Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

14 April 2012

Sejarah Tembut-Tembut Seberaya


SEJARAH TEMBUT - TEMBUT SEBERAYA DI TANAH KARO
   Tembut-Tembut yang terdapat di Desa Seberaya dibuat Oleh Pirei Sembiring Depari, diperkirakan sekitar tahun 1910-an. Pirei Sembiring Depari semasa hidupnya adalah seorang tukang ukir dan tukang pahat yang tersohor. Kepandaiannya yang utama adalah menempa atau membentuk pisau, parang dan belati. Masyarakat Karo pada masa itu mangakui pisau dan belati hasil buatan Pirei Sembiring Depari memiliki kualitas yang sangat baik. Pirei Sembiring Depari hidup dari pekerjaannya sebagai penempa pisau dan belati serta juga pengukir batu. Popularitas Pirei Sembiring Depari sampai juga pada pemerintahan Belanda yang pada masa itu mengusai Tanah Karo sebagai penjajah. 

Hal ini membuat pihak Belanda memesan belati buatan Pirei Sembiring Depari, dan pesanan-pesanan tersebut membuat kehidupan Pirei Sembiring Depari makin membaik dari segi ekonomi. Pirei Sembiring Depari memiliki satu sifat yang kurang baik yaitu gemar bermain judi. Dalam kegiatannya bermain judi, Pirei sering mengalami kekalahan. Pada suatu hari, sehabis dia kalah bermain judi dia pulang melewati areal perladangan, dimana di areal perladangan tersebut banyak dipajang Gundala-Gundala yang digunakan petani untuk menakut-nakuti hewan pengganggu tumbuhan mereka seperti burung dan moyet. Melihat gundala-gundala tersebut, muncul keinginan Pirei Sembiring Depari untuk memahat gundala-gundala yang sama.
   Meskipun telah memiliki niat untuk membuat gundala-gundala yang dilihatnya dalam perjalanan menuju pulang, namun Pirei Sembirng Depari belum dapat menemukan apa bahan atau kayu apa yang akan dipahat untuk membuat gundala-gundala tersebut. Hal ini membuat Pirei dalam melakukan perjalanan kemanapun dia pergi melakukan pengamatan terhadap pohon-pohon yang dijumpainya, memilih kayu apa yang cocok untuk rencananya membuat gundala-gundala. Dalam sebuah perjalannya menuju suatu tempat, Pirei Sembiring Depari melihat pohon gecih. Pohon kayu tersebut berbentuk lurus, bersih dan tak bercacat serta mudah dipahat. Hal ini membuat Pirei menjatuhkan pilihat pada kayu gecih untuk dijadikan kayu pembuat gundala-gundala. Pada suatu hari Pirei Sembiring 
Depari berniat menebang pohon tersebut, namun ketika hendak menebang pohon ini tiba-tiba petir datang menyambar dan hujan pun turun dengan lebatnya, hal ini membuat usaha Pirei untuk mebang pohon tersebut gagal. Berkali-kali Pirei Sembiring Depari mencoba menebang kembali pohon tersebut, namun selalu gagal dengan adanya sambaran petir dan turunnya hujan. Keadaan seperti ini tidak membuat Pirei menyerah untuk mendapatkan pohon tersebut, akhirnya Pirei meminta petunjuk dari para orang tua bagaimana cara agar penebangannya berhasil.
   Dari arahan para orang tua yang ditanya oleh Pirei Sembiring Depari, maka Pirei haruslah memberikan sesajen pada kekuatan gaib yang menunggui hutan. Sesajen tersebut dalam bentuk makanan seperti seekor ayam yang sudah dimasak, pisang, nasi dan buah-buahan ditambah beberapa lembar daun sirih yang dilengkapi dengan kapur sirih dan gambir. Sesajen tersebut sebagai tanda minta permisi untuk menebang salah satu pohon yang ada di dalam hutan tersebut. Setelah melakukan ritual pemberian sesajen pada kekuatan gaib pemilik hutan, akhirnya Pirei dapat melakukan penebangan terhadap kayu gecih ini. Pada saat penebangan kayu ini, petir memang tidak datang lagi menyambar, namun hujan masih tetap turun, namun ini tidak begitu mengganggu penebangan yang dilakukan Pirei. Dari kayu gecih tersebut Pirei Sembiring Depari membentuk dan mengukir seperangkat gundala-gundala

TEMBUT - TEMBUT SEBERAYA DI TANAH KARO
Tembut- tembut Seberaya (gundla-gundala)
   Gundala-gundala tersebut terdiri dari empat topeng dan satu kepala burung. Mengacu pada gundala-gundala, maka Pirei Sembiring Depari dalam membuat patung atau topeng tersebut berusaha semirip mungkin dengan imajinasinya. Namun, topeng yang dihasilkan oleh Pirei Sembiring Depari, menurut orang-orang pada saat itu lebih seram dan menakutkan dari gundala-gundala biasanya. Hal ini membuat gundala-gundala buatan Pirei Sembiring Depari disebut Tembut-Tembut. Pada awalnya, Pirei Sembiring Depari meminta beberapa anak muda yang termasuk dalam kekerabatan anak beru-nya untuk memainkannya di halaman rumahnya. Sebagaimana tradisi yang terdapat pada masyarakat Karo, seseorang yang lazim untuk disuruh dalam melakukan suatu pekerjaan adalah kerabat yang masuk dalam kelompok anak beru (kelompok pengambil anak dara), sedangkan dari pihak kalimbubu (pemberi anak dara) pantang untuk disuruh-suruh. Permainan tembut-tembut dari Pirei Sembiring menarik perhatian banyak warga desa, sehingga setiap keluarga Pirei memainkan tembut-tembut ini selalu saja banyak warga yang menonton. Selain karena pada masa itu hiburan masih sangat minim, hal ini juga dikarenakan permainan ini dianggap unik dan menghibur.

   Namun setiap tembut-tembut tersebut dimainkan maka selalu saja turun hujan, sehingga masyarakat dan Pirei sendiri pun marasakan keganjilan. Sampai pada suatu saat Pirei Sembiring Depari mendapatkan suatu “bisikan” gaib dalam tidurnya. Bisikan tersebut mengatakan kalau dia harus menjaga dan merawat tembut-tembut tersebut sampai pada anak cucunya nanti. Pirei juga diwajibkan untuk memandikan dan memberi sesajen pada waktu-waktu tertentu pada tembut-tembut tersebut, tembut-tembut ini juga hanya dapat dimainkan oleh anak beru dari pihak Pirei Sembiring Depari. Berdasarkan hal tersebut diataslah sehingga sampai saat ini tembut-tembut yang dibuat oleh Pirei Sembiring Depari tetap dijaga dan dipelihara oleh keturunnya. Dari Pirei Sembiring Depari sampai sekarang, sudah empat generasi yang menjadi ahli warisnya. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dari urutannya sebagai berikut :
  1. Pirei Sembiring Depari = Pembuat tembut-tembut pertama
  2. Ngasal Sembiring Depari
  3. Firman Sembiring Depari
  4. Dwikora Sembiring Depari = Ahli waris tembut-tembut sekarang
Sumber : repository.usu.ac.id & tembuttembutseberaya.com


Terkait :

Sejarah Desa Seberaya

Desa Seberaya Tahun 1870 (Tropenmuseum)
   Dalam sejarah terbentuknya Desa Seberaya dan penamaan Desa Seberaya, masyarakat Desa Seberaya memiliki cerita sendiri dan cerita Sejarah ini diakui dari generasi ke generasi penduduk Desa Seberaya. Kata Seberaya ini sebenarnya berasal dari kata Serayan, dalam bahasa Karo serayan artinya kelompok atau kelompok kerja. Kata serayan ini juga dapat disamakan dengan kata aron dalam bahasa Karo yang berarti kelompok kerja, biasanya untuk mengerjakan ladang anggota kelompoknya.

   Kata serayan dipilih karena pada awalnya ada sekelompok orang dengan marga Karo Sekali yang mendiami daerah ini. Kelompok orang ini membuka lahan untuk dijadikan tempat tinggal. Kelompok orang ini adalah 3 keluarga yang masih memiliki hubungan darah (satu keluarga) dengan marga Karo Sekali. Karena merasa cocok dengan daerah tersebut, akhirnya ketiga keluarga ini memutuskan untuk menetap dan mendirikan rumah-rumah bagi keluarga dan keturunan masing-masing mereka. Daerah yang semula tidak ada namanya ini kemudian diberi nama Serayan karena mereka yang mula-mula mendiami daerah ini adalah sekelompok orang. Seiring dengan berjalannya waktu, kata serayan berubah menjadi kata Seberaya, tidak ada yang mengetahui jelas kapan dan siapa yang mengubah nama serayan menjadi Seberaya. Dalam budaya Karo, ada istilah Merga simentek kuta, yaitu marga orang yang awalnya mendiami daerah tersebut atau orang yang mendirikan kampung atau desa tersebut dan istilah anak beru kuta. Desa Seberaya marga Simantek kuta adalah marga Karo Sekali, karena kelompok orang dengan Marga Karo Sekali lah yang awalnya mendiami dan mendirikan desa ini. Sementara anak beru kuta adalah Merga Sembiring. 

Ternak di Desa Sibraija Tahun 1870 (Tropenmuseum)
   Di seberaya sendiri, ada tiga kesain besar, kesain dalam bahasa Indonesia berarti kelompok pemukiman yang berada dalam sebuah wilayah desa. Kesain tersebut adalah Kesain Rumah Karo Raja Urung, Kesain Saribu dan Kesain Julun. Nama-nama kesain ini diyakini adalah nama ketiga kepala keluarga yang awalanya mendiami daerah Seberaya ini. Dari ketiga nama ini, Karo Raja Urung adalah yang tertua, disusul oleh kedua saudaranya yaitu Saribu dan Julun.
Sampai saat ini, penduduk dengan marga Karo Sekali dan Sembiring lah yang paling banyak terdapat di Desa Seberaya. Marga Karo Sekali juga diyakini berasal dan berkembang dari Desa Seberaya, sehingga jika dimanapun ada orang Karo dengan marga Karo Sekali kemungkinan besar adalah berasal dari Desa Seberaya.(Sumber : repository.usu.ac.id doc.Romi Oktolius Ginting)


Terkait :

11 April 2012

Agresi II Militer Belanda


   Namun perjanjian Renville ini tidak bertahan lama karena pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan aksi militer II, akibat serangan ini pasukan republik segera bergerylla ke pedalaman Tanah Karo, dan menyerang pos-pos kedudukan musuh serta melucuti senjata mereka. Umumnya para Onderdistricthoofd meninggalkan tempatnya mengungsi mencari tempat aman ke Kabanjahe, Berastagi dan Tiga Binanga.
Setelah itu, untuk menentukan daerah pertempuran bagi masing-masing kesatuan di daerah Gerillya Tanah Karo dan Pemerintahan Militer Kabupaten Karo, maka tanggal 1 April 1949 diadakan perundingan antara Komandan Resimen IV Distrik X Mayor Djamin Ginting dengan komandan Sektor III Sub-Terr VII, Mayor Selamat Ginting di Kotacane.

