TARI LIMA SERANGKAI

Sejarah Tari
Tari Lima Serangkai diperkirakan tercipta sekitar tahun 1960, menurut Sempa Sitepu,dkk dalam bukunya Pilar Budaya Karo (1996:200). Menurut narasumber Bpk. Malem Ukur Ginting dalam wawancara manyatakan bahwa tari Lima Serangkai sudah ada sejak masyarakat suku Karo mengetahui tari kira-kira tahun 1956. Jadi dapat disimpulkan bahwa tari Lima Serangkai muncul sekitar tahun 1956-1960.

Tari Lima Serangkai merupakan salah satu tari yang berfungsi sebagai hiburan, seperti yang telah dikemukakan oleh salah satu pakar tari yaitu Soedarsono yang menyatakan bahwa fungsi tari terbagi atas tiga yaitu: tari sebagai upacara, tari sebagai pertunjukan, dan tari sebagai hiburan (Soedarsono, 1972:22). Ada beberapa tari taradisi yang berfungsi sebagai hiburan selain tari Lima Seranngkai dari etnis Karo, seperti: tari Piso Surit, tari Terang Bulan, tari Ndikkar, tari Gundala-gundala, tari Roti Manis, dan lain-lain (Sempa Sitepu,dkk,1996:200).





Tema Tari

Tema dalam tarian Lima Serangkai adalah unsur yang ada. Maksud unsur yang ada adalah merupakan kejadian atau pengalaman hidup yang sangat sederhana misalnya cerita rakyat, kepahlawanan, legenda, binatang dan lain-lain.
Namun demikian tema dalam tari Lima Serangkai merupakan sesuatu yang lazim, karena tujuan dari tari adalah komunikasi antara karya seni dengan masyarakat yang menikmatinya. Tari Lima Serangkai ini bertemakan pergaulan, pergaulan yang dimaksud adalah muda mudi Karo. Yakni pertemuan ramah tamah sepasang insan manusia yang berkenalan secara adat Karo (ertutur), kemudian secara tutur muda mudi ini dapat berteman dekat (berpacaran) dan akhirnya mereka menjalin hubungan kasih hingga sampai kejenjang pernikahan.


Struktur Pertunjukan Tari
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:246), pengertian struktur mempunyai arti pola hubungan komponen atau bagian satu organisasi. Struktur merupakan suatu sistem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasikan tugas orang dan kelompok orang agar tujuan tercapai. Sedangkan menurut Surayin (2001:574), dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menyatakan bahwa struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun yang sesuai dengan pola tertentu. Dari pengertian diatas maka yang dimaksudkan dengan struktur dalam penelitian ini adalah susunan atau unsur-unsur dalam tari Lima Serangkai pada masyarakat Karo.

Untuk melakukan pertunjukan tari Lima Serangkai yang dipersiapkan adalah 10 orang penari, yang terdiri dari 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Tari Lima Serangkai ditarikan oleh muda-mudi yang usia tidak dibatasi tetapi belum menikah. Biasanya penari dalam satu kelompok merupakan siswa-siswi yang tergabung dalam satu sanggar tari. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi penari Lima Serangkai, siapa saja bisa asalkan ada kemauan untuk belajar dan berusaha. Sebelum melakukan pertunjukan, para penari telah berlatih untuk melakukan keseragaman gerak tari.

Selain melakukan latihan tari, para penari juga harus mempersiapkan kostum tari. Kostum tari yang biasa digunakan para penari adalah kebaya, sarung, uis nipes dan tudung (beka buluh yang telah dibentuk menjadi penutup kepala) untuk penari perempuan. Baju kemeja,celana panjang, sarung, beka buluh 2 buah (1 diletakkan dipundak dan 1 dipegang ditangan). Pertunjukan tari Lima Serangkai sering ditampilkan dalam Gendang Guro-guro Aron dan acara Kerja Tahun. Gendang Guro-guro Aron dan acara Kerja Tahun biasanya dilakukan di sebuah balai terbuka (Jambur), dimana semua masyarakat kampung menonton penampilan tari. Dimasa sekarang ini tari Lima Serangkai juga sudah diperlombakan. Dibeberapa tempat di Tanah Karo sering dilakukan festival-festival tari Lima Serangkai. Festival tersebut diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah ataupun swasta, sekolah-sekolah, maupun gereja.


Tempat Penyajian Dan Waktu Pementasan
Untuk melakukan suatu kegiatan yang mengumpulkan banyak orang masyarakat Karo biasanya berkumpul di balai terbuka yang disebut Los/Jambur. Tari Lima Serangkai yang ditampilkan pada kegiatan Kerja Tahun (merdang merdem) dan Gendang Guro-guro Aron, ditampilkan di Jambur. Tari Lima Serangkai biasanya ditarikan diawal acara kegiatan, sebagai pembuka yang bersifat hiburan. Pelaksanaan Kerja Tahun (merdang merdem) dan Gendang Guro-guro Aron setiap tempat tidak selalu sama, hal ini disesuaikan dengan hasil kesepakatan masyarakat setempat.

