” yang sekarang dikenal sebagai daerah Belawan. Dari sana mereka terus menelusuri sungai Deli dan Babura dan akhirnya sampai disebuah gua Umang di Sembahe. Setelah beberapa waktu mereka tinggal didataran tinggi itu dan merasa cocok akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal disana. Dan dari sanalah asal mula perkampungan didataran tinggi Karo.

Dari perkawinan si Karo (nenek moyang Karo) dengan Miansari lahir tujuh orang anak. Anak sulung hingga anak keenam semuanya perempuan, yaitu: Corah, Unjuk, Tekang, Girik, Pagit, Jile dan akhirnya lahir anak ketujuh seorang laki-laki diberi nama Meherga yang berarti berharga atau mehaga (penting) sebagai penerus. Dari sanalah akhirnya lahir Merga bagi orang Karo yang berasal dari ayah (pathrilineal) sedangkan bagi anak perempuan disebut Beru berasal dari kata diberu yang berarti perempuan.

Merga akhirnya kawin dengan anak Tarlon yang bernama Cimata. Tarlon merupakan saudara bungsu dari Miansari (istri Nini Karo). Dari Merga dan Cimata kemudian lahir lima orang anak laki-laki yang namanya merupakan lima induk merga etnis Karo, yaitu:
  1. Karo. Diberi nama Karo tujuannya bila nanti kakeknya (Nini Karo) telah tiada Karo sebagai gantinya sebagai ingatan. Sehingga nama leluhurnya tidak hilang. 
  2. Ginting, anak kedua 
  3. Sembiring, diberi nama si mbiring (hitam) karena dia merupakan yang paling hitam diantara saudaranya. 
  4.  Peranginangin, diberi nama peranginangin karena ketika ia lahir angin berhembus dengan kencangnya (angin puting-beliung). 
  5. Tarigan, anak bungsu
Pada perkembangannya, keturunan merga membentuk sub-sub merga yang baru sehingga terdapat banyak merga-merga pada etnis Karo. Sub-sub merga ini berkembang akibat migrasinya para keturunan Nini Karo kedaerah lain, sebab kampung mula-mula semakin lama semakin padat, dan akibat terjadi perkawinan dengan etnis lain dari daerah lain.
Dikutip dari Buku : Orang Karo diantara Orang Batak , Hal 5 .Marthin L.Peranginangin 
(sumber : repository.usu.ac.id)

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Kalimbubu

   Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi wanita dan sangat dihormati dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo. Masyarakat Karo menyakini bahwa kalimbubu adalah pembawa berkat sehingga kalimbubu itu disebut juga dengan dibata ni idah(Tuhan yang nampak). Sikap menentang dan menyakiti hati kalimbubu sangat dicela.
   Kalau dahulu pada acara jamuan makan, pihak kalimbubu selalu mendapat prioritas utama, para anakberu tidak akan berani mendahului makan sebelum pihak kalimbubu memulainya, demikian juga bila selesai makan, pihak anakberu tidak akan berani menutup piringnya sebelum pihak kalimbubunya selesai makan, bila ini tidak ditaati dianggap tidak sopan. Dalam hal nasehat, semua nasehat yang diberikan kalimbubu dalam suatu musyawarah keluarga menjadi masukan yang harus dihormati, perihal dilaksanakan atau tidak masalah lain.

   Adapun orang-orang yang masuk ke dalam kelompok Kalimbubu ini adalah ipar ego, mertua ego, mertua ayah ego, mertua kakek ego, mertua kakek ayah ego, dan ayah mertua mertua kakek ego, paman istri ego, paman dari ibu ego, anak perempuan paman ego (paman dari pihak ibu ego) atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu ego, termasuk suami dari mereka yang menjadi istri klen lain. Dalam acara-acara adat, masing-masing kelompok ini mempunyai peranan masingmasing. Peranan ini tidak kaku, artinya bila seseorang pada pesta si A berperan sebagai Kalimbubu, maka pada pesta si B, dia dapat berperan sebagai Anakberu. Jadi kedudukan seseorang itu tergantung kepada kedekatan hubungan kekerabatan dengan penyelenggara acara yang memang masing termasuk dalam lingkungan keluarganya. Dalam banyak literatur tentang masyarakat Karo, Kalimbubu ini didefinisikan adalah kelompok pemberi dara atau gadis (Prints, 1986:66; Bangun,1981:109; Bangun, 1989:11).