Dalam perundingan itu kedua belah pihak sepakat membagi daerah operasi pertempuran sebagai berikut: Daerah Operasi Pasukan Resimen IV, mulai dari sebelah kiri jalan raya Tiga Binanga sampai ke Berastagi dan dari Berastagi sampai ke Medan sebelah menyebelah ke jalan raya; daerah operasi pasukan TNI sektor III, mulai dari Kabupaten Dairi terus sebelah kanan jalan raya Lau Baleng Tiga Binanga Tongkoh  termasuk daerah Silima Kuta Cingkes, Simalungun.

Adapun mengenai hal kedua, yaitu perihal pembentukan pemerintahan Pentadbiran militer Kabupaten Karo, baru diputuskan setelah komandan Sub Terr VII Komando Sumatera Letnan Kolonel  A.E. Kawilarang tiba di Kotacane pada tanggal 2 April 1949. Di Kotacane beliau berunding dengan Mayor Djamin Ginting dan dalam kedudukannya selaku Wakil Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Letkol A.E. Kawilarang mengeluarkan surat ketetapan Nomor 62/ist/dl, tanggal 4 April 1949, tentang susunan pemerintahan Pentadbiran Militer Karo sebagai berikut:

Kepala PPMK                        : Rakutta Sembiring
Wakil Kepala I                        : Wedana Keras Surbakti
Wakil Kepala II                       : Wedana Netap Bukit
Kepala Sekretariat                   : Kantor Tarigan
Kepala Keuangan                    : Tambaten Berahmana
Wedana Karo Utara                 : Kendal Keliat
Wedana Karo Selatan              : Matang Sitepu

Dalam surat ketetapan ini ternyata kewedanan Karo Hilir, kewedanan Karo Jahe dan kewedanan Tiga Panah sama sekali tidak disebut atau dicantumkan lagi.

Kewedanan Karo Jahe dibaginya menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Pancur Batu Timur dan kecamatan Pancur Batu Barat. Demikian pula kalau tadinya setelah revolusi social Kabupaten Karo  terdiri dari tiga kewedanan, malah ditambah lagi dengan kewedanan Tiga Panah dengan 15 kecamatan, maka dengan keputusan 4 April 1949 itu, Kabupaten Karo hanya terdiri dari dua kewedanan membawahi 9 kecamatan.

Selanjutnya dengan tercapainya persetujuan Roem Royen, tanggal 7 Mei 1949, yang isinya Belanda setuju memulihkan kedudukan Republik Indonesia ke Jakarta sekaligus mengembalikan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta pada kedudukannya semula, maka disepakati penghentian tembak antara RI dengan Belanda.

Dengan keluarnya penghentian tembak menembak itu, Kepala Pemerintah Pentadbiran Militer Karo Rakutta Sembiring dan perangkat kantornya segera meninggalkan Kotacane menempati kantor yang baru di Tiganderket, maka daerah Tanah Karo diklaim oleh dua negara yaitu Republik Indonesia dan Negara Sumatera Timur.

Pembentukan Negara Sumatera Timur (NST) tidak disetujui oleh rakyat dan setelah Konferensi Meja Bundar, dimana-mana muncul gerakan-gerakan yagn bertujuan untuk menghapuskan Negara boneka tersebut.

Menjelang akhir Desember 1949, para pemuda mengadakan konferensi dan mengeluarkan mosi agar pemerintah RI dikembalikan ke Sumatera Timur. Kemudian tanggal 21-22 Januari 1950, front Nasional Sumatera Timur mengadakan konferensi dan menghasilkan resolusi yagn menuntut agar NST segera dilebur kedalam Republik Indonesia. Sejak itu, situasi memanas “Aksi Tuntutan Rakyat” muncul dimana-mana termasuk di  Tanah Karo.

Aspirasi mereka akhirnya terpenuhi setelah persoalan Negara-Negara RIS diselesaikan secara nasional yaitu kembali ke pangkuan Negara kesatuan Republik Indonesia dengan UUDS 1950.

Dengan terbentuknya NKRI tanggal 15 Agustus 1950, dualisme pemerintahan di Tanah Karo tidak ada lagi dan Bupati Rakutta Sembiring dan segenap perangkatnya kembali ke kantornya di Kabanjahe.

Salah satu keputusan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia itu adalah Kabupaten Karo terdiri dari dua kewedanan yang masing-masing membawahi lima kecamatan dengan susunan sebagai berikut:

Bupati Kepala Daerah             : Rakutta Sembiring Berahmana
Wakil I                                    : Keras Surbakti
Wakil II                                   : Netap Bukit
Kepala Sekretaris                    : Kantor Tarigan
Bendahara                               : Tambaten Berahmana

Wedana Karo Utara Kendal Keliat membawahi lima camat yaitu:
  1. Camat Kabanjahe Nahar Purba
  2. Camat Barusjahe Babo Sitepu
  3. Camat Tiga Panah Djamin Karo Sekali
  4. Camat Simpang Empat Nahar Purba
  5. Camat Payung Nitipi Payung
Wedana Karo Selatan Matang Sitepu membawahi lima camat:
  1. Camat Tiga Binanga Pulung Tarigan
  2. Camat Juhar Tandil Tarigan
  3. Camat Munthe Pangkat Sembiring Meliala
  4. Camat Kuta Buluh Masa Sinulingga
  5. Camat Mardinding Tuahta Barus
Dengan demikian setelah terbentuknya NKRI, daerah Karo Jahe (Deli Hulu) dan Silima Kuta (Cingkes) yang sejak revolusi social Maret 1946 masuk dari bagian Kabupaten Karo ‘dipaksa’ berpisah. Deli Hulu yang tadinya menjadi satu kewedanan dimasukkan ke dalam bagian Deli Serdang, sedangkan Kecamatan Silima Kuta dimasukkan kedalam wilayah Kabupaten Simalungun.

Adapun Ibu Negeri atau tempat berkantor kepala Pemerintahan Karo (Kabupaten Karo) sejak Indonesia merdeka 1945 hingga sekarang adalah:

1.     Kabanjahe, 1945 – 31 Juli 1947
2.     Tigabinanga, 31 Juli 1947 – 25 Nopember 1947
3.     Lau Baleng, 25 Nopember 1947 – 7 Pebruari 1948
4.     Kutacane, 7 Pebruari 1947 – 14 Agustus 1949
5.     Tiganderket, 14 Agustus 1949 – 17 Agustus 1950
6       Kabanjahe, 17 Agustus 1950 hingga sekarang.
Sumber : Pemkap Karo

23 Maret 2012

WIilayah Masyarakat Karo


   Secara garis besar suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, dan beberapa tempat lain seperti Kabupaten Deliserdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kabupaten Simalungun, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo yang dipimpin Bupati Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian Adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Untuk lebih jelas penulis akan memaparkan tentang siapa, bagaimana dan dimana suku Karo berada.

Wilayah Umum Masyarakat Karo
Peta sumatra utara  
Karo juga merupakan sebutan untuk satu wilayah administratif kabupaten yaitu kabupaten Karo yang wilayahnya meliputi seluruh dataran tinggi Karo. Gambaran tentang daerah domisili masyarakat Karo dapat pula dilihat seperti apa yang digambarkan oleh J.H. Neuman dalam buku lentera kehidupan orang Karo dalam berbudaya (Sarjani Tarigan, 2009 : 36), yaitu:

Wilayah yang didiami oleh suku Karo dibatasi sebelah timur oleh pinggir jalan yang memisahkan dataran tinggi dari Serdang. Di sebelah Selatan kira-kira dibatasi oleh sungai Biang (yang diberi nama sungai Wampu, apabila memasuki Langkat), disebelah Barat dibatasi oleh gunung Sinabung dan disebelah Utara wilayah itu meluas sampai kedataran rendah Deli dan Serdang.”

Dari gambaran luas daerahnya diatas, domisili Masyarakat Karo ini memang tidak dapat dibantah, bahwa ada beberapa kelompok yang berdomisili di daerah pantai dan hidup berdampingan dengan penduduk Melayu, dan secara bertahap kedua suku tersebut saling berbaur dan berakulturasi antara sesamanya. Dengan demikian, orang-orang Karo yang tersebar dan berakulturasi dengan suku-suku lain tersebut, mengakibatkan adanya perbedaan julukan atas dasar wilayah komusitasnya seperti : Karo Kenjulu, Karo Teluh Dereng, Karo Singalor Lau, Karo Baluren, Karo Langkat, Karo Timur dan Karo Dusun.

Arti julukan atas dasar wilayah karo :
  • Karo Kenjulu adalah sebahagian besar wilayah Kabupaten Karo, yakni kecamatan Kabanjahe, Berastagi, Tiga Panah, Barusjahe, Simpang Empat, Payung.
  • Karo Teruh Deleng adalah kecamatan Kuta Buloh, Kec. Payung, kec. Lau Baleng dan kec. Mardinding. 
  • Singalor Lau meliputi kecamatan Tiga Binanga, kecamatan Juhar, dan kecamatan Munte.
  • Karo Baluren adalah kecamatan Tanah Pinem dan kecamatan Tigalingga. Kecamatan Tanah Pinem sudah merupakan bagian dari kabupaten Dairi.
  •  Karo Langkat adalah masyarakat Karo yang tinggal di kabupaten Langkat dan kabupaten Binjei yang meliputi kecamatan-kecamatan: Padang Tualang, Bahorok, Salapian, Kwala, Selesai, Sungai Bingei, Binjei dan Stabat.
  •  Karo Timur adalah yang tinggal di wilayah kecamatan Lubuk Pakam, kecamatan Bangun Purba, kecamatan Galang, kecamatan Gunung Meriah, kecamatan Dolok Silau dan kecamatan Silimakuta. Wilayah-wilayah tersebut merupakan daerah kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Simalungun.
  •  Karo Dusun adalah kecamatan Sibolangit, Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Namorambe, Kecamatan Sunggal, kecamatan Kutalimbaru, kecamatan STM-Hilir, Kecamatan STM-Hulu, Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Tanjung Morawa dan Kecamatan Biru-biru. (ibid : 37).
   Selain wilayah-wilayah tempat tinggal yang telah dijelaskan di atas, masih ada wilayah yang cukup penting yang menjadi tempat tinggal atau domisili orang Karo, yaitu wilayah kota Medan (ibukota propinsi Sumatera Utara). Di sepanjang jalan dari Kabanjahe /Kabupaten Karo menuju kota Medan juga terdapat beberapa desa dan semi kota (sub-urban) yang juga menjadi domisili orang Karo seperti: kota Berastagi, desa Bandarbaru, desa Sibolangit, desa Sembahe, dan Pancurbatu (kecuali Berastagi, semua desa tersebut termasuk dalam wilayah kabupaten Deliserdang).
Memasuki wilayah kota Medan, terdapat lagi beberapa wilayah desa, seperti: desa Lau Cih, Kelurahan Simpang Selayang, Simpang Kuala dan Padang Bulan yang sebagian besar penduduknya adalah orang Karo. Penduduk di setiap wilayah tersebut, walaupun telah lama tinggal secara menetap, namun secara kekerabatan masih mempunyai hubungan dengan masyarakat Karo yang tinggal di wilayah kabupaten Karo.Sumber: medan.bpk.go.idrepository.usu.ac.id

22 Maret 2012

Asal Usul Masyarakat Karo

  Berbicara mengenai bagaimana dan dari mana sebenarnya asal mula terbentuknya suku Karo, hingga saat ini kelihatannya masih perlu dikaji lebih dalam. Banyak pendapat yang disampaikan oleh para ahli dan tokoh, tetapi masih dalam perkiraan menurut legenda dan silsilah cerita lisan.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Menurutnya, leluhur etnis Karo berasal dari India Selatan berbatasan dengan Mianmar. Seorang Maha Raja berangkat dengan rombongan yang terdiri dari anak, istri (dayang-dayang), pengawal, prajurit, beserta harta dan hewan peliharaannya. Ia bermaksud mencari tempat baru yang subur dan mendirikan kerajaan baru. Tidak disebutkan kapan peristiwa itu terjadi, namun dikatakan seorang pengawalnya yang sakti bernama si Karo, yang kemudian kawin dengan salah satu putri Maha Raja yang bernama Miansari. Didalam perjalanan mereka diterpa angin ribut dan rombongan ini menjadi terpencar dan akibatnya ada yang terdampar dipulau (Berhala). Dalam peristiwa itulah si Karo dan Miansari berpisah dari rombongan yang terdiri dari tujuh orang. Menggunakan rakit kemudian rombongann sampai disebuah pulau yang diberi nama “Perbulawanen” yang berarti “perjuangan” yang sekarang dikenal sebagai daerah Belawan. Dari sana mereka terus menelusuri sungai Deli dan Babura dan akhirnya sampai disebuah gua Umang di Sembahe. Setelah beberapa waktu mereka tinggal didataran tinggi itu dan merasa cocok akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal disana. Dan dari sanalah asal mula perkampungan didataran tinggi Karo.