Tari Lima Serangkai yang dibahas dalam tulisan ini adalah tari Lima Serangkai yang difestivalkan. Pelaksanan festival bisa dilakukan diluar ruangan (Outdoor) dan didalam ruangan (indoor). Hasil penelitian dari beberapa tempat, festival yang dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2009 bertempat di Open Stage, Berastagi merupakan pertunjukan outdoor dan pada tanggal 3 November 2010 di Hotel Sibayak, Berastagi merupakan pertunjukan indoor.


Pelaku
Dalam tari Lima Serangkai yang menjadi pelaku adalah penari. Penari merupakan bagian penting dalam pertunjukan tari Lima Serangkai karena penarilah yang mempertunjukkan tarian Lima Serangkai tersebut dan ia akan menjadi pusat perhatian dari penonton. Penari Lima Serangkai adalah muda mudi (umur tidak dibatasi), yang berpasangan. Biasanya jumlah penari 10 orang, dengan 5 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Dalam penentuan penari tidak ada cara khusus yang dilakukan, siapa saja bisa menjadi penari Lima Serangkai asalkan ada kesanggupan pemain untuk dapat menari dan waktu yang dimiliki para penari.

Para penari berlatih untuk mempelajari gerakan di sanggar-sanggar dimana mereka bergabung seperti sanggar PEMKAB Karo melakukan latihan di Pendopo Kantor Bupati Kabanjahe. Pelatih tari biasanya adalah orang-orang pemilik sanggar yang berpengalaman dalam tari Lima Serangkai, maksudnya pernah belajar tari Lima Serangkai, atau orang-orang yang bergerak dibidang seni tari (contoh guru tari, tokoh adat). Dalam masing-masing sanggar tari memiliki penari dan pelatih tari, yang berprofesi tidak hanya sebagai penari dan pelatih tari melainkan memiliki pekerjaan yang lain. Pada saat pertunjukan, penari akan saling berinteraksi dengan sesama penari diatas panggung dalam melakukan gerakan.

Tata Rias Dan Tata Busana Tari
Tata rias dan busana tari Lima Serangkai tidaklah terlalu istimewa, maksudnya tata rias dan tata busana masih menyerupai kebanyakan tari-tari tradisional Karo lainnya. Penggunaan tata rias dan busana disesuaikan dengan kondisi sehari-hari masyarakat setempat.Meskipun tari ini selalu dipersembahkan dihadapan banyak orang, namun tata riasnya hanya menggunakan rias cantik. Maksud dari rias cantik adalah tata rias yang digunakan tidak menggambarkan karakter atau tokoh tertentu. Busana tari Lima Serangkai yang digunakan dapat mendukung konsep dan tema tari.
Adapun kostum yang digunakan dalam pertunjukan tari Lima Serangkai yaitu:


1. Penari perempuan


  1. Kebaya, baju yang selalu dipakai oleh masyarakat Karo di setiap kegiatan adat dan pada saat menari.
  2. Sarung, merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh masyarakat Karo dalam kegiatan sehari-hari ataupun pada kegiatan-kegiatan adat.
  3. Tudung adalah beka buluh yang dibentuk menjadi penutup kepala penari perempuan.
  4. Uis nipes adalah kain adat berwarna merah yang merupakan ciri khas masyarakat Karo.





2. Penari laki-laki


  1. Baju kemeja, merupakan pakaian yang biasa digunakan oleh pria Karo dalam kegiatan adat dan acara-acara resmi lainnya.
  2. Celana panjang, pakaian pria yang digunakan saat kegiatan adat dan acara resmi.
  3. Sarung, merupakan pakaian yang digunakan masyarakat Karo dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan-kegiatan adat.
  4. Beka buluh, ada 2 beka buluh yang digunakan oleh penari laki-laki. Beka buluh yang diletakkan dipundak dan beka buluh yang dipegang ditangan. Beka buluh yang dipegang ditangan nantinya akan digunakan pada saat menari, dibentuk untuk penutup kepala yang disebut bulang-bulang.



Fungsi Tari
   Dalam masyarakat Karo tarian memiliki nilai keindahan, menarikan suatu tarian dapat dilakukan sendirian dan dapat juga dilakukan secara beramai-ramai. Tari tradisional Karo dapat dilihat dari bentuk dan acara pemampilannya dapat dibedakan atas tiga jenis yakni:

  1. Tari yang berkaitan dengan adat
  2. Tari yang berkaitan dengan Religi
  3. Tari yang berkaitan dengan hiburan

Tari Lima Serangkai adalah tari yang bersifat hiburan, yang biasanya ditampilkan dalam Gendang Guro-guro Aron dan Kerja Tahun. Selain bersifat hiburan tari juga memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat Karo. Menurut Soedarsono (1972:22) tari dapat berfungsi sebagai:


  1. Sarana upacara keagamaan yang masih kuat dengan unsur kepercayaan kuno.
  2. Sarana untuk mengungkapkan perasaan emosional (kegembiraan) dan pergaulan.
  3. Sarana pertunjukan untuk memberikan hiburan atau kepuasan batin manusia.

Sejalan dengan pendapat Soedarsono bahwa Tari Lima Serangkai termasuk dalam fungsi mengungkapkan emosional dan pergaulan, serta memberikan hiburan atau kepuasan batin.(Sumber : repository.usu.ac.id)

















Terkain:

0 comments:

Post a Comment