   Adapun peranan dan fungsi para Kalimbubu ini dalam struktur daliken si telu adalah sebagai supremasi keadilan dan kehormatan. Oleh Darwan Prints (Prints,1986:67) diumpamakan sebagai legislatif, pembuat undang-undang. Oleh Roberto Bangun, (Bangun, 1989:12) sebagai dewan pertimbangan agung, pemberi saran kalau diminta. Dan sarannya, berpedoman kepada obyektif konstruktif dalam kaitan keutuhan keluarga. Hal ini maka pihak kalimbubu disebut juga Dibata Ni Idah (Tuhan yang Kelihatan). Dalam acara-acara adat, dia harus hadir, dan masing-masing mendapat peran. Misalnya dalam acara upacara kematian, ketika jenajah akan dikebumikan, bagian kepala dari jenajah dipanggul oleh pihak kalimbubu dari yang meninggal. Dalam pesta sukacita, yang berperan sebagai kalimbubu dilayani sebaik mungkin oleh pihak anakberu dalam hal ini adalah penyelenggara pesta. Pada dasarnya setiap ego Karo, baik yang belum menikah pun mempunyai kalimbubu, minimal kalimbubu si mada dareh. Kemudian bila ego (pria) menikah berdasarkan adat Karo, dia mendapat kalimbubu si erkimbang. 
Kalimbubu dapat dibagi atas 2:

Kalimbubu berdasarkan tutur

Kalimbubu Bena-Bena, disebut juga (kalimbubu tua), adalah kelompok keluarga pemberi dara kepada keluarga tertentu yang dianggap sebagai keluarga pemberi anak dara awal dari keluarga itu.Dikategorikan kalim-bubu bena-bena, karena kelompok ini telah berfungsi sebagai pemberi dara sekurang-kurangnya tiga generasi.
Kalimbubu Simajek Lulang12 (Kalimbubu Taneh), adalah golongan kalim-bubu yang ikut mendirikan kampung. Status kalimbubu ini selamanya dan diwariskan secara turun temurun. Penentuan kalimbubu ini dilihat berdasarkan merga. Kalimbubu ini selalu diundang bila diadakan pesta-pesta adat di desa di Tanah Karo

Kalimbubu berdasarkan kekerabatan (perkawinan)

Kalimbubu Simupus/Simada Dareh13. Golongan kalimbubu ini adalah pihak pemberi wanita terhadap generasi ayah, atau pihak klen dari ibu kandung ego (paman kandung ego).
Kalimbubu I Perdemui atau (kalimbubu si erkimbang), adalah pihak kelompok dari mertua ego. Dalam bahasa yang populer adalah Bapak mertua berserta seluruh senina dan sembuyaknya dengan ketentuan bahwa sipemberi wanita ini tidak tergolong kepada tipe Kalimbubu Bena-Bena dan Kalimbubu Si Mada Dareh. 
Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu, yaitu pihak subklen pemberi anak dara terhadap kalimbubu ego. Dalam bahasa sederhana pihak subklen dari istri saudara laki-laki istri ego
Kalimbubu Senina. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan jalur senina dari kalimbubu ego. Dalam pesta-pesta adat, kedudukannya berada pada golongan kalimbubu ego, peranannya adalah sebagai juru bicara bagi kelompok subklen kalimbubu ego Kalimbubu Sendalanen/Sepengalon. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan kekerabatan dalam jalur kalimbubu dari senina sendalanen, sepengalon pemilik pesta.
Doc.DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI
sumber:repository.usu.ac.id