Dari perkawinan si Karo (nenek moyang Karo) dengan Miansari lahir tujuh orang anak. Anak sulung hingga anak keenam semuanya perempuan, yaitu: Corah, Unjuk, Tekang, Girik, Pagit, Jile dan akhirnya lahir anak ketujuh seorang laki-laki diberi nama Meherga yang berarti berharga atau mehaga (penting) sebagai penerus. Dari sanalah akhirnya lahir Merga bagi orang Karo yang berasal dari ayah (pathrilineal) sedangkan bagi anak perempuan disebut Beru berasal dari kata diberu yang berarti perempuan.

Merga akhirnya kawin dengan anak Tarlon yang bernama Cimata. Tarlon merupakan saudara bungsu dari Miansari (istri Nini Karo). Dari Merga dan Cimata kemudian lahir lima orang anak laki-laki yang namanya merupakan lima induk merga etnis Karo, yaitu:
  1. Karo. Diberi nama Karo tujuannya bila nanti kakeknya (Nini Karo) telah tiada Karo sebagai gantinya sebagai ingatan. Sehingga nama leluhurnya tidak hilang. 
  2. Ginting, anak kedua 
  3. Sembiring, diberi nama si mbiring (hitam) karena dia merupakan yang paling hitam diantara saudaranya. 
  4.  Peranginangin, diberi nama peranginangin karena ketika ia lahir angin berhembus dengan kencangnya (angin puting-beliung). 
  5. Tarigan, anak bungsu
Pada perkembangannya, keturunan merga membentuk sub-sub merga yang baru sehingga terdapat banyak merga-merga pada etnis Karo. Sub-sub merga ini berkembang akibat migrasinya para keturunan Nini Karo kedaerah lain, sebab kampung mula-mula semakin lama semakin padat, dan akibat terjadi perkawinan dengan etnis lain dari daerah lain.
Dikutip dari Buku : Orang Karo diantara Orang Batak , Hal 5 .Marthin L.Peranginangin 
(sumber : repository.usu.ac.id)

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Daliken Si Telu (Rakut Si Telu)


   Dalam mencari nilai-nilai luhur yang dapat mempersatukan manusia yang bersumber dari adat istiadat masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia banyak mempunyai pilihan. Banyaknya pilihan ini dikarenakan bangsa Indonesia mempunyai banyak suku bangsa, dan tiap suku bangsa memiliki adatnya masing-masing. Di dalam adat ini banyak terkandung variabel-variabel pendukung adat yang juga masing-masing mempunyai nilai. Nilai-nilai ini mendukung kelanggengan adat istiadat.

Salah satu variabel pendukung dan penggerak adat istiadat dalam masyarakat Karo adalah daliken si telu. Nilai-nilai yang dominan yang terdapat di dalam daliken si telu ini adalah nilai gotong royong dan kekerabatan. Secara etimologis daliken si telu berarti "tungku yang tiga". daliken = batu tungku, si = yang, telu = tiga. Realita ini menunjuk kepada fungsi batu tungku sebagai tempat untuk menyalakan api (memasak). Namun ada pula yang mengartikannya rakut si telu (ikatan yang tiga).

Namun ada pula yang mengartikannya sebagai sangkep nggeluh (kelengkapan hidup). Konsep ini tidak hanya dimiliki oleh Batak Karo saja, tetapi juga dimiliki oleh Batak yang lain dengan nama yang berbeda. Dalam Batak Toba dan Mandailing dikenal istilah dalihan na tolu, dalam masyarakat NTT dikenal lika telo (Wirateja, 1985).Unsur daliken si telu atau rakut si telu atau sangkep nggeluh adalah kalimbubu (Karo) hula-hula (Toba) mora (Mandailing dan Angkola) todong(Simalungun), sembuyak/senina (Karo) dongan sabutuha (Toba) kahanggi (Mandailing\dan Angkola) Sanina (Simalungun), dan anakberu (Karo) boru (Toba, Mandailing dan Angkola) anak boru (Simalungun).Daliken si telu ini merupakan alat pemersatu masyarakat Karo, sekaligus dapat mengikat atau terikat kepada hubungan perkerabatan yang sekaligus pula sebagai dasar gotong royong, dan saling hormat menghormati, maka di dalam segenap aspek kehidupan masyarakat Batak Karo, daliken si telu ini sangat berperan penting, dia merupakan dasar bagi sistem kekerabatan dan menjadi landasan untuk semua kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat dan juga interaksi dengan sesama masyarakat Karo.

Hal ini maka setiap individu Karo terikat kepada daliken si telu. Melalui daliken si telu semua masyarakat Karo saling berkerabat, kalau tidak berkerabat karena hubungan darah, berkerabat karena hubungan klen. Jadi daliken si telu adalah landasan sistem kekerabatan dan menjadi landasan bagi semua kegiatan, khususnya kegiatan yang bertalian dengan pelaksanaan adat istiadat dan interaksi antar sesama masyarakat Karo. Daliken si telu ini didukung oleh tiga aktor yang dikenal dengan kalimbubu, sembuyak/senina, dan anakberu).Atau dengan bahasa lain, daliken si telu adalah suatu jaringan kerja sosial-budaya yang bersifat gotong royong dan kebersamaan yang terdapat pada masyarakat Karo.

Daliken Si Telu Sebagai Sistem Kekerabatan

Aspek sistem kekerabatan dalam daliken si telu dapat dilihat berdasarkan unsur pendukung daliken si telu itu yaitu kalimbubu, senina/sembuyak dan anakberu. Sebagai sistem kekerabatan, sifatnya terbuka. Kedudukan seseorang, sebagai anakberu, atau kalimbubu, atau senina sembuyak, bergantung kepada situasi dan kondisi. 
Sistem kekerabatan seperti bersifat sangat demokratis. Berdasarkan fungsinya, kalimbubu dalam struktur daliken si telu adalah sebagai pemegang keadilan dan kehormatan, ini diumpamakan sebagai badan legislatif, pembuat undang-undang, atau sebagai dewan pertimbangan agung, yang siap memberikan saran kalau diminta. Saran yang diberikannya, walaupun dia dekat dengan salah seorang dari yang meminta saran, sarannya tetap bersifat obyektif konstruktif. Hal ini maka pihak kalimbubu disebut juga Dibata Ni Idah (Tuhan yang Kelihatan). 

Senina/sembuyak ini diumpamakan sebagai eksekutif, kekuasaan pemerintahan. Mereka bertanggungjawab kepada setiap upacara adat sembuyak sembuyaknya, baik ke dalam maupun keluar, dan bila perlu mengadopsi anak yatim piatu dari saudara yang sesubklen. Mekanisme ini sesuai dengan konsep sembuyak, sama dengan seperut, sama dengan saudara kandung. Sesubklen sama dengan saudara kandung. Sedangkan anakberu diumpamakan sebagai badan yudikatif, kekuasaan peradilan. Hal ini maka anakberu disebut pula hakim moral, karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, anakberu menjadi juru pendamai
bagi perselisihan yang ada.

Doc. DRS. PERTAMPILAN S. BRAHMANA, M.SI
Sumber: repository.usu.ac.id


20 Maret 2012

Putri Hijau (Karo,Melayu,Aceh)


Gambar yang di jadikan sutradara
Joy bangun saat membuat Teater
Tentang putri hijau
  Menurut hikayat, Meriam Puntung (Meriam Buntung dalam bahasa Karo) adalah penjelmaan dari adik Putri Hijau yang berasal dari Kerajaan Haru. Suatu saat, Putri Hijau mendapatkan pinangan dari Sultan Aceh, yang kemudian ditolaknya. Mendapatkan penolakan itu, Sultan Aceh memutuskan untuk menyerang Istana Haru.

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366


Serangan dari Kerajaan Aceh itu ternyata tak dapat dibendung oleh balatentara Haru. Kakak Putri Hijau, lalu berubah menjadi seekor ular naga, sedangkan adiknya,merubah diri menjadi meriam untuk mempertahankan negerinya itu.Saat laskar Aceh semakin dekat ke pintu gerbang Istana Haru, satu-satunya pertahanan adalah meriam itu. Karena digunakan terus-menerus dan tidak mampu menahan panas, meriam itu pun terbelah menjadi dua. Pecahannya terpental ke dua tempat yang berbeda.Salah satu ujungnya terpental ke Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Tanah Karo sekarang. Sementara itu, ujung yang lainnya kini berada di bangunan yang berada di halaman Istana Maimoon. 


  Keduanya hingga sekarang masih dapat ditemui di kedua tempat itu dan menjadi benda yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.Sementara Putri Hijau sendiri dibawa oleh Naga penjelmaan dari kakaknya ke arah selat Malaka dan tidak ada kabarnya lagi setelah itu.Begitulah legenda yang masih hidup dalam sebagian masyarakat Sumatera Utara. Akan tetapi, benarkah keseluruhan jalan ceriteranya tersebut?Sementara menurut Biak Resada Ginting, seorang pemerhati sejarah dan pemegang sastra lisan Karo, keberadaan Putri Hijau bukan sekadar legenda. Ia adalah seorang ratu yang memerintah Kerajaan Haru atau Ale (dalam bahasa Karo) sekitar tahun 1594 Masehi. Saat itu Putri Hijau tersebut masih beragama kepercayaan nenek moyang dengan bertuhankan Dibata Si Mula Jadi. "Artinya adalah Tuhan yang maha pertama dan paling akhir, hanya Dia yang tetap hidup," kata Biak, yang menguasai ceritera tentang Kerajaan Haru dan Karo secara lisan dan turun-temurun dari nenek moyangnya.

Tempat pemandian putri hijau
Di Desa Pamah Deli Tua

   Sementara pada saat bersamaan, di Kesultanan Aceh berkuasalah Sultan Iskandar Muda yang telah beragama Islam. Suatu saat, Iskandar Muda mengirimkan utusannya untuk menyampaikan surat kepada Putri Hijau yang berisi tiga hal.Pertama, hendaknya Putri Hijau bersedia menjadi permaisuri Sultan Iskandar Muda. Kedua, Aceh adalah Serambi Mekkah dan Haru adalah Serambi Aceh, itu berarti Haru diminta untuk tunduk kepada Aceh. Jika Haru tidak mengindahkan kedua hal tersebut, maka dalam pesan yang ketiga disebutkan bahwa Aceh akan menyebarkan agama Islam di Haru."Reaksi Putri Hijau tentu saja menolak dengan alasan tidak ada satu kerajaan pun yang dapat menguasai Haru. Mendengar reaksi tersebut, Iskandar Muda mengirimkan Panglima Gocah untuk menyerang Haru," kata Biak.Peperangan antara Aceh dengan Haru berlangsung sekitar satu setengah bulan lamanya. 


  Pasukan Haru dapat dipukul mundur sehingga Istana Haru dapat dikuasai. Sementara Putri Hijau sendiri ikut gugur dalam peperangan itu."Tidak benar kalau Putri Hijau itu hilang begitu saja. Apalagi legenda yang menyebutkan Putri Hijau dibawa ke Aceh dengan menggunakan peti kaca. Tak rasional itu. Sesakti apa pun orang zaman dulu, tetap saja harus bernapas," . Sementara itu, mengenai keberadaan Meriam Puntung, Biak mengatakan, mungkin hanya terdapat satu meriam yang paling diandalkan di Kerajaan Haru ketika melawan bala tentara Aceh. Meriam itu digunakan secara terus-menerus selama berminggu-minggu hingga putus dan pecah, dan pecahan meriam buntung tersebut kini berada di desa Suka Nalu kecamatan Barus Jahe, menurut penduduk desa Suka Nalu, konon pecahan meriam yang berada di Desa Suka Nalu tersebut, pernah di coba untuk di bawa ke museum di medan, tetapi besok nya pecahan meriam itu kembali lagi ke tempat nya semula yaitu di desa Suka Nalu kecamatan Barus Jahe.Sumber: Si Pesikap Kuta Kemulihenta, http://teateraron.wordpress.com, KITLV
 Meriam Putri HijauDi Istana Maimoon, Medan


Meriam Putri Hijau
Di Sukanalu, Tanah Karo 

Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Cerita Rakyat Karo

cerita rakyat karo, indonesia, seni dan budaya, suku karo
 Cerita rakyat meliputi legenda Musik, Sejarah, Lisan, Pepatah, Lelucon, Takhayul, dongeng dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam suatu budaya, subkultur, atau kelompok.
Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya. Bidang studi yang mempelajari folklor disebut folkloristika. Istilah filklor berasal dari bahasa inggris, folklore, yang pertama kali dikemukakan oleh sejarawan Inggris William Thomas  dalam sebuah surat yang diterbitkan oleh London Journal pada tahun 1846. Folklor berkaitan erat dengan Mitologi. Namun di blog ini kita akan menceritakan cerita rakyat suku karo.

Klik judul untuk melihat cerita selengkapnya

Cerita rakyat karo antara lain:

Asal Usul Masyarakat Karo
Putri Hijau
Asal Usul Nama Gunung Sibayak
Asal Mula Danau Lau Kawar
Sejarah Sibayak Lingga
Gertak Lau Biang
Kisah Misteri Gua Kemang (Gua umang)
Anak Kucing Mbiring
Menguak Misteri Begu Ganjang
Misteri Raja Gunung
Beru Ginting Sope Mbelin
Misteri Gunung Sibayak
Misteri Gunung Sibayak II
Pawang Ternalem
Si Beru Dayang (Asal Mula Padi)
Si Jinaka
Cincin Pinta Pinta
Perumah Begu(Hantu Disuruh Kerumah)
Turin - turin Ragum Menci
Yang lainya menyusul.

Cerita rakyat merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya.
Cerita rakyat adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history).

NB: Jika teman-teman punya cerita rakyat terutama cerita suku karo dan ingin di muat di sini boleh hubungi saya.

KIRAS BANGUN PAHLAWAN NASIONAL INDONESI

Kiras Bangun (Garamata)

Motto perjuangannya:
“Namo bisa jadi aras, Aras bisa jadi namo” Hari ini Bisa Saja Kita Kalah, Tapi Besok Kita Pasti Menang.
 
   Kiras Bangun adalah seorang pahlawan nasiaonal Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005.Kiras Bangun menggalang kekuatan lintas agama dan lintas suku di Sumatra Utara dan Aceh, untuk menentang penjajahan Belanda. Beliau merupakan tokoh dan sesepuh adat Karo kelahiran tahun 1852, di kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Dalam melakukan perjuangan dengan melawan penjajahan Belanda, beliau melakukan Kerjasama yang digalang dari lintas etnis dan agama yang menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung, yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo. Kiras Bangun alias Garamata lahir dari seorang ayah yang menguasai adat-istiadat Karo di daerahnya Batukarang. Ayahnya memiliki 3 orang istri. Kiras Bangun 5 bersaudara,1 orang perempuan dan 4 orang laki-laki.

  Pada masa mudanya Kiras Bangun di sekolahkan di Binjai dan menguasai bahasa Melayu serta aksara Karo. Sejak berusia muda, Kiras Bangun dikenal sebagai Tokoh yang bijak melakukan pembelaan, terhadap hak-hak rakyat yang ingin dirampas oleh penjajahan kolonial Belanda, yang menjajah bangsanya. Selama hidupnya, Kiras Bangun mempunyai 4 jabatan yaitu :

1) Sebagai Sesepuh dan Ketua Adat Karo, Urung Lima Senina.
2) Penghulu Lima Senina Batu Karang.
3) Juru damai perang antar desa.
4) Pemimpin Urung Tanah Karo.

Tahun 1901 Belanda membuka Markasnya di Kabanjahe, Kiras Bangun bersama pasukannya mengusirnya dengan paksa. Tahun 1902 Belanda datang kembali ke Kabanjahe, dengan pasukan yang lebih banyak. Kiras Bangun mengultimatum Belanda agar segera meninggalkan Tanah Karo, dalam kaitan itu, Kiras Bangun menyusun strategi peperangan. Karena kedudukan musuh di Kabanjahe, maka disusun benteng pertahanan terdepan, yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu (Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.

Ultimatum Garamata kepada pejabat Belanda Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe, untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan mendatangkan pasukan atau marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu Belanda dengan pengawalnya yang terdiri dari pribumi, yang sudah di rekrut Belanda untuk melawan bangsanya sendiri, sudah diperkuat lagi dari kekuatan sebelumnya.

Patroli-patroli Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil locok dan senapang mesiu yang sederhana dan yang terbatas tidak mendukung untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih mutakhir sedangkan di pihak Simbisa atau pasukan Urung mempunyai senjata yang kalah jauh dari perlengkapan Belanda.

Satu demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan Lingga Julu, meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas tertembak. Pertempuran pada tanggal 15 September 1904, mengakibatkan benteng pertahanan Kandibata yang dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang, dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.

   Walaupun pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan. Dijelaskan, bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.

Kampung Negeri, sebagai sebagai daerah penyingkiran pasukan Garamata, sehingga semua rencana diatur dari basis ini, baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun mengganggu patroli-patroli Belanda, yang secara rutin melewati Liren dan daerah sekitarnya. Garamata dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan motto:

“namo bisa jadi aras, aras bisa jadi namo” yang artinya dalam perjuangan ini, hari ini bisa saja kita kalah, akan tetapi bila perjuangan ini kita teruskan tanpa henti dan lelah, maka besok pasti kita akan menang dalam perjuangan yang suci untuk membela dan mempertahankan Tanah air, mata dan pasukannya jadi sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting istri Garamata menderita luka tembak, sembari Garamata dan pasukannya menduduki Singgamanik dan sekitarnya.

Tahun 1904 Kiras Bangun dan pasukannya mengadakan perang terbuka menghadapi Belanda di desa Lingga, Batu Karang, Negeri dan Liren, Tahun 1905 ke Aceh untuk bergabung dengan Pejuang Aceh melakukan gerilya dan sabotase pada saat Belanda membuka jalan Medan-Kotacane. Dalam melakukan perjuangannya,Kiras Bangun terkenal dengan sumpah perjuangannya dengan para pasukannya yang berbunyi ;

SUMPAH PERJUANGAN GARAMATA

Tangar ko nakan si nipan kami enda,
Tangar ko bengkau si nipan kami enda,
Tang m kami enda,
Kami ersumpah bekas arih – arih kami ersada ngelawan Belanda
Adi ia reh ku Tanah Karo njajah kami
Ras ipelawes sienggo ringan I kabanjahe si bagi
Mara – mata Belanda.
Ndigan pagi kami engkar ibas perbelawanen kami enda
Mate kami ibunuh nakan, ibunuh bengkau, ibunuh lau
Si ni inem kami enda janah keturunen kami
La nai banci selamat merjak Tanah Karo enda.

Arti Sumpah Perjuangan Garamata:

Nasi yang kami makan lah lauk yang kami makanlah air yang kami minum
Kami Bersumpah atas kata sepakat Bersumpah bersatu melawan Belanda Kalau mereka datang menjajah Tanah Karo. Diusir bersama mata mata mereka yang tinggal di Kaban Jahe
Kalau kami Ingkari sumpah iniMaka Matilah kami karena nasi, lauk dan air yang kami minumDan keturunan kami tidak akan selamat menginjak Tanah Karo.

  Pada kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.

Dalam perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur bersembunyi dalam satu rumah. Sementara itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari serangan Belanda. Pendudukan Belanda atas Batukarang dengan mengerahkan sebanyak 200 orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat perlawanan walau tidak secara frontal.

Betapapun usaha yang diupayakan Belanda, untuk menangkap tokoh-tokoh Urung terutama Garamata tidak berhasil, sehingga semua rencana Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda pemerintahan selalu terganggu dan tidak dapat dijalankan. Maka dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.

Mengingat banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan dan untuk menghindari rakyat menjasdi korban yang lebih banyak, maka penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel, diterima dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan, sehingga pada suatu saat, dapat bangkit kembali mengusir Belanda. Ternyata Belanda tidak mentaati tawaran sendiri, karena Garamata tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu tempat di perladangan Riung selama 4 tahun. Kiras yang juga dikenal dengan nama Garamata itu akhirnya dibuang ke Cipinang bersama kedua anaknya antara tahun 1919-1926. Kiras Bangun atau Garamata gugur pada tanggal 22 Oktober 1942.

   Menurut almarhum Mulia Tarigan mantan ketua umum Yayasan Garamata, semangat perjuangan Kiras Bangun patut menjadi teladan. Falsafah hidup Kiras Bangun mementingkan kehidupan bersama dibandingkan dirinya sendiri. Jika Amerika Serikat bisa bangkit dari masa krisis tahun 1930-an karena sosok Presiden Franklin Delano Rosevelt, maka sosok seperti Kiras Bangun ini bisa menjadi teladan agar bangsa ini juga bisa bangkit dari krisis. Pemberian gelar pahlawan nasional ini tidak seperti membalik telapak tangan. Perlu waktu 12 tahun untuk mendapatkannya. Kami berharap gelar ini tidak hanya sekadar penghormatan, tetapi juga agar kami sebagai masyarakat Karo semakin bisa meneladani sosok Kiras Bangun. Kiras Bangun juga memimpin gerakan bawah tanah di daerah tersebut. Ujar Mulia Tarigan dalam kata sambutannya.