Daliken Si Telu (Rakut Si Telu)


   Dalam mencari nilai-nilai luhur yang dapat mempersatukan manusia yang bersumber dari adat istiadat masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia banyak mempunyai pilihan. Banyaknya pilihan ini dikarenakan bangsa Indonesia mempunyai banyak suku bangsa, dan tiap suku bangsa memiliki adatnya masing-masing. Di dalam adat ini banyak terkandung variabel-variabel pendukung adat yang juga masing-masing mempunyai nilai. Nilai-nilai ini mendukung kelanggengan adat istiadat.

Salah satu variabel pendukung dan penggerak adat istiadat dalam masyarakat Karo adalah daliken si telu. Nilai-nilai yang dominan yang terdapat di dalam daliken si telu ini adalah nilai gotong royong dan kekerabatan. Secara etimologis daliken si telu berarti "tungku yang tiga". daliken = batu tungku, si = yang, telu = tiga. Realita ini menunjuk kepada fungsi batu tungku sebagai tempat untuk menyalakan api (memasak). Namun ada pula yang mengartikannya rakut si telu (ikatan yang tiga).

Namun ada pula yang mengartikannya sebagai sangkep nggeluh (kelengkapan hidup). Konsep ini tidak hanya dimiliki oleh Batak Karo saja, tetapi juga dimiliki oleh Batak yang lain dengan nama yang berbeda. Dalam Batak Toba dan Mandailing dikenal istilah dalihan na tolu, dalam masyarakat NTT dikenal lika telo (Wirateja, 1985).Unsur daliken si telu atau rakut si telu atau sangkep nggeluh adalah kalimbubu (Karo) hula-hula (Toba) mora (Mandailing dan Angkola) todong(Simalungun), sembuyak/senina (Karo) dongan sabutuha (Toba) kahanggi (Mandailing\dan Angkola) Sanina (Simalungun), dan anakberu (Karo) boru (Toba, Mandailing dan Angkola) anak boru (Simalungun).Daliken si telu ini merupakan alat pemersatu masyarakat Karo, sekaligus dapat mengikat atau terikat kepada hubungan perkerabatan yang sekaligus pula sebagai dasar gotong royong, dan saling hormat menghormati, maka di dalam segenap aspek kehidupan masyarakat Batak Karo, daliken si telu ini sangat berperan penting, dia merupakan dasar bagi sistem kekerabatan dan menjadi landasan untuk semua kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat dan juga interaksi dengan sesama masyarakat Karo.

Hal ini maka setiap individu Karo terikat kepada daliken si telu. Melalui daliken si telu semua masyarakat Karo saling berkerabat, kalau tidak berkerabat karena hubungan darah, berkerabat karena hubungan klen. Jadi daliken si telu adalah landasan sistem kekerabatan dan menjadi landasan bagi semua kegiatan, khususnya kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat istiadat dan interaksi antar sesama masyarakat Karo. Daliken si telu ini didukung oleh tiga aktor yang dikenal dengan kalimbubu, sembuyak/senina, dan anakberu).Atau dengan bahasa lain, daliken si telu adalah suatu jaringan kerja sosial-budaya yang bersifat gotong royong dan kebersamaan yang terdapat pada masyarakat Karo.

Daliken Si Telu Sebagai Sistem Kekerabatan

Aspek sistem kekerabatan dalam daliken si telu dapat dilihat berdasarkan unsur pendukung daliken si telu itu yaitu kalimbubu, senina/sembuyak dan anakberu. Sebagai sistem kekerabatan, sifatnya terbuka. Kedudukan seseorang, sebagai anakberu, atau kalimbubu, atau senina sembuyak, bergantung kepada situasi dan kondisi. 
Sistem kekerabatan seperti bersifat sangat demokratis. Berdasarkan fungsinya, kalimbubu dalam struktur daliken si telu adalah sebagai pemegang keadilan dan kehormatan, ini diumpamakan sebagai badan legislatif, pembuat undang-undang, atau sebagai dewan pertimbangan agung, yang siap memberikan saran kalau diminta. Saran yang diberikannya, walaupun dia dekat dengan salah seorang dari yang meminta saran, sarannya tetap bersifat obyektif konstruktif. Hal ini maka pihak kalimbubu disebut juga Dibata Ni Idah (Tuhan yang Kelihatan). 