Kiras Bangun atau yang oleh masyarakat Karo dikenal dengan sebutan Garamata (mata merah) merupakan tokoh adat Karo yang berjuang melawan penjajah Belanda pada tahun 1901-1905. Kiras Bangun memimpin lebih dari 3.000-an warga Karo yang menolak Tanah Karo dijadikan kawasan perkebunan oleh Belanda. Pasukannya terkenal dengan sebutan Pasukan Urung (kampung) karena dia mengorganisir beberapa kampung di Tanah Karo untuk mengadakan perlawanan terhadap Belanda. ”Dia mungkin sedikit dari sosok pahlawan yang kepemimpinannya ditunjuk langsung oleh rakyat di Tanah Karo.

Filosofi Kiras Bangun yang turun-temurun dikenal oleh masyarakat Karo adalah ajarannya tentang pendidikan. Kiras Bangun mengajarkan agar kami harus menjadi orang yang cerdas jika tidak ingin dijajah bangsa lain. Ajaran seperti ini masih terasa sangat cocok untuk jadi pegangan hidup. Apalagi bangsa Indonesia saat ini secara ekonomi terjajah oleh bangsa-bangsa yang lebih maju. Secara resmi Kiras Bangun ditetapkan menjadi pahlawan nasional setelah melalui penelitian dari 13 tim ahli, di antaranya pakar sejarah Anhar Gonggong dan Taufik Abdullah.

Kiras Bangun yang meninggal dunia tahun 1942, meninggalkan keturunan anak dan cucunya yang mengamalkan falsapahnya di bidang pendidikan, sehingga keturunannya banyak yang sukses dalam bidang pendidikan, politik dan birokrat, diantaranya, anaknya sendiri Mayor Purn Payung Bangun, mantan Komandan Barisan Harimau Liar (BHL) di masa perjuangan kemerdekaan RI, Dr Ingan Raja Bangun (Alm), Prof. Dr. Iman Bangun (Guru Besar IPB), Ir.Berontak Bangun (Dosen ISTP Medan), Drs Aksi Bangun (Mantan anggota DPRD Sumut (1999-2004) dan Drs Umar Bangun, Mantan Kakanwil Kehakiman SumutSegenap elemen masyarakat di Sumut dimanapun berada hendaknya secara aktif mensosialisasikan nilai nilai kepahlawanan Kiras Bangun atau Garamata serta berjuang untuk merealisasikan namanya menghias nama jalan utama atau Protokol di kota Medan serta mewujudkan Pembangunan Tugu Pahlawan Nasional Kiras Bangun atau Garamata di Kota Medan seperti halnya Tugu Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII yang telah berdiri dengan megah di Kota Medan.

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki
http://royfachrabyginting.blogspot.com
http://groups.yahoo.com/group/gbkp/message/680

15 Maret 2012

Sejarah Suku Karo

KARO adalah Salah satu suku di indonesia. Karo sering disebut Merga Silima,Rakut Titelu,Tutur Siwaluh,Perkaden-kaden Sepuluh Dua Tambah Sada.
 Karo ini dijadikan salah satu nama Kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Cakap Karo (Bahasa Karo).
 Karo atau suku Karo berasal dari Kerajaan Aru-Haro-Karo yang tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan-kerajaan yang ada di indonesia.suku karo memiliki banyak sejarahnya yang bisa kita temukan dari Sejarah Kerajaan sampai Sejarah Kemerdekan. 

 Sejarah karo antara lain:

Sejarah Asal Usul Masyarakat Karo
Sejarah Sejarah Kerajan Aru-Haru-Karo
Sejarah Masa Penjajahan Belanda
Sejarah Masa Penjajahan Jepang
Sejarah TKR Di Tanah Karo
Sejarah Revolusi Sosial
Sejarah Agrensi I Militer Belanda
Sejarah Agrensi II Militer Belanda
Sejarah Perundingan Renville
Sejarah Sibayak Lingga
Sejarah Pahlawan Kiras Bangun
Sejarah Desa Seberaya
Sejarah Tembut-tembut seberaya
Sejarah Marga - marga Karo

Buat pembaca semoga bisa menambah pengetahuan tentang sejarah-sejarah yang ada di indonesia raya tercinta ini.

 MEJUAH-JUAH KITA KERINA...

12 Maret 2012

Kerajaan Aru-Haru-Karo Dari Tahun 1258 – 1976

   Kerajaan   Aru-Haru-Karo mulai menjadi kerajaan besar di sumatra namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatra Utara yang rajanya bernama Pa lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darwan Prinst, SH :2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit,Sriwijaya,Johor,Malaka,dan Aceh.Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366

Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara. Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja (Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya
Sejarah Kerajaan Haru pulalah yang memadukan masyarakat Karo, Melayu, dan Aceh pada sebuah pertalian.

Tahun 1258
Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka 1336 M. Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi:
Terjemahannya,:

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".

Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

Tahun 1282
“Sari Sejarah Serdang” (edisi pertama, 1971) mencatat bahwa nama Aru muncul pertama kali pada 1282 dalam catatan Tionghoa pada masa kepemimpinan Kublai Khan.Demikian pula dalam buku ”Sejarah Melayu” yang banyak menyebut tentang kerajaan ARU. Berdasarkan literatur tersebut, Lukman Sinar dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa pusat kerajaan ARU adalah Deli Tua dan telah menganut Islam.

Tahun 1285
Menurut catatan MOP dalam bukunya ”Tuanku Rao” sepenakluk Aceh terhadap ”Nagur”, Mara Silu dan laskar yang tersisa menghancurkan bandar Pase (Aceh) pada tahun 1285 dan masuk Islam serta berganti nama menjadi Malikul Saleh, Sultan Samudra Pase yang pertama. Sejak saat itu, kerajaan Nagur tidak lagi ditemukan dalam tulisan-tulisan selanjutnya.

Tahun 1282 dan 1290
Kerajaan Aru telah terwujud pada abad ke-13, sebagaimana beberapa utusannya telah sampai ke Tiongkok, yaitu pertama di tahun 1282 dan 1290 pada zaman pemerintahan Kubilai Khan (T.L. Sinar, 1976 dan McKinnon dalam Kompas, 24 April 2008). Ketika itu telah muncul Kerajaan Singosari di Jawa yang berusaha mendominasi wilayah perdagangan di sekitar Selat Malaka (Asia Tenggara) mungkin di sebut kerjaan itu adalah majapahit.
1290 M. : “Hikayat Raja-raja Pasai” menulis Haru diIslamkan oleh Nakhoda Ismail (Malabar) dan Fakir Muhammad (Madinah) sebelum mereka ke Samudera-Pasai. (Sultan Malikussaleh wafat 1292 M).

Tahun 1270- 1293-1297
Keduanya merupakan pendakwah dari Madinah dan Malabar, yang juga mengislamkan Merah Silu, Raja Samudera Pasai pada pertengahan abad ke-13. Oleh karena itu, dapat dipastikan agama Islam telah sampai ke Aru paling tidak sejak abad ke-13. Kesimpulan itu diperoleh berdasarkan data arkeologis berupa batu nisan Sultan Malikus Saleh di Geudong, Lhok Seumawe yang bertarikh 1270-1297, dan kunjungan Marcopolo ke Samudera Pasai tahun 1293. Kedua sumber itu sudah valid dan kredibel.

Tahun 1292
Kerajaan Aru juga pernah ditaklukkan oleh Kertanegara dalam ekpedisi Pamalayu (1292) dan ditulis dalam pararaton "Aru yang Bermusuhan". Tetapi setelah itu Aru pulih kembali dan menjadi makmur sebagai mana dicatat oleh bangsa Persia, Fadiullah bin Abdul Kadir Rashiduddin dalam bukunya "Jamiul Tawarikh" (1310 M), jelasnya.

Tahun 1292
Singosari berusaha menghempang kuasa Kaisar Kubilai Khan dengan melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1292 untuk membangun aliansi melawan Kaisar China. Negeri-negeri Melayu dipaksa tunduk dibawah kuasa Singosari, seperti Melayu (Jambi) dan  Aru/Haru. Sementara dengan Champa, Singosari berhasil membangun aliansi melalui perkawinan politik. Pada abad ke-14, sebagaimana disebutkan dalam Negara Kertagama karangan Prapanca bahwa Harw (Aru) kemudian menjadi daerah vasal (bawahan) Kerajaan Majapahit, termasuk juga Rokan, Kampar, Siak, Tamiang, Perlak, Pasai, Kandis dan Madahaling.

Tahun 13__
Akan tetapi, berbeda dengan Biak Ersada Ginting, Perret mengatakan bahwa, sembari merujuk pada penulis Perancis F. Mendes Pinto dalam buku “chez Cotinet et Roger” (1645), masyarakat Aru dan rajanya adalah muslim. Dan dalam kutipan dari “Hikayat Melayu” dan “Hikayat Raja-raja Pasai”, Kerajaan Aru atau Haru disebut sudah menganut Islam pada pertengahan abad 13; lebih dahulu ketimbang Aceh dan Malaka.

Tahun 1310
1310 M.: Fadiullah bin Abd. Kadir Rasyiduddin dalam “Jamiul Tawarikh”, Haru pulih perdagangannya kembali;

Tahun 13__-14__
Dari penjelasan diatas diketahui bahwa berdasarkan periodeisasinya maka kerajaan ARU berdiri pada abad ke-13 yakni pasca runtuhnya kerajaan NAGUR pada tahun 1285.
Pusat kerajaan ARU yang pertama ini adalah Kota Rentang dan telah terpengaruh Islam yang sesuai dengan bukti-bukti arkeologis yakni temuan nisan dengan ornamentasi Jawi yang percis sama dengan temuan di Aceh. Demikian pula temuan berupa stonewares dan earthenwares ataupun mata uang yang berasal dari abad 13-14 yang banyak ditemukan dari Kota Rentang. Bukti-bukti ini telah menguatkan dugaan bahwa lokasi ARU berada di Kota Rentang sebelum diserang oleh laskar Aceh.

Tahun 13__-15__
Namun, seperti yang telah diingatkan oleh Prof. Wolters bahwa data-data yang bersumber dari tulisan China dari abad ke 13-15 bukan nyata dari penelitian namun sebatas pengamatan pintas. Oleh sebab itu, pembuktian terhadap tulisan itu harus diarahkan kedalam tanah (ekskavasi) yakni untuk merekontruksi jejak-jejak peradaban (H)ARU di lokasi dimaksud.

Tahun 13__-16__
Dengan bukti-bukti itu secara tertulis, jelas Kerajaan Aru memang pernah wujud di Pantai Timur Sumatera paling tidak sejak abad ke 13 hingga awal abad ke-16

Tahun 1365
1365 M.: “Negarakertagama” mengenai penjajahan Majapahit juga menaklukkan “Haru” (lihat benteng Lalang Kota Jawa dipinggir Sei. Deli (John Anderson1823).

Tahun 1365
Musibah kembali menimpa Kerajaan Aru ketika Majapahit menaklukkannya pada tahun 1365 M. Seperti tertera dalam syair Negarakertagama strope 13:1, pada masa itu Majapahit juga menaklukkan Panai (Pane) dan Kompai (Kampe) di Teluk Haru

Tahun 1368-1643
Sementara menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325 disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari.

Tahun 1405-1407
Sedangkan tanda-tanda ARU Deli Tua dinyatakan islam hampir tidak diketemukan selain sebuah meriam buatan Portugis bertuliskan aksara Arab dan Karo. Lagi pula, berdasarkan laporan kunjungan admiral Cheng Ho yang mengunjungi Pasai pada tahun 1405-1407 menyebut bahwa nama raja ARU pada saat itu dituliskan So-Lo-Tan Hut-Sing (Sultan Husin) dan membayar upeti ke Tiongkok. Kemudian, dalam ”Sejarah Melayu” juga diceritakan suatu keadaan bahwa ARU telah berdiri sekurang-kurangnya telah berusia 100 tahun sebelum penyerbuan Iskandar Muda (1607-1636) pada tahun 1612 dan 1619. Dengan demikian, kuat dugaan bahwa centrum ARU yang telah terpengaruh Islam yang dimaksud pada laporan-laporan penulis Cina dan ”Sejarah Melayu” tersebut adalah Kota Rentang.

Tahun 1412
1412 M.: Armada China pp. Laksemana Zeng He (Cheng Ho) membawa Raja Haru Sultan Husin menghadap Kaisar Cina Yung Lo; Selain Kota Cona Haru mempunyai juga Bandar di Medina (=Medan) menurut Laksemana Turki Ali Celebi 1554 M.

Tahun 14__ - 15__
Sebagai dampak serbuan yang terus menerus maka centrum ARU pindah ke Deli Tua yakni pada akhir abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar (1537-1568) mulai berkuasa di Aceh.

Tahun 14__ -15__
Tentang hal ini, McKinnon (2008) menulis:”Aru was attacked by Aceh and the ruler killed by subterfuge and treachery. His wife fled into the surrounding forest on the back of an elephant and eventually made her way to Johor, where she married the ruling Sultan who helped her oust the Acehnese and regain her kingdom”. Pada akhirnya, sebagai dampak serangan Aceh yang terus menerus ke Kota Rentang, maka ARU pindah ke Deli Tua yakni pada pertengahan abad ke-14, dan pada permulaan abad ke-15 Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar mulai berkuasa di Aceh. McKinnon (2008) menulis “a sixteenth century account by the Portuguese writer Pinto states that Aru was conquered by the Acehnese in 1539 and recounts how the Queen of Aru made her way to Johor and the events that transpired thereafter”.

Tahun 1411-1431
Sama juga dengan mutu keramik dari awal abad ke-13 yang telah ditemui dilokasi-lokasi yang sama, yaitu dari misi pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zhenghe) dan kunjungannya ke ARU pada tahun 1411-1431” Pendudukan Aceh di Kota Rentang, telah mengubah populasinya dengan warna Islam. Batu nisan di impor dari Aceh dan menjadi pertanda bagi orang meninggal dunia dan umumnya mereka itu adalah kaum bangsawan Kota Rentang. Dan yang terpenting adalah dibentuk dan didirikannya sebuah kerajaan dengan corak Islam yang dikemudian hari dikenal dengan ARU (abad ke-13)..

Tahun 1413
menurut Perret, nama Aru kembali muncul pada 1413 dalam catatan Tionghoa dengan nama “A-lu” sebagai penghasil kemenyan

Tahun 1416
Menurut Ma Huan dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”.

Tahun 1416
Raja Aru dan penduduknya telah memeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan dalam Yingyai Shenglan (1416). Dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan dalam Sejarah Melayu, kerajaan tersebut diislamkan oleh Nakhoda Ismail dan Fakir Muhammad.

Tahun 1419
Dalam catatan Dinasti Ming, disebutkan, pada 1419 anak Raja Aru bernama Tuan A-lasa mengirim utusan ke negeri China untuk membawa upeti.Nama tokoh inipun sukar mencari pembenarannya karena tidak ada sumber bandingannya dan apakah padanannya dalam bahasa Melayu atau Indonesia. Namun demikian, nama Sulutang Hutsin yang disebutkan dalam catatan Dinasti Ming dapat dianggap benar karena dapat diperbandingkan dengan Sejarah Melayu.
Tahun 1419-1421, 1423, dan 1431
Memasuki abad ke-15 Haru tampaknya mulai muncul menjadi kerajaan terbesar di Sumatera dan ingin menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Melaka. Munculnya utusan-utusan dari Kerajaan Aru pada 1419, 1421, 1423, dan 1431 di istana Kaisar China dan kunjungan Laksamana Cheng Ho yang muslim itu membuktikan pernyataan itu. Aru menjadi bandar perdagangan yang penting di mata kaisar China.

Tahun 1426
Dalam Hsingcha Shenglan (1426) disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (wilayah pantai Negeri Perak, Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik.

Tahun 1431
Menurut Sejarah Melayu (cerita ke-13), kebesaran Kerajaan Haru sebanding dengan Melaka dan Pasai, sehingga masing-masing menyebut dirinya “adinda”. Semua utusan dari Aru yang datang ke Melaka harus disambut dengan upacara kebesaran kerajaan. Utusan Aru yang datang ke Istana China terakhir tahun 1431. Setelah itu tidak ada lagi utusan Raja Aru yang dikirim untuk membawa persembahan kepada Kaisar China. Hal ini dapat dipahami karena Aru pada pertengahan abad ke-15 sudah ditundukkan Melaka dibawah Sultan Mansyur Shah melaui perkawinan politik

Tahun 1431
Pada 1431 Cheng Ho kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, namun saat itu Haru tidak lagi membayar upeti pada Cina. Pada masa ini Haru menjadi saingan Kesultanan Malaka  sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Konflik kedua kerajaan ini dideskripsikan baik oleh Tome Pires dalam Suma Oriental maupun dalam Sejarah Melayu.

Tahun 1436
Pada 1436, sumber Tionghoa lain kembali menyebutkan bahwa “A-lu”  memiliki beras, kamper, rempah-rempah, dan pedagang-pedagang Tionghoa sudah berdagang emas, perak, dan benda-benda dari besi, keramik, dan tembaga di Tan-Chiang (Tamiang).

Tahun 1496-1528
Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1496-1528. Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Suku Karo.
Tahun 1456-1653
Bahkan, Perret menyebutkan bahwa dalam hal tempat perdagangan, Aru merupakan negara yang setara dengan Kerajaan Melaka semasa dipimpin oleh Sultan Mansyur Shah yang berkuasa dari 1456 sampai 1477.

Tahun 1456-1477
Bahkan, Perret menyebutkan bahwa dalam hal tempat perdagangan, Aru merupakan negara yang setara dengan Kerajaan Melaka semasa dipimpin oleh Sultan Mansyur Shah yang berkuasa dari 1456 sampai 1477. Di awal abad 15, Aru dan China juga disebut pernah saling melakukan kunjungan. Posisinya yang strategis membuat Kerajaan Aru menjadi pentas politik pun perdagangan bagi negara-negara lain.

Tahun1477-1488
Dalam Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang (1612) disebutkan bahwa Kerajaan Aru pada periode 1477-1488 dipimpin oleh Maharaja Diraja, putra Sultan Sujak “…yang turun daripada Batu Hilir di kota Hulu, Batu Hulu di kota Hilir”. Aru menyerang Pasai karena Raja Pasai menghina utusan Raja Aru yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Kerajaan Pasai.

Tahun 1488-1528
Sulutang Hutsin adalah sebutan orang China untuk mengucapkan nama Sultan Husin. Nama Sultan Husin juga telah disebut-sebut dalam Sejarah Melayu, yaitu sebagai penguasa Aru sekaligus menantu Sultan Mahmud Shah (Raja Melaka) yang terakhir 1488-1528

Tahun 1492-1537
Disebutkan bahwa (H)Aru berada di Balur Lembah Gunung Seulawah di Aceh Besar sekarang yang pada awalnya juga telah banyak dihuni oleh orang Karo, dan telah ada sebelum kesultanan Aceh pertama yakni Ali Mukhayat Syah pada tahun 1492-1537.

15__
Di awal abad 15, Aru dan China juga disebut pernah saling melakukan kunjungan. Posisinya yang strategis membuat Kerajaan Aru menjadi pentas politik pun perdagangan bagi negara-negara lain.

1500-1580
Meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam buku “Subuh Kelabu di Bukit Kubu” (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang baru itu tak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak, Deli Serdang kini (Sumatera Utara), dan mendirikan kerajaan baru dengan rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang kemudian melahirkan Kerajaan Langkat.

TAHUN 1511
Lebih lanjut disebut bahwa kerajaan (H)Aru Balur ditaklukkan oleh Sultan Aceh pada tahun 1511 dalam rencana unifikasi Aceh hingga ke Melaka dan salah seorang rajanya clan Karo dan keturunan Hindu Tamil menjadi Islam bersama seluruh rakyatnya dan bertugas sebagai Panglima Sultan Aceh di wilayah Batak Karo.

1511- 1540.
Pada abad ke-16 Haru merupakan salah satu kekuatan penting di Selat Malaka, selain Pasai, Portugal yang pada 1511 menguasai Malaka, serta bekas Kesultanan Malaka yang memindahkan ibukotanya ke Bintan.

1512-1515
Menurut Pinto, penguasa Portugis di Malaka tahun 1512-1515 bahwa ibukota (H)ARU berada di sungai ‘Panecitan’ yang dapat dilalui setelah lima hari pelayaran dari Malaka. Pinto juga mencatat bahwa raja (H)ARU sedang sibuk mempersiapkan kubu-kubu dan benteng-benteng dan letak istananya kira-kira satu kilometer kedalam benteng. (H)ARU mempunyai sebuah meriam besar, yang dibeli dari seorang pelarian Portugis.
Temuan lain adalah banyaknya keramik ataupun tembikar yang menunjuk tarik yang hampir sama dengan temuan di Kota Rentang, juga temuan mata uang (koin) Dirham, mata uang emas dari Aceh yang banyak ditemukan oleh masyarakat sekaligus menjadi bukti sejarah bahwa pasukan Aceh pernah menaklukkan kawasan ini dengan menembakkan meriam ber-peluru emas sebagaimana yang dikisahkan dalam riwayat Putri Hijau (green princess).

Tahun 1521
1521 M. : “Sejarah Melayu” (Variant Version) menceritakan ketika Sultan Mahmud Melaka terusir Portugis 1511 M. dan menetap di Bintan, Sultan Husin dari Haru berkunjung kesana dan kawin dengan Tun Puteh puteri Sultan Mahmud dan ribuan orang Melayu Johor/Riau turut mengantar tinggal di HARU

Tahun 1526
Haru menjalin hubungan baik dengan Portugal, dan dengan bantuan mereka Haru menyerbu Pasai pada 1526 dan membantai ribuan penduduknya. Hubungan Haru dengan Bintan lebih baik daripada sebelumnya, dan Sultan Mahmud Syah menikahkan putrinya dengan raja Haru, Sultan Husain. Setelah Portugal mengusir Sultan Mahmud Syah dari Bintan pada 1526 Haru menjadi salah satu negara terkuat di Selat Malaka.