Senina/sembuyak ini diumpamakan sebagai eksekutif, kekuasaan pemerintahan. Mereka bertanggungjawab kepada setiap upacara adat sembuyak sembuyaknya, baik ke dalam maupun keluar, dan bila perlu mengadopsi anak yatim piatu dari saudara yang sesubklen. Mekanisme ini sesuai dengan konsep sembuyak, sama dengan seperut, sama dengan saudara kandung. Sesubklen sama dengan saudara kandung. Sedangkan anakberu diumpamakan sebagai badan yudikatif, kekuasaan peradilan. Hal ini maka anakberu disebut pula hakim moral, karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, anakberu menjadi juru pendamai
bagi perselisihan yang ada.

Doc. DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI
Sumber: repository.usu.ac.id


21 Maret 2012

ADAT DAN BUDAYA

  Suku Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi Suku Bangsa Karo sendiri. Suku ini terdiri dari Merga silima, Rakut Sitelu dan Tutur Siwaluh.

Orat Tutur Merga Silima

Merga Bapa, jadi Merga man anak sidilaki jadi beru man anak sidiberu
Beru Nande, jadi Bere-bere man anak sidilaki ras anak sidiberu
Bere-bere Bapa, jadi Binuang man anak sidilaki ras anak sidiberu
Bere-bere Nande, jadi Perkempun man anak sidilaki ras anak sidiberu
Bere-bere Nini (Bulang) Arah Bapa, jadi Kampah man anak sidilaki ras anak sidiberu
Bere-bere Nini (Bulang) Arah Nande, jadi Soler man anak sidilaki ras anak sidiberu

Berdasarkan Merga ini maka tersusunlah pola kekerabatan atau yang dikenal dengan Rakut Sitelu, Tutur Siwaluh dan Perkaden-kaden Sepuluh Dua Tambah Sada.

Rakut Sitelua:
  1. Senina/Sembuyak
  2. Kalimbubu
  3. Anak Beru.
Tutur Siwaluh:
  1. Sipemeren
  2. Siparibanen
  3. Sipengalon
  4. Anak Beru
  5. Anak Beru Menteri
  6. Anak Beru Singikuri
  7. Kalimbubu
  8. Anak Beru Singikuri
Perkaden-kaden Sepuluh Dua
  1. Nini
  2. Bulang
  3. Kempu
  4. Bapa
  5. Nande
  6. Anak
  7. Bengkila
  8. Bibi
  9. Permen
  10. Mama
  11. Mami
  12. Bere-Bere
Dalam perkembangannya, adat Suku Bangsa Karo terbuka, dalam arti bahwa Suku Bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi Suku Bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat.

Suku Karo terkenal dengan semangat keperkasaannya dalam pergerakan merebut Kemerdekaan Indonesia, misalnya pertempuran melawan Belanda, Jepang, politik bumi hangus. Semangat patriotisme ini dapat kita lihat sekarang dengan banyaknya makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan di Kota Kabanjahe yang didirikan pada tahun 1950.

Suku Karo adalah dinamis dan patriotis serta taqwa kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat Karo kuat berpegang kepada adat istiadat yang luhur, merupakan modal yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembangunan.Dalam kehidupan masyarakat Karo, idaman dan harapan (sura-sura pusuh peraten) yang ingin diwujudkan adalah pencapaian 3 (tiga) hal pokok yang disebut Tuah, Sangap, dan Mejuah-juah.

Tuah berarti menerima berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, mendapat keturunan, banyak kawan dan sahabat, cerdas, gigih, disiplin dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk generasi yang akan datang.