Tahun 1524 -1539
Sultan Haru (Sultan Husin) dinikahkan dengan putri sultan Mahmud Shah pada tahun 1520 M. Banyak orang dari Johor dan Bintan mengiringi putri Sultan Melaka itu ke Aru. Memasuki abad ke16 M, Kerajaan Aru menjadi medan pertempuran antara Portugis (penguasa Melaka) dan Aceh. Pasukan Aceh yang pada tahun 1524 berhasil mengusir Portugis dari Pidi dan Pasai kemudian menguber sisa-sisa pasukan Portugis yang lari ke Aru. Kerajaan Aru diserang Aceh sebanyak dua kali yakni pada bulan Januari dan November 1539.

Tahun 1539 M
1539 M. : Penyerangan Sultan Aceh Alaidin Riayatsjah-I bilad Mahkota Alam (alias Al Qahhar) ke Haru, diceritakan oleh orang Portugis Ferdinand Mendes Pinto dan juga “Hikayat Puteri Hijo” dari Siberaya (lihat Middendorp).
 Benteng di kepung 6 hari (Pinto; HPH)
Meriam besar yang bertahan (Pinto; HPH adiknya Meriam Puntung) Bantuan Portugis senjata (Pinto; HPH bendera Biru) Aceh menyogok uang emas (Pinto; HPH)
Sultan Haru Ali Boncar kepalanya dibawa ke Aceh (Pinto)
Meriam puntung moncongnya di Sukanalu, bila bersatu kembali pertanda Deli makmur (HPH); Meriam Puntung di halaman Istana Maimoon.
Puteri Hijau = Permaisuri Anche Sini (Anggi Sini?) yang cantik menurut Pinto berlayar ke Melaka minta bantuan Gubernur Portugis (Menurut HPH ia naik Naga Ular Simangombus (Perahu berkepala Naga?);
Aceh mempergunakan bantuan perajurit asing (Gujarat, Malabar, Hadramaut, Turki bahkan orang Belanda anak buah De Houtman yang ditawan), itu menurut Pinto.

 Tahun 1539
Juga dalam catatan Mendes Pinto (1539), dinyatakan adanya masyarakat 'Aaru' di pesisir Timur Laut Sumatera dan mengunjungi rajanya yang muslim, sekitar dua puluh tahun sebelumnya, Duarte Barbosa sudah mencatat tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kanibal penganut paganisme.  Namun tidak ditemukan pernyataan kanibalisme dalam sumber-sumber Tionghoa zaman itu.

Tahun 1539
Namun ambisi Haru dihempang oleh munculnya Aceh yang mulai menanjak.  Catatan Portugal menyebutkan dua serangan Aceh pada 1539, dan sekitar masa itu raja Haru terbunuh oleh pasukan Aceh. Istrinya, ratu Haru, kemudian meminta bantuan baik pada Portugal di Malaka maupun pada Johor (yang merupakan penerus Kesultanan Malaka dan Bintan). Armada Johor menghancurkan armada Aceh di Haru pada 1540.

Tahun 1540
1540 M. : Menurut Pinto : Permaisuri Haru minta bantuan Sultan Aluddin Riayatsyah-II (Imperium Riau-Johor) di Bintan dan lalu kawin dengannya;
- Armada Johor pp. Laksemana Hang Nadim dengan 400 kapal perang mendarat di HARU dan menghancurkan tentera pendudukan Aceh disana.
- Haru berada sekarang dibawah kekuasaan Imperium Melayu Riau-Johor.
- Sultan Johor kirim surat kepada Sultan Aceh dari markasnya di “Siberaya Quendu” mengingatkan Haru sudah ditangannya (menurut Pinto.)

Tahun1564
Setelah diserang oleh laskar Aceh pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar yang berkuasa tahun 1537-1571, (bukan Iskandar Muda) pada tahun 1564, nama ARU tidak pernah diberitakan lagi. Serangan Aceh yang kedua ini adalah serangan yang terhebat dimana seluruh kerajaan ARU habis dibakar dan yang tersisa hanyalah Benteng yang masih eksis hingga sekarang. Hal ini senada dengan pendapat Mohammad Said (1980) dimana peperangan yang terjadi pada masa sultan Iskandar Muda (1612-1619) tidaklah sehebat pertempuran pada masa Sultan Al-Kahar. Lagi pula, pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, tidak terdapat suatu tulisan bahwa Melayu di pimpin oleh Sultan Perempuan

Tahun 1564
Aceh kembali menaklukkan Haru pada 1564. Sekali lagi Haru berkat bantuan Johor berhasil mendapatkan kemerdekaannya, seperti yang dicatat oleh Hikayat Aceh dan sumber-sumber Eropa. Namun pada abad akhir ke-16 kerajaan ini hanyalah menjadi bidak dalam perebutan pengaruh antara Aceh dan Johor.

Tahun 1588
1588 M. : Sultan Aceh Al Qahhar berhasil merebut Haru kembali dari tangan Johor.
- Sultan Aceh mengangkat cucunya SULTAN ABDULLAH menjadi Raja Haru (ia kemudian tewas ketika Aceh menyerang Portugis di Melaka);
- Haru dipecah dua bagian yaitu : Guru (dari Sei.Belawan s/d batas Temiang) dan HARU (Sei. Deli ke Sei.Rokan).

Tahun 1580 takat 1612
Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari 1580 takat 1612.

Tahun 1599-1603
1599-1603 M. : Haru melepaskan diri dari Aceh (Laporan dari Laksemana Perancis Beauleu dan Van Warwyk Belanda). Sultan Aceh Alaidin Riayatsyah-II (Saidi Mukammil) menyerang Haru yang dipertahankan oleh Panglima Guri Merah Miru. Merah Miru telah menabalkan Sultan Imperium Melayu Riau-Johor bernama Sultan Alauddin Riayatsyah-III menjadi Sultan Haru/Guri. (Hikayat Aceh).

Dikalangan pasukan Aceh tewas Raja Alamsjah (menantu Sultan Saidi Mukammil) dan dia adalah ayah dari Sultan Iskandar Muda.
Raja Mansyursyah dimakamkan di “Kandang Medan” (Makam Keramat di Sukamulia Medan ?).
Raja Imperium Melayu Riau-Johor, Sultan Aluddin Riayatsyah-III (alias RAJA RADEN) lari dari markasnya di “Melaka Muda” (Gedong Johor Medan?) menuju pelabuhan Kuala Tanjung naik lancang kuning “Seri Paduka” kembali ke Johor Lama. Banyak wanita dan pengiringnya serta harta benda yang tertinggal dan ditawan oleh Aceh (lihat kuburan tua dan benteng dipertemuan Sei.Deli dan Sei. Babura). Dalam Pasar Malam Agustus 1908 di Medan oleh Sultan Deli dipamerkan intan berlian yang dapat di gali di Gedung Johor Medan.

Tahun 16__ Awal
Kerajaan Aru juga dikatakan kerap berkonflik dengan Kerajaan Pasai (Aceh). Pada awal abad 16, Aru menyerbu Pasai dan membantai banyak sekali orang di sana. Namun, serangan itu dibalas oleh Pasai. Melalui serangan berkali-kali, Aceh berhasil menjebol pertahanan Kerajaan Aru hingga rontok.


Para petinggi Kerajaan Aru lalu melarikan diri ke Deli Tua dan memindahkan pusat kekuasaan baru di sana. Akan tetapi, meski sudah berpindah tempat, Kerajaan Aceh masih terus merangsek Kerajaan Aru II itu. Motif penyerangan Kerajaan Aceh kali ini diketahui karena keinginan rajanya untuk menikahi Ratu Aru II, yang dikenal sebagai Putri Hijau.

Dari beberapa sumber, tertulis bahwa Raja Kerajaan Aceh mengirimkan surat yang berisi tiga hal kepada Putri Hijau. Pertama, meminta Putri Hijau bersedia menjadi permaisuri Raja Aceh. Kedua, Aceh adalah Serambi Mekkah dan Aru adalah Serambi Aceh. Karena itu Aru diminta tunduk kepada Aceh. Dan ketiga, Aceh akan menyebarkan agama Islam di Aru.

Dalam catatan Karo dari Biak Ersada Ginting yang banyak dikutip oleh berbagai sumber, Putri Hijau, yang saat itu bertuhankan Dibata Si Mila Jadi – yang bermakna Tuhan yang maha pertama, paling akhir, dan hanya Dia yang tetap hidup – menolak mentah-mentah lamaran Raja Aceh.

Tahun 1607
Kemerdekaan Haru baru benar-benar berakhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dari Aceh, yang naik tahta pada 1607. Dalam surat Iskandar Muda kepada Best bertanggal tahun 1613 dikatakan, bahwa Raja Aru telah ditangkap; 70 ekor gajah dan sejumlah besar persenjataan yang diangkut melalui laut untuk melakukan peperangan-peperangan di Aru. Dalam masa ini sebutan Haru atau Aru juga digantikan dengan nama Deli.

Tahun 1612
1612 M. : Haru berganti nama dengan GURI dan berganti nama pula dengan Deli.
Kerajaan Deli berpusat di Deli Tua ini adalah Rajanya Suku Karo merga Karo Sekali dan rakyatnya Suku HARU (lihat keterangan Kejeruan Senembah 1879 kepada Residen Belanda tentang asalnya Si Mblang Pinggol dan Sawid Deli. Kerajaan Deli Suku Karo di Deli Tua itu terus menerus menentang dan berontak terhadap penjajahan ACEH.

Tahun 1613-1642
1613-1642 M. : Sultan Iskandar Muda Aceh menugaskan panglimanya Tuanku Gocah Pahlawan menindas pemberontakkan Deli Tua itu. Dia akhirnya berhasil mengikat kerjasama dengan Raja Urung Sunggal, Raja Urung XII Kuta Hamparan Perak; Raja Urung Sukapiring dan Raja Urung Senembah sehingga dia lalu diangkat oleh Sultan Iskandar Muda Aceh sebagai Wakil Sultan Aceh di Deli.
Makam Tuanku Gocah Pahlawan ada di Batu Jergok (Deli-Tua).
Dimanakah Pusat Kerajaan Haru?