Sangap berarti mendapat rejeki, kemakmuran bagi pribadi, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat serta bagi generasi yang akan datang.

Mejuah-juah berarti sehat sejahtera lahir batin, aman, damai, bersemangat serta keseimbangan dan keselarasan antara manusia dan manusia, antara manusia dan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhannya. Ketiga hal tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang bulat yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.

17 Maret 2012

BUDAYA/KEBUDAYAAN



Rumah adat karo siwaluh jabu 16 ayo
(Rumah adat karo 8 Rumah tangga 16 Muka)
Didesain jhoni milala menjadi sebuah Gambar (21/01/2012) 

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

Wujud budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai, norama -norama peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak ; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masiarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling barintaraksi , mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia  lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Artefak (karya)Artefak adalah wujud kebudayaan fisik  yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.  Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Jenis-jenis kebudayaan

1. Peralatan dan perlengkapan hidup (Teknologi)
   Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:

Alat-alat produktif
Senjata
Wadah
Alat-alat menyalakan api
Makanan
Pakaiyan
Tempat berlindung dan perumahan
Alat-alat alat transportasi

2. Sistem mata pencaharian
   Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:

3. Sistem kekerabatan dan organisasi social
    Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.Mayer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat  dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit social yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya

4. Bahasa
   Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi  dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasin ilmu pengatahuna atau teknologi.

5 .Kesenian
   Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia  akan keindahan yang dinikmati dengan mata  ataupun telinga . Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

6. Sistem Kepercayaan
    Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia  dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari system jagat raya  ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa inggris): Religion, yang berasar dari bahasa latian  religare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia.

7. Sistem ilmu dan pengetahuan
    Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu , dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

SENI DAN BUDAYA

SENI 
Pengertian Seni 

 Kata seni berasal dari kata “sani” yang artinya “Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa”. Dalam bahasa Inggris dengan istilah “ART” (artivisial) yang artinya adalah barang/atau karya dari sebuah kegiatan. Seni sangat abstrak maknanya, jika kita telaah lebih dalam makna seni sangat beragam. Ada yang berpendapat seni itu unik, khas, indah, lembut dan memiliki nilai history yang tinggi. Pada karya seni identik didalamnya melekat nilai-nilai etika dan estetika, dikatakan dalam kontek berseni, seni adalah karya yang menggugah jiwa.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

 Seni adalah pengalaman estetik seseorang (seniman) yang diungkapkan kembali dalam suatu bentuk karya seni, sehingga menimbulkan pesona (rasa puas). Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Konsep seni terus berkembang sejalan dengan berkembangnya kebudayaan dan kehidupan masyarakat yang dinamis.

Beberapa pendapat tentang pengertian seni:

 Ensiklopedia Indonesia : Seni adalah penciptaan benda atau segala hal yang karena kendahan bentuknya, orang senang melihat dan mendengar.

Aristoteles : seni adalah kemampuan membuat sesuatu dalam hubungannya dengan upaya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan oleh gagasan tertentu.

Ki Hajar Dewantara : seni adalah indah, menurutnya seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dan hidup perasaannya dan bersifat indah hingga dapat menggerakkan jiwa perasaan manusia lainnya.

Akhdiat K. Mihardja : seni adalah kegiatan manusia yang merefleksikan kenyataan dalam sesuatu karya, yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani sipenerimanya.

Erich Kahler : seni adalah suatu kegiatan manusia yang menjelajahi, menciptakan realitas itu dengan symbol atau kiasan tentang keutuhan “dunia kecil” yang mencerminkan “dunia besar”.

Jenis Jenis Seni:

 1. Seni Musik
 Musik adalah: ilmu atau seni menyusun nada atau suara diutarakan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai keseimbangan dan kesatuan, nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi itu). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 602)

 2. Seni Tari
Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Unsur utama yang paling pokok dalam tari adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, dan waktu, dan tenaga.

 3. Seni Teater
 Kata Teater berasal dari kata Yunani kuno “theatron” yangsecara harfiah berarti gedung, tempat pertunjukan, stage (panggung),maupun pusat persembahan.Teater bisa juga diartikan mencakup gedung, pekerja (pemaindan kru panggung), sekaligus kegiatannya (isi-pentas/peristiwanya ).Sementara itu, ada juga yang mengartikan Teater sebagai semua jenisdan bentuk tontonan, baik di panggung maupun arena terbuka.Secara singkat dapatlah diberikan definisi terhadap Teater yaitusuatu kegiatan berekspresi yang bertolak dari alur cerita yang dipertunjukkan dengan menggunakan tubuh sebagai medium utama,sedangkan dalam proses penciptaannya digunakan unsur gerak, suara,bunyi dan rupa (wujud) yang disampaikan kepada penonton.Keberadaan teater di tengah kehidupan masyarakat merupakanresiko kultural dari dinamika kehidupan masyarakat sama denganresiko cultural lainnya, politik dan sebagainya. Dengan pengertian bahwa Teater sebagai salah satu bentuk kesenian adalah dihadirkanoleh dinamika masyarakat.

 4. Seni Rupa
 Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya. seni rupa antara lain adalah lukisan, grafis, patung, pertunjukan, film, koreografi, fotografi dan desain.

 5. Seni Sastra
 Bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Definisi kedua menurut kamus ini adalah karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya. Istilah sastra sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tulisan” atau ”karangan”. Sastra biasanya diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. Bahasa yang indah artinya bisa menimbulkan kesan dan menghibur pembacanya. Isi yang baik artinya berguna dan mengandung nilai pendidikan. Bentuk fisik dari sastra disebut karya sastra. Penulis karya sastra disebut sastrawan. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada ”kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata ”sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

 Sifat Dasar Seni 
Sifat kreatif dari seni. Seni merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia yang selalu mencipta karya baru. Sifat individualitas dari seni. Karya seni yang diciptakan oleh seorang seniman merupakan karya yang berciri personal, Subyektif dan individual. Nilai ekspresi atau perasaan. Dalam mengapresiasi dan menilai suatu karya seni harus memakai kriteria atau ukuran perasaan estetis. Seniman mengekspresikan perasaan estetis nya ke dalam karya seninya lalu penikmat seni (apresiator) menghayati, memahami dan mengapresiasi karya tersebut dengan perasaannya. Keabadian sebab seni dapat hidup sepanjang masa. Konsep karya seni yang dihasilkan oleh seorang seniman dan diapresiasi oleh masyarakat tidak dapat ditarik kembali atau terhapuskan oleh waktu. Semesta atau universal sebab seni berkembang di seluruh dunia dan di sepanjang waktu. Seni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Sejak jaman pra sejarah hingga jaman modern ini orang terus membuat karya seni dengan beragam fungsi dan wujudnya sesuai dengan perkembangan masyarakatnya.

 BUDAYA/KEBUDAYAAN

 Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

 Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

 Wujud budaya 
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

 Gagasan (Wujud ideal) Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai, norama -norama peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak ; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masiarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. Aktivitas (tindakan) Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling barintaraksi , mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. Artefak (karya)Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

 Jenis-jenis kebudayaan

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup (Teknologi)

 Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:

Alat-alat produktif
Senjata
Wadah
Alat-alat menyalakan api
Makanan
Pakaiyan
Tempat berlindung dan perumahan
Alat-alat alat transportasi

   2. Sistem mata pencaharian

Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:

   3. Sistem kekerabatan dan organisasi social

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.Mayer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit social yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya

  4. Bahasa Bahasa

adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasin ilmu pengatahuna atau teknologi.

   5 .Kesenian

 Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga . Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.

   6. Sistem Kepercayaan

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari system jagat raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa inggris): Religion, yang berasar dari bahasa latian religare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia.

   7. Sistem ilmu dan pengetahuan

 Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu , dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366