“Negarakertagama” (1365 M) = Lalang Kota Jawa dimana pernah tinggal 5000 pasukan Jawa dipinggir Sei. Deli (lihat laporan JOHN ANDERSON 1823);
Peta Cina “Wu-pei-Shih” (1433 M) menurut Giles 3° 47’ Lintang Utara dan 98° 41’ Lintang Timur terletak didepan Kuala Deli, yaitu diseberang Pulau Sembilan (Perak).
Sumber Portugis (F. M. Pinto) pusat Haru di sungai “Paneticao” (Sei. Petani/Sei. Deli);
“Hikayat Puteri Hijo” di Siberaya (lihat Middendorp) sama orangnya dengan Permaisuri Haru ANCHE SINI (Anggi Sini?) menurut Pinto.
Haru punya MERIAM BESAR di beli dari Pasai (Pinto) = Meriam Puntung adik Puteri Hijau (HPH)
Ada sogokan uang emas oleh pasukan Aceh sehingga benteng DeliTua kosong (Pinto = HPH).
Ada bantuan senjata Portugis (Pinto) = Tentera bendera Biru” (HPH).
Puteri Hijau selamat dilarikan adiknya Ular Simangombus via Sei. Deli terus ke Selat Melaka tinggal di bawah laut dekat Pulau Berhala (HPH). Menurut Pinto Permaisuri Haru berlayar naik perahu (berkepala Naga?) ke Melaka minta bantuan Portugis tetapi tidak berhasil, lalu pergi ke Bintan.
Ada ditemukan oleh Kontelir Belanda di Deli di sungai Deli dekat benteng Deli Tua sebuah meriam lela yang ada tulisan “Sanat…….03 Balon Haru”(Jika 1103 H = 1539 M. masa penyerangan Sultan Aceh Al Qahhar ke Haru. Meriam lela itu kini ada di Museum Pusat Jakarta.
Ditemukan banyak mata uang emas Aceh di benteng Puteri Hijau.
Peta-peta kuno asing : Langenes 1598; Polepon 1622; Itinerario 1598 dan lain-lain peta Portugis dan Perancis menunjuk Gori (Guri) = DELI.
Ulama Aceh Ar Raniri dalam “Bustanussalatin”(1640 M) menyatakan bahwa GURI itu dahulu bernama HARU.
Markas Sultan Imperium Melayu Riau-Johor Sultan Alauddin Riayatsyah-II di Haru (1540 M) ialah di “Siberaya Qendu”.


Tahun 1607 – 1636

MIGRASI

     Menurut versi karo, pada masa- masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok – kelompok . Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah  mayoritas beragama Islam. Kemudian agama  Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar- besaran  dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya (TAHURA)di daerah pedalaman belum dihuni  oleh manusia
Bahasa “kita” ialah cakap melawi — , yang kemudian  berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa  terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.

   Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan  belantara itu(TAHURA), sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan  beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.
Diketahui  dalam hikayat bahwa  pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah  pegunungan  dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan  ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.
Selanjutnya perjalanan yang  sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah”  yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”
PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS  DESA SI WALUH  NARI

   “Tanah Karo Si Malem”  artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya.
Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari  : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.

“Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama  tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan  penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan  terlihat  datang dari pesisir, terucaplah  kata- kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare,  Karo , menjadi … KARO, yang artinya  kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang.
Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi  untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK  AROE = KARO  Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.

  Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin-angin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang  Merga ,seperti Merga Ginting  dan Merga Tarigan  bersasal dari YUna (Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan  dsb).

Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.

   Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.
Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke hutan rimba raya(TAHURA) tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU ” yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam cerita  bahwa rombongan KARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju  dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga – Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai  “anak beru”.

Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara  Karo – Dairi disebutkan oleh  orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiapa orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga   tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi  orang yang “tercela ahlaknya ” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu  kampung atau “kalak Maya- Maya” terutama di Karo Jahe ” dan lain- lain .

   Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra – putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere  Karo.

Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya ” yaitu (Barat) bagi keturunan Karo-  Karo , Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan  “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.
Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan  nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan  kawin  mawin sesmanya, sebab indetitasnyaq akan sama buat selama- lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”,yaitu “nama khusus ” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula ,namun harus tunduk kepada pokok merga ,Merga Silima.

   Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang  mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia  lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.

Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan  “suku”  atau  “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam  yang disebut “Sira”
Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang ” yang kini daerah- daerah tersebut ialah  Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.

   Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan , dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen – Tanah Karo ” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan  “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan  perlanja Sira  dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di  bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng  Merga Silima  (nama Bukit Barisan dibagian datyaran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.
Untuk nmengenal kawan dipailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara  tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima”  yang dilanjutkan dengan. Taneh Pengolihen yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai  jawabnya dianggap  “musuh”, demikian sekelumit ceritanya  maka nama  pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Sinabung- Sibayak dinamakan orang  Karo deleng Merga silima.

TEMUAN-TEMUAN DARI KERAJAN ARU/HARU

Tahun 1823
Tentang hal ini, Anderson (1823) telah mengingatkan pentingnya jalur-jalur Sungai besar dan bermuara langsung ke Belawan. Lagipula, temuan bongkahan perahu yang ditemukan di kedua lokasi (Kota Rentang dan Kota Cina) menjadi bukti nyata bahwa kedua area ini menjadi bandar niaga yang padat dan sibuk. Hanya saja proses sedimentasi yang berlangsung ratusan tahun ini telah mengakibatkan kedua daerah ini seakan menjauh dari laut.

Tahun 1866-1867
Bukti-bukti peninggalan ARU Deli Tua adalah seperti benteng pertahanan (kombinasi alam dan bentukan manusia) yang masih bisa ditemukan hingga saat ini. Catatan resmi tentang benteng ini dapat diperoleh dari catatan P.J. Vet dalam bukunya Het Lanschap Deli op Sumatra (1866-1867) maupun Anderson pada tahun 1823 dimana digambarkan bahwa di Deli Tua terdapat benteng tua berbatu yang tingginya mencapai 30 kaki dan sesuai untuk pertahanan.

Tahun 1868
Pendapat yang mengemukakan bahwa ARU Deli Tua adalah Islam didasarkan pada sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada tahun 1868 di Deli Tua (Lukman Sinar, 1991). Akan tetapi di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis. Hal ini senada dengan tulisan Pinto bahwa ARU memiliki sebuah meriam yang besar. Meriam inilah yang kemudian di sebut dalam kisah Putri Hijau ditembakkan secara terus menerus hingga terbagi dua.

Tahun 1907
Temuan lainnya adalah mata uang Aceh yang terbuat dari emas, dimana masyarakat disekitar benteng masih kerap menemukanya. Temuan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh pernah menyerang ARU Deli Tua dengan menyogok pengawal kerajaan dengan mata uang emas. Selanjutnya, menurut Lukman Sinar (1991) di Deli Tua pada tahun 1907 dijumpai guci yang berisi mata uang Aceh dan kini tersimpan di Museum Raffles Singapura. Temuan lainnya adalah berupa keramik dan tembikar yang pada umumnya percis sama dengan temuan di Kota Rentang. Temuan keramik dan tembikar ini adalah barang bawaan dari Kota Rentang pada saat masyarakatnya mencari perlindungan dari serangan Aceh.

Tahun 1970
Bukti bahwa peristiwa penyebaran uang logam tersebut terjadi bisa kita dapatkan dari ceritera para penduduk di sini. Nambun mengatakan sudah pernah menemukan lima keping uang logam emas yang dipercaya pernah digunakan oleh pasukan Kerajaan Aceh tersebut. Uang-uang emas itu ia temukan di sekitar pekarangan rumahnya pada sekitar tahun 1970.
“Sudah saya jual. Waktu itu, sekitar 10 tahun lalu, satunya masih laku Rp 4.000. Sekarang saya tidak menyimpan satu pun. Di sekitar sini juga pernah ditemukan patung naga terbuat dari emas dan pada bagian matanya dari berlian. Tapi, sudah diamankan polisi saat itu juga,” kata lelaki kelahiran tahun 1931 itu menambahkan.
Ngirim menceritakan bahwa ia pernah menemukan sarung keris yang terbuat dari emas, serta beberapa peluru timah berbentuk bulat. Sarung keris berlapis emas itu kemudian ia jual ke Pasar Deli Tua Baru, sedangkan peluru-peluru timah itu ia lebur dan dijadikan sebagai vas bunga di rumahnya.
“Saya jual sarung keris itu waktu harga emas masih Rp 2.000 segramnya. Hampir semua penduduk di sini pernah menemukan uang logam emas Deraham itu, tapi pasti dijual. Terakhir masih ada yang menemukannya tahun kemarin,” kata Ngirim.
Satu-satunya penduduk yang masih menyimpan uang logam tersebut adalah seorang ibu, penduduk dusun yang sama, yang enggan disebut namanya. Uang emas berdiameter kurang dari satu sentimeter itu ditunjukkannya kepada Kompas untuk difoto. Berhiaskan kaligrafi dalam huruf Arab dan ukiran berbentuk bulat di sekeliling pinggiran lingkarannya, uang dirham itu memang tampak sangat tua. Penduduk setempat menyebut kaligrafi itu sebagai tulisan berbahasa Aceh.
Namun, baik Nambun maupun Ngirim mengakui, mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa uang logam tersebut bernilai sejarah yang tinggi. Mereka tidak mengerti bagaimana sebuah uang emas tipis seperti itu mampu mengungkapkan jati diri dan sejarah keluarganya. Ia hanya mengetahui bahwa uang logam tersebut terbuat dari emas 24 karat dan bernilai uang jika dijual.

Tahun 1973-1989
Kearah Penelitian Arkeologi
Penelitian dan ekskavasi arkeologis telah dilakukan di Kota Cina terutama oleh Edward McKinnon (1973, 1976, 1978), Mc. Kinnon et al., (1974), Bronson (1973), Suleiman (1976), Ambary (1978, 1979a, 1979b), Miksic, (1979), Wibisono (1981) dan Manguin (1989). Temuan-temuan spektakuler di situs seluas 36 Ha ini telah disimpan rapi di Museum Negeri Sumatera Utara berupa keramik, mata uang, batu berfragmen candi ataupun archa

Tahun 1975-1976
 Teluk Aru telah diteliti pada tahun 1975-1976 dan hasilnya adalah ”Pulau Kompei”. Diakui bahwa terdapat peninggalan di wilayah Teluk Aru, tetapi berdasarkan jalur hinterland kurang mendukung Teluk Aru sebagai satu centrum kerajaan. Seperti diketahui bahwa jalur dari Karo plateau maupun hinterland menuju pantai timur, dari utara ke selatan melalui gunung adalah: Buaya, Liang, Negeri, Cingkem yang menuju ke Sei Serdang maupun ke Sei Deli, Sepuluhdua Kuta, Bekancan, Wampu ke Bahorok. Maupun jalur sungai diantara Sei Wampu bagian hilir sekitar Stabat dan Sei Sunggal ke Belawan. Fokusnya diwilayah pantai diantara Sei Wampu dan Muara Deli (Catatan Anderson tentang pentingnya Muara Deli).

Tahun 19—
Pertalian antara etnis Aceh, Karo dan Melayu dalam sejarah Kerajaan Aru sendiri bisa dilihat dari pengangkatan panglima perang Kerajaan Aceh, Tuanku Panglima Gocoh Pahlawan, sebagai Sultan pertama Kerajaan Deli yang ia dirikan di sekitar wilayah eks Kerajaan Aru di Deli Tua. Pengangkatan ini merupakan langkah politis Raja Iskandar Muda untuk meredam upaya pemberontakan terhadap kekuasaan Aceh di wilayah tersebut. Langkah itu diperkuat dengan meminang seorang putri keturunan Karo. Kelak, pada akhir abad 19 salah satu Keturunan Panglima Gocah Pahlawan yakni Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah membangun Istana Maimoon, yang hingga kini masih berdiri tegak di tengah Kota Medan.
Semoga tulisan atau data-data singkat ini dapat menjadi acuan untuk mengetahuai sejarah tentang suku karo.
Sumber Dari Berbagai Sumber
Youtube: https://youtube.com/@Lagu_Karo